Welas Asih Tanpa Pamrih
Welas asih yang murni adalah ketika berada dalam kondisi atau situasi apapun, seseorang ingin membebaskan makhluk hidup dari penderitaan. Seperti halnya, jika kita melihat hewan kaki seribu di rumah kita, apakah kita akan membunuhnya atau sebaliknya kita akan melepaskannya? Bagi kita yang sudah memahami ceramah Master Cheng Yen, tentunya akan mengambil sebuah benda untuk melepaskan hewan tersebut keluar dari rumah kita. Namun tidak hanya itu saja, kita juga akan memastikan tempat pelepasan hewan tersebut tidak akan menyebabkannya celaka.
Seperti halnya yang dilakukan oleh sekelompok relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 2 terhadap seorang penerima bantuan Tzu Chi yang bernama Phan Kim Lan. Oma Phan Kim Lan (76), merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara. Kakak pertama oma sudah meninggal. Sedangkan, kakak kedua yang bernama Phan Mei Lan (78) dan adik laki-laki yang bernama Njauw Pie Tjauw (70), masih hidup dan tinggal dalam satu rumah. Oma mengetahui Tzu Chi dari relawan yang tinggal berdekatan dengan rumahnya. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengajukan permohonan bantuan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Pada tanggal 5 Desember 2021, sejumlah relawan Tzu Chi mengadakan survei awal ke rumah Oma Phan Kim Lan. Saat pertama kali melihat kondisi oma yang memiliki riwayat diabetes dan luka parah pada kakinya, mereka menyarankannya untuk kembali berobat ke dokter menggunakan jalur BPJS agar kondisi lukanya tidak semakin parah. Hasil meeting komunitas relawan akhirnya memutuskan bahwa Oma Phan Kim Lan akan menerima bantuan berupa biaya pengobatan yang tidak di-cover BPJS. Oma pun dibawa berobat ke Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi. Seiring waktu, luka oma pun sembuh dan pendampingan relawan masih tetap berlanjut hingga saat ini.
Saat kunjungan kasih pada tanggal 18 November 2023, sejumlah relawan berkunjung ke rumah Oma Phan Kim Lan. Setelah memasuki ruang keluarga, mereka mendapati kondisi oma yang duduk lemas tidak berdaya di kursi lipatnya. Di sekitar tubuhnya sudah dipenuhi kotoran dan sampah yang berserakan, sehingga menyebabkan lantai ruang tersebut menjadi basah dan kotor. Melihat kondisi tersebut, relawan merasa iba dan memutuskan untuk bergotong royong membersihkan badan oma serta membawanya ke UGD Rumah Sakit Duta Indah.
Di rumah sakit tersebut, ada Hundayani, seorang relawan Tzu Chi yang siaga untuk mendaftarkan BPJS. Saat itu, kondisi oma sangat lemah dan cukup mengkhawatirkan sehingga harus masuk ICU. Setelah dicek oleh dokter, ternyata di sekitar bagian belakang dan lipatan paha oma terdapat luka yang menyebabkan infeksi parah, sehingga diperlukan operasi pembersihan untuk mengurangi infeksinya.
Tiga hari berselang, tanggal 21 November 2023, kondisi oma sudah mulai membaik dan pindah kamar rawat inap sehingga Opa Njauw Pie Tjauw bisa mendampinginya. Saat relawan datang, oma bisa menyapa mereka. Opa yang ada di sana saat itu sempat mengatakan bahwa ruang perawatan tersebut sangat dingin. Hundayani berinisiatif pulang ke rumahnya untuk membawa beberapa pakaian dan jaket anaknya untuk diberikan kepada opa. Wajah opa terlihat sangat senang saat mengenakan baju pemberian Hundayani tersebut. Saat relawan hendak pulang, mereka sempat berpamitan dan berjanji kepada oma untuk mengunjunginya kembali. Oma menjawab dalam Bahasa Mandarin, “Orang baik akan berkunjung.”
