Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi Ke-142 di Lampung: Tiga Puluh Tahun Hidup dengan Penyakit Hernia
Saat didatangi di kediamannya di daerah Kupang Teba, Lampung, Ismanto (42) terlihat sedang beristirahat mempersiapkan dirinya untuk hari besar yang telah dinanti-nantikannya, operasi hernia. Kebanyakan orang yang menderita hernia sering merasakan rasa sakit dibagian perutnya. Itu juga yang dirasakan oleh Ismanto sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Kurang lebih sudah 30 tahun lamanya ia menderita dan mencoba bertahan dalam kesakitan.
“Sejak kelas 5 atau 6 SD itu sudah kerasa ada benjolannya. Dulu air bersih susah jadi harus ambil air di sumur, saya timba terus angkat ke rumah dilakukan berkali-kali, kemungkinan besar karena itu hernianya muncul. Awalnya benjolan kecil, lama-lama semakin dewasa semakin membesar. Sekarang kurang lebih seperti bola tenis atau sekepal tangan ini,” cerita Ismanto sambil mengepalkan tangannya, menggambarkan benjolan hernianya.
Hingga di usianya yang sudah berkeluarga dan memiliki dua anak, tidak jarang Ismanto merasakan sakit tetapi sebisa mungkin rasa sakit itu ia sembunyikan. Ia berusaha untuk selalu kuat di depan Istri dan anak-anaknya. Sebagai kepala rumah tangga Ismanto sadar ia harus tetap berjuang mencari nafkah untuk kehidupan keluarga dan biaya sekolah kedua anaknya. Sudah tujuh tahun belakangan ini Ismanto mencari nafkah dengan bekerja sebagai ojek online, dan sejak itulah ia semakin sering merasakan sakit. Sebelumnya Ismanto bekerja serabutan.
“Kalau perjalanan yang dekat masih nggak terlalu terganggu, tapi saat perjalanan jauh itu sangat terganggu. Kendalanya kalau ketemu jalan yang jelek sakit banget di perut yang saya rasakan. Kalau kita istirahatkan duduk atau ditekan ke dalam udah nggak sakit lagi, cuma ketika saya berdiri sakitnya terasa lagi, kalau sudah begitu larinya ke pinggang juga,” keluh Ismanto. “Tapi harus terus dijalani demi mencari nafkah untuk istri dan anak, jujur di dunia ojek online ini sekarang lagi sepi banget tapi dicukup-cukupi dan bersyukur aja,” lanjut Ismanto dengan berlinang air mata.
Keinginan Ismanto untuk sembuh semakin kuat setelah ia merasakan hernia yang ia miliki semakin membesar dan semakin parah rasa sakitnya. Sang istri, Lisnawati (32) pun mendukung Ismanto untuk mendapatkan pengobatan, tetapi terkendala dengan biaya operasi yang mahal. Karena itulah Ismanto mencoba berobat alternatif, meskipun hasilnya masih jauh panggang dari api. Rasa sakit itu masih terus membayanginya.
“Begitu saya tahu suami saya mengidap hernia, saya terus dukung dia untuk berobat cari cara untuk bisa dioperasi. Saya kasih semangat terus, karena kan dia itu tulang punggung keluarga makanya saya selalu bilang ke dia, ‘kalau kamu sayang sama keluarga, kamu harus semangat untuk sembuh’,” kata Lisnawati.
Sabtu, 1 Desember 2023, hari yang dinanti pun tiba. Saat menunggu giliran untuk dioperasi Ismanto terlihat tampak gugup. Tetapi keinginannya untuk sembuh jauh lebih besar dari rasa takutnya. Ia terus menenangkan dirinya sambil berdoa.
“Ada rasa takut sih, tapi berusaha nggak mau mikirin hal-hal itu, dari tadi berdoa semoga operasinya lancar, bisa keluar dari ruang operasi dengan selamat dan bisa cepat sembuh, itu aja saya mikirnya,” ungkap Ismanto di ruang tunggu.
Tidak menunggu lama Ismanto dituntun para relawan Tzu Chi untuk masuk ke ruang operasi. Para perawat dan dokter membawa suasana dalam ruang operasi menajadi lebih tenang dan Ismanto juga diberikan kata-kata yang memotivasi untuk menghilangkan rasa takutnya. Ini membuat ismanto semakin yakin dan percaya ia berada di tangan para dokter yang tepat dan berpengalaman.
Selang satu jam operasi Ismanto selesai. Lisnawati yang setia menunggu suaminya merasa lega saat mengetahui operasi suaminya berjalan dengan lancar dan berhasil. “Alhamdullilah bersyukur banget ini yang dinanti-nantikan suami saya selama ini. Benar-benar kado terindah di akhir tahun untuk keluarga saya. Semoga bisa segera pulih kembali,” ungkap Lisnawati.
Setelah operasi, dokter yang mengoperasi datang memeriksa kondisi pasien.
“Selamat pagi Pak Ismanto, bagaimana kondisinya, ada keluhan?” kata dr. Tegoeh Winandar, Sp.B, sambil memeriksa jahitan.
“Kemaren sempat merasa sangat nyeri, Dokter, tapi sekarang alhamdullilah sudah tidak terlalu nyeri lagi,” jawab Ismanto.
“Oh iya itu wajar setelah operasi, apalagi karena sudah 30 tahun lebih jadi memang kemaren itu benjolannya sudah ada yang menempel dengan organ lainnya, jadi nggak papa itu efek setelah operasi, sehat-sehat ya, Pak, jangan beraktivitas yang berat-berat dulu,” kata dr.Tegoeh berpesan.
“Baik, Dokter. Terima kasih ya dokter, suster, makasih semuanya,” ucap Ismanto dengan senyum yang merekah.
“Sudah bisa berdiri, jalan juga sudah nggak sakit lagi, bekas operasinya juga sudah jauh membaik. Benar-benar masih belum percaya akhirnya hernia yang bisa dibilang melekat di hidup saya selama ini sudah hilang,” kata Ismanto haru ketika dikunjungi di rumahnya pascaoperasi. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tzu Chi yang telah “mengangkat penderitaannya” selama 30 tahun lebih.
“Saya nggak bisa bilang apa-apa selain terima kasih sebanyak-banyaknya buat Yayasan Buddha Tzu Chi, para dokter dan perawat, juga buat relawan yang sangat perhatian, sungguh suatu kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan,” ungkap Ismanto.
Setelah pulih, Ismanto berencana untuk berusaha lagi mencari nafkah untuk keluarga. Namun, kali ini ia memilih untuk bekerja yang lebih aman bagi kesehatan. “Mungkin berdagang,” kata Ismanto. Ia khawatir jika hernianya kambuh lagi jika bekerja yang terlalu menguras fisik. “Walau belum terpikirkan mau jualan apa, tapi saya yakin akan ada aja jalannya,” kata Ismanto optimis.
Fotografer : Clarissa Ruth,
Editor : Hadi Pranoto.