Kegiatan Internasional

Menghangatkan Hati di Dinginnya Musim Dingin di Ishikawa, Jepang

Sejak tanggal 13 Januari 2024, relawan Tzu Chi memberikan makanan hangat selama dua minggu kepada warga Amanizu di Perfektur Ishikawa, yang terkena dampak gempa bumi di Semenanjung Noto, Jepang. Meskipun kondisi cuaca menantang, para relawan tanpa kenal lelah mengangkut bahan-bahan, memasak dengan rajin, dan menyajikan makanan dengan sikap hangat dan sopan. Upaya mereka untuk meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Anamizu, yang tidak pernah melupakan kebaikan dan dedikasi para relawan Tzu Chi dalam menghadapi musim dingin dan salju.

Di luar Aula Komunikasi Anamizu Town Sawayama Pluto di Prefektur Ishikawa, relawan Tzu Chi menantang cuaca dingin dan bersalju untuk memasak makanan hangat bagi warga.

Ungkapan rasa terima-kasih dari Gubernur
Pada pagi hari tanggal 20 Januari 2024, sekitar jam 09 pagi, Gubernur Chihiro Watarai dari Perfektur Ishikawa mengunjungi Sawayama Communication Hall Pluto di Kota Anamizu untuk menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada relawan Tzu Chi atas kepedulian mereka kepada warga yang mengungsi di sana. Beliau juga mengunjungi tempat memasak dimana relawan Tzu Chi sedang menyiapkan makanan hangat; dia berterima kasih kepada mereka atas kehangatan yang telah mereka berikan selama periode ini. Relawan Tzu Chi Jepang datang bergiliran untuk mendukung upaya bantuan. Selain itu, mereka juga mengangkut pasokan makanan dari luar wilayah ke Anamizu; mendapatkan makanan lokal dalam jumlah besar di Perfektur Ishikawa masih merupakan tantangan.

Gubernur Prefektur Ishikawa, Chihiro Watarai (kiri), mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas dedikasi para relawan Tzu Chi.

Penggalangan dana di Tokyo dalam cuaca dingin
Mulai tanggal 21 Januari 2024, relawan Tzu Chi di Jepang juga telah melakukan kegiatan penggalangan dana di lokasi seperti Stasiun Shin-Okubo dan Stasiun Shinjuku di Tokyo, untuk mendukung upaya bantuan gempa bumi di Semenanjung Noto. Oran-orang yang lewat yang melihat para relawan memegang tanda tidak hanya berkontribusi dalam tindakan kebaikan tetapi juga memberikan dukungan dan semangat. Seorang wanita lanjut usia di Jepang, yang mengendarai sepedanya untuk menjemput cucunya sepulang sekolah, sangat terharu ketika mengetahui bahwa relawan Tzu Chi sedang menyediakan makanan hangat di daerah terkena bencana. Sambil menangis, dia mengungkapkan rasa terima-kasihnya dan berjanji kepada para relawan bahwa dia akan mengajari cucunya kan pentingnya berbuat baik dan membantu orang lain. 

Nenek asal Jepang ini menggunakan relawan Tzu Chi sebagai contoh untuk memberi tahu cucunya bahwa dia harus selalu melakukan tindakan kebaikan di masa depan.
Di jalanan Tokyo yang dingin dengan suhu serendah 7°C (44,6 °F), relawan Tzu Chi melakukan penggalangan dana untuk para penyintas gempa di wilayah Noto, Prefektur Ishikawa.

Kekuatan yang lahir dari pertukaran cinta kasih sangat luar biasa, dan para relawan berbaju biru putih telah mendapatkan kepercayaan dari warga Anamizu. Ikatan keakraban telah terjalin antara para relawan dan penerima makanan, seiring mereka berinteraksi dan mengenal satu sama lain. Meski ada hambatan komunikasi, salah satu relawan yang tidak bisa berbahasa Jepang, masih bisa berinteraksi dengan penerima makanan di Rumah Sakit Umum Anamizu. Mereka dapat bertukar senyuman dan melakukan percakapan yang menyenangkan menggunakan perangkat penerjemah. Entah mereka berbicara dalam Bahasa Jepang atau Bahasa Mandarin, percakapan mereka sepertinya tidak terpengaruh.
Ditengah salju musim dingin, relawan Tzu Chi bekerja tanpa lelah menyiapkan makanan hangat bagi warga di lokasi bencana. Sekalipun tangan mereka memerah karena kedinginan, hal itu telah menghangatkan hati banyak orang dalam prosesnya.

Sumber : www.global.tzuchi.org,
Fotografer : Fei Lin, Ya-cia Chen, dok. Tzu Chi Foundation,
Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.