Akhirnya, pada tanggal 23 November 2023, oma sudah bisa pulang ke rumah. Operasi baru akan dilakukan setelah kondisi oma membaik. Pemulihan sendiri bisa dilakukan di rumah sambil berobat jalan. Melihat kondisi oma tersebut, relawan menyusun jadwal untuk mendampingi oma ke rumah sakit.
Rasa syukur dirasakan Yuliana, seorang relawan Tzu Chi yang tengah berkunjung ke rumah Oma Phan Kim Lan saat itu. “Saat melihat kondisi oma duduk di kursi penuh kotoran, tentu saya bisa geli dan jijik. Tapi saya kesampingkan rasa itu, karena rasa simpati lihat keadaan oma,” ujarnya.
“Hati ini bersyukur untung saya ada pergi guan huai oma, luka oma bisa diobati dan dirawat di rumah sakit. Selama ini saya belum pernah bersihkan kotoran atau gantiin pampers orang tua, tapi saya berusaha membantu meringankan penderitaan oma saat itu,” tambahnya.
Tidak hanya oma saja, adiknya juga turut diperhatikan oleh relawan. Seperti pada 14 September 2023, saat relawan guan huai dan melihat kondisi Opa Njauw Pie Tjauw yang terbaring lemas di kasur. Opa bercerita bahwa dirinya keseleo saat mengangkat ember air di kamar mandi. Barulah keesokan malamnya, ia merasakan sekujur badannya sakit. Relawan yang tengah berkunjung langsung membawanya ke Puskesmas Kapuk Muara. Hasil diagnosa dokter mengatakan bahwa opa akan dirujuk ke dokter syaraf di Rumah Sakit Duta Indah.
Keesokan harinya, Hoklay dan sejumlah relawan Tzu Chi saling bekerjasama. Ada yang bertugas di bagian penjemputan, ada yang bertugas mengambil nomor antrean di rumah sakit, dan lainnya membelikan sarapan untuk opa. Berkat welas asih dan kasih sayang dari para relawan yang bergantian mengantar opa kontrol, akhirnya kondisi opa berangsur-angsur membaik sehingga bisa beraktivitas kembali.
Melihat kondisi gan en hu ini beserta keluarganya, Hoklay pun mengungkapkan perasaannya. “Karena yang tinggal di situ adalah tiga orang tua yang punya masalah dengan jasmaninya. Hal itu juga berdampak pada batinnya. Punya banyak kekhawatiran, ketakutan, kerisauan. Itulah permasalahan manusia,” ujar Hoklay. “Butuh para Bodhisattva memperhatikannya. Inilah ladang berkah tempat berlatih mengembangkan cinta kasih, belas kasih dan keseimbangan batin. Jangan tertular oleh kerisauan yang kita temui. Belajar tenang, tetap waspada, tetap yong xin.”
Malam itu, 12 Desember 2023, saat para relawan amal komunitas He Qi Utara 2 mengadakan meeting kunjungan kasih secara online, tiba-tiba relawan menerima kabar bahwa Opa Njauw Pie Tjauw telah meninggal dunia. Para relawan segera berkoordinasi dan berdiskusi untuk melakukan hal yang harus dilakukan, mulai dari pengurusan dokumen dan rumah duka, pencetakan foto, permohonan bantuan anggota Sangha untuk mendoakan, pengurusan kremasi opa hingga pelarungan abu opa ke laut.
Master Cheng Yen pernah berkata, “Ketidakkekalan, penderitaan dan kekosongan adalah kebenaran di dunia. Kehidupan bersifat sementara dan hanya sebatas tarikan napas. Kunang-kunang juga bisa memancarkan cahaya saat berkelompok sepenuh hati menyebarkan kebenaran demi kedamaian dunia.”
Fotografer : Dokumentasi He Qi Utara 2,
Editor : Khusnul Khotimah.