Transplantasi Sumsum Tulang Anak Akhirnya Bisa dilakukan di Indonesia
Setelah sekian lama dinanti, layanan transplantasi sumsum tulang untuk pasien anak akhirnya bisa dilakukan di Indonesia, tepatnya di Tzu Chi Hospital, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Dengan tim dokter, perawat, analis Lab, farmasi dan staf lainnya yang sudah terlatih secara profesional, layanan ini pun memberikan harapan baru bagi kesembuhan anak-anak yang mengalami kelainan darah seperti Talasemia atau keganasan darah seperti Leukimia.
Adalah Assyifa Salsabila Balqis (11) yang biasa dipanggil Syifa, pasien Talasemia Beta Mayor yang saat ini tengah menjalani rangkaian proses transplantasi sumsum tulang di Tzu Chi Hospital. Syifa akan mendapatkan donor sumsum tulang dari adiknya sendiri, Sultan Muhammad Alfatih (6) yang kecocokannya full match atau 100 persen.
Saat ini Syifa sudah masuk ke ruangan steril, ruangan BMT namanya, yakni Bone Marrow Transplant/Transplantasi Sumsum Tulang sejak hari Minggu, 12 November 2023. Sehari sebelumnya, Syifa terlebih dulu menjalani operasi pemasangan kateter khusus yang ditanam di area dada samping lehernya. Kateter ini berfungsi untuk memasukkan obat dan untuk mengambil darah.
“Karena nanti Assyifa saat sudah di dalam (di ruangan BMT), dia akan banyak masuk obat-obat yang sifatnya selain efeknya kuat, jumlahnya juga banyak. Kemudian karena di dalam dia istilahnya mendapatkan obat-obatan banyak itu dan akan menjalani jangka panjang pongobatannya bisa sampai 3-6 minggu itu dia akan juga akan dilakukan pemeriksaan darah rutin,” jelas dr Christopher Khorazon, anggota tim medis yang menangani Syifa.
Bisa sampai di titik ini, orang tua Syifa, Gerry Juliansyah (34) dan Kiki Kurnia Dewi (34) betul-betul dipenuhi rasa syukur yang mendalam. Biaya transplantasi sumsum tulang yang dijalani Syifa ini merupakan bantuan dari Tzu Chi Indonesia dan Tzu Chi Cabang Sinar Mas, serta Tzu Chi Hospital.
Gerry sendiri adalah seorang dokter umum yang bekerja di Perkebunan Katayang Estate milik Sinar Mas di Kalimantan Tengah, lima tahun terakhir. Dokter Gerry telah menjadi relawan tim medis Tzu Chi atau TIMA (Tzu Chi International Medical Association) yang aktif di berbagai misi kemanusiaan yang digalakkan Tzu Chi Cabang Sinar Mas.
“Saya enggak bisa ngomong apa-apa saking terharunya. Terima kasih, saya sampai pernah bilang ke dokter, ini pahalanya banyak banget ya, terima kasih, semoga Allah balas semua kebaikan. Tulus dari hati. Kalau ucapan terima kasih itu tidak cukup, yang jelas kami bersyukur banget bisa dibantu dengan pelayanan yang sangat-sangat bagus dengan fasilitas yang sangat-sangat memadai,” sambung Kiki, sang istri.
Syifa pertama kali diketahui mengidap Talasemia beta mayor pada bulan Oktober 2022 di Rumah Sakit Hermina Palembang. Keluarga ini memang berasal dari kota Palembang, Sumatera Selatan. Sejak Gerry bekerja di klinik perkebunan Sinar Mas di Kalimantan Tengah, keluarga ini pun pindah ke sana, ke Kalimantan Tengah. Namun di tahun ke-3, Syifa yang sebelumnya pernah bersekolah di Palembang pun meminta ingin kembali dan tinggal di Palembang.
Tak hanya sekali Syifa meminta pulang ke Palembang. Gerry dan Kiki pun tak kuasa menolak keinginan si sulung. Rupanya ada hikmah di balik keinginan kuat Syifa untuk kembali ke Palembang karena tak begitu lama, terungkap jika Syifa mengidap Talasemia.
Ketika Syifa ketahuan mengidap Talasemia, dokter pun menyarankan agar semua keluarga menjalani screening (pemeriksaan). Betapa terkejutnya Gerry dan sang Istri, ternyata bukan hanya Syifa saja yang mengidap Talasemia, tapi juga Khanza, anak keduanya. Sebuah pukulan yang sangat berat bagi keluarga ini.
“Sampai berapa bulan itu saya belum bisa berdamai dengan kenyataan,” kata Kiki.
Seorang dokter biasanya diasosiasikan dengan kondisi finansial yang mapan. Namun yang terjadi pada Gerry, kondisi ekonomi mereka baru membaik sejak Gerry bekerja sebagai dokter di perusahaan Sinar Mas, lima tahun terakhir. Keluarga Gerry juga bukan yang kekurangan namun jika harus membayar biaya operasi transplantasi sumsum tulang untuk Syifa, jelas tak tergapai.
Sementara itu alasan kenapa pengobatan Syifa difokuskan dulu ketimbang Khanza adalah karena Syifa sudah menemukan donor yang cocok, yakni Fatih. Namun Fatih tak bisa menjadi donor bagi Khanza karena tidak ada kecocokan. Namun selama ini transfusi darah secara rutin dijalani baik Syifa maupun Khanza setiap dua pekan sekali yang di-cover oleh layanan BPJS. Namun ada beberapa obat yang mesti dibeli sendiri.
Pasien Talasemia beta mayor memang memerlukan transfusi darah secara rutin seumur hidup. Tapi transfusi darah ini sifatnya hanya sebagai terapi gejala, seperti tambal sulam yang dia tidak menyembuhkan kondisi Talasemia tapi hanya melengkapi darah yang kurang.
Singkat cerita, Gerry pun berupaya berbagai cara untuk melakukan yang terbaik bagi kesembuhan kedua putrinya. Termasuk mengajukan bantuan melalui Tzu Chi Cabang Sinar Mas.
“Jadi ngobrol lah sama (relawan) Tzu Chi Cabang Sinar Mas, ‘saya kira-kira bisa enggak dibantu, saya memang kalau mau dibilang orang yang tidak berkecukupan mungkin tidak masuk kategorinya. Tapi kalau untuk masalah transplantasi kayak gini saya mungkin untuk dananya tidak mampu’. Dari perusahaan, dari Tzu Chi Cabang Sinar Mas positif tanggapannya,” cerita Gerry.
“Sampai sekarang ini kami banyak-banyak bersyukur bertemu Tzu Chi, tidak semua orang bisa kayak gini, mendapatkan pertolongan ini,” pungkas Gerry.
Fotografer : Erli Tan, Marcell (Tzu Chi Hospital),
Editor : Hadi Pranoto.