Gathering Relawan Misi Amal, Bukan Gathering Biasa
Sukacita dalam Melayani juga menjadi tema gathering ini, dihadiri 134 peserta dari perwakilan tujuh komunitas He Qi di Jakarta. Gathering yang dihelat Bakti Amal ini semacam penyegaran bagi relawan yang fokus di Misi Amal Tzu Chi. Acara dikemas sangat fun, namun kental dengan pelajaran hidup.
“Dari games Angin Berhembus ini juga melatih ketahanan kita karena begitu mau ganti kelompok kita kan harus langsung cari, harus sigap mencari kelompok kita. Jadi kita tidak pasif, duduk, atau berdiri menunggu orang cari kita. Jadi bagaimana kita bisa membantu orang kalau kita hanya pasif. Kita harus selalu menjemput bola istilahnya,” tutur Eli Widjaja, relawan Misi Amal di He Qi Barat 2 dengan raut wajahnya yang selalu bersemangat.
Di Games Angin Berhembus yang dibawakan Michelle dari Bakti Amal, para relawan ditantang untuk dengan cepat berkumpul dengan para relawan lain yang memiliki kesamaan. Misalnya yang ukuran bajunya sama, atau yang shio-nya sama, atau juga yang sama-sama memakai kacamata.
Tema Sukacita dalam Melayani, sangatlah pas di hati Elly. “Sangat kena di hati kami karena memang kalau kita bisa melayani dengan sukacita tidak akan ada kesusahan ataupun tidak capek. Memang capek iya kita kalau di Tzu Chi mengerjakan semua kegiatan, tapi karena ada sukacita di sana kita bisa dengan happy, pulang ke rumah dengan happy,” tambahnya.
Elly sendiri bergabung menjadi relawan Tzu Chi pada November 2008 dan sudah 15 tahun berkecimpung di misi amal. Sekian lama menjalankan misi amal, tak terbersit sedikitpun niat untuk berhenti. Tak lain karena ia selalu menjalaninya dengan sukacita.
Tak hanya Games yang bikin para relawan bergembira, drama yang ditampilkan tim Bakti Amal juga mengocok perut. Namun tentu banyak sisi edukasinya. Terutama bagi para relawan yang masih baru, jadi makin paham mekanisme pengajuan bantuan. Drama ini juga sekali lagi menunjukkan pada relawan bahwa sumbangsih mereka telah berdampak besar bagi orang lain.
“Drama yang dibawakan hidup sekali, dengan drama relawan dapat ilmu, juga terhibur, karena ada canda tawa, jadi lihatnya enggak tegang. Kadang-kadang drama itu sedih bagaimana, seolah-seolah kita sangat sedih dan sebagainya, kalau ini kan ada tawa candanya. Jadi sangat bervariasi sehingga kita nonton dramanya itu tidak ngantuk,” kata Veriyanto Ketua Xie Li Cikarang yang merupakan bagian dari He Qi Pusat.
Veriyanto datang bersama empat rekannya di Xie Li Cikarang. Pagi- pagi sekali mereka berangkat ke Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk dan tiba pada pukul 7.30 WIB. Tak rugi, Veriyanto dan para relawan mendapat banyak edukasi. Semangatnya untuk menjalankan Misi Amal pun bertambah. Semangat ini juga yang akan ia tularkan ke relawan lainnya di Cikarang.
“Dengan gathering misi amal ini juga memupuk persaudaraan yang mana kami berkumpul semua relawan yang fokus pada misi amal. Mendengarkan juga materi Shixiong Wie siong tentang mekanisme misi amal,” tambahnya.
Sekilas cerita tentang Veriyanto, ia bergabung menjadi relawan Tzu Chi pada tahun 2012. Enam bulan kemudian ia bergabung di tim Misi Amal. Pada tahun 2017, Tzu Chi Indonesia dan TIMA Indonesia menggelar baksos kesehatan berskala besar di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang. Rupanya melalui baksos ini banyak yang tertarik untuk bergabung menjadi relawan Tzu Chi karena melihat apa yang dilakukan Tzu Chi menyentuh hati mereka. Sebanyak 30 orang pun bergabung menjadi relawan dan mengikuti training Abu Putih. Pada tahun 2017 itulah terbentuk komunitas Xie Li Cikarang.
Tahun bertambah tahun tim misi amal Xie Li Cikarang yang tadinya hanya dua orang, dengan terbentuknya Xie Li kemudian berkembang menjadi 4 tim yang satu timnya terdiri dari 3-4 relawan. Di 2023 ini, tim Misi Amal Xie li Cikarang terus berkembang menjadi 7 tim.
Pada paparannya, Wie Siong, Fungsionaris Misi Amal Tzu Chi Indonesia mengingatkan kembali empat prinsip dalam bersumbangsih atau menjalankan Misi Amal, yakni benar, tulus, yakin, dan jujur.
“Dengan itu kita akan enjoy, kita tidak akan ada masalah dan kita tahu bahwa dalam proses sumbangsih kita atau berkegiatan di misi amal Tzu Chi, kita itu membantu orang, sekaligus belajar tentang kesabaran. Otomatis jam terbang kita makin tinggi, wawasan kita makin luas, dan yang terpenting lagi makin banyak orang yang bisa kita bantu, sesuai kebutuhan.” terangnya.
Wie Sioeng juga mengingatkan bahwa relawan adalah bagian dari kepanjangan cinta kasih dan welas asih Master Cheng Yen yang menyebarkan bibit-bibit kebaikan, bibit-bibit ketulusan dalam pelayanan dan pemberian bantuan kepada mereka yang menderita.
Berhasil mempersembahkan gathering yang fresh dan diterima dengan sangat baik oleh para relawan misi Amal, membuat Yully Kusnadi, Kepala Departemen Bakti Amal bersyukur. Acara ini ia siapkan bersama timnya secara intens sejak dua bulan yang lalu, termasuk berlatih drama.
“Drama ini ingin mengingatkan bahwa iniloh alasan kenapa kita melayani di Tzu Chi. Bahwa ada orang-orang yang tersentuh kehidupannya oleh kegiatan kita, oleh cinta kasih kita, dan mereka terubah. Di drama itu Ibu Saminah anaknya yang tadi tidak sekolah jadi sekolah. Lalu kami juga buat kompilasi video para penerima bantuan, seperti William yang tadinya tak bisa jalan sekarang sudah bisa jalan. Ibu Siti yang merindukan jalan dapat bantuan kaki palsu. Ada yang tak bisa dengar dibantu implant koklea jadi bisa dengar,” terang Yully.
Kesuksesan gathering ini rupanya didukung oleh berbagai pihak, misalnya Hery dari divisi finance yang menjadi operator, ada juga dari DAAI TV yang mendukung dari segi makanan.
“Kalau gathering itu lebih ke arah setiap orang itu butuh refreshing. Tapi refreshing yang warnanya Tzu Chi, makanya tadi ada sharing folosofi Tzu Chi, ceramah Master Cheng Yen, diingatkan kembali kenapa kita itu melayani di Tzu Chi. Motivasi yang mula-mula pertama kali gabung itu yang mau kita suntikkan kembali kepada relawan senior, dan yang baru gabung jadi mengerti,” pungkas Yuli.
Fotografer : Khusnul Khotimah,
Editor : Metta Wulandari.