Menanti Transformasi Rahang Baru Abidzar
Abidzar atau Abi, panggilan akrabnya, menderita penyakit hipoplasia mandibula yang ditandai dengan rahang bawah yang kurang berkembang). Penyakit ini terbilang ada, tapi jarang ditemukan hingga masuk dalam kategori langka. Drg. Henri Mudjono, Sp.BM., Dokter Gigi spesialis Bedah Mulut di Tzu Chi Hospital, menuturkan prevalensinya mungkin satu dari 14.000 kelahiran.
Lebih lanjut drg. Henri menjelaskan, selain masalah estetik pada wajah, kondisi sindrom yang berpengaruh pada terhentinya pertumbuhan rahang bawah ini berdampak pada kemampuan manusia dalam mengunyah makanan. Seperti Abi, selama dua tahun awal hidupnya hanya mengonsumsi makanan melalui selang NGT. Setelah dirasa siap betul, Abi baru dikenalkan dengan makanan lunak dan hingga sekarang masih kesulitan mengonsumsi makanan keluarga.
Dokter menambahkan, kondisi rahang bawah yang sangat kecil memang menyebabkan pasien kesulitan untuk mengunyah karena gigitan antara gigi rahang atas dan bawah tidak bertemu sehingga sangat berimbas pada asupan gizi dan makanan.
Dengan berbagai kondisi tersebut, Abi diharuskan untuk melakukan tindakan pemasangan distraktor. Distraktor sendiri adalah alat yang digunakan untuk pemanjangan atau pemindahan tulang guna memperbaiki defisiensi bawaan atau cacat, salah satunya yang terjadi pada mandibula (rahang bawah). Pemasangan distraktor ini nantinya memungkinkan pembentukan tulang baru dan adaptasi jaringan lunak secara bertahap.
Melalui operasi ini, tim dokter berusaha membentuk struktur yang jauh lebih baik hingga nantinya Abi bisa memperoleh gigitan yang pas dan bisa makan seperti anak-anak normal lainnya, sehingga bisa mengejar ketinggalan berat badannya.
“Dengan tindakan ini, kami berusaha merangsang pertumbuhan rahang bawahnya supaya bisa mengejar pertumbuhan rahang atasnya,” ucap drg. Henri.
“Saya merasa keluarga ini sangat luar biasa, karena melihat perjuangan Ayah dan Bunda Abi yang sejak awal bertemu Tzu Chi tidak meminta bantuan lain selain untuk mencarikan dokter. Untuk itu kami, Tzu Chi Medan sebisa kami selalu mendampingi untuk mencarikan dokter,” kata Juniaty, relawan pendamping Abidzar. “Sangat bersyukur karena jodohnya ada di Tzu Chi Hospital,” imbuh relawan komite Tzu Chi Medan ini.
Rasa syukur keluarga pun amat besar karena sejauh mereka mencari, akhirnya bisa bertemu dengan pengobatan yang tepat untuk anak kedua mereka. Nazaruddin, ayah Abi menuturkan kebahagiaan yang tak terkira karena penantian selama 4 tahun ini akhirnya terjawab. “Alhamdulilah kami sangat bersyukur dan mengucapkan banyak terima kasih,” kata Nazaruddin menyiratkan haru.
Sejauh cerita mereka, masa pandemi kala itu memberikan kendala yang besar, baik dari akses untuk pemeriksaan hingga konsultasi medis. Di sisi lain, perekonomian keluarga kecil ini sempat goyah karena sang tulang punggung keluarga mengalami pemutusan kerja.
Sebelum mengenal Tzu Chi, Nazaruddin dan Erni mengaku sempat merasa putus asa karena rumah sakit di Medan sudah tak sanggup dan menyarankan keluarga untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta. “Tapi sarannya tanpa kejelasan kami harus pergi ke mana, ke bagian apa, jadi kami buta arah,” kenang Erni.
Dari masa itu, mereka mencoba berhenti dan menenangkan hati untuk mencari jalan keluar. Saudaranya lah yang kemudian memperkenalkannya ke Tzu Chi hingga memperoleh pendampingan yang berarti. Walaupun tak kunjung ada kabar yang melegakan, namun pendampingan relawan selalu membawa kebahagiaan karena perhatian yang tulus terus berjalan.
Sempat pula ada dokter dari India yang menyatakan bisa mengobati Abi, tapi banyak hal yang perlu dipersiapkan mulai dari bahasa hingga akomodasi yang jauh lebih besar. Relawan pun mencari opsi lain lagi.
“Awalnya kami pikir, pokoknya kalau sudah ketemu dokter, sudah langsung bisa ada tindakan. Ternyata tidak semudah itu. Banyak juga tahapannya dan ternyata alatnya tidak ada. Mau bagaimana? Lalu karena belum menemukan titik terang, akhirnya sempat tuh kasus Abi ditutup. Tapi walaupun ditutup, relawan Tzu Chi terus mencari jalan keluar dan solusi lain,” terang Nazaruddin.
“Makanya setelah penantian 4 tahun, relawan Tzu Chi mengajak kami untuk mencoba konsultasi ke Tzu Chi Hospital. Alhamdulilah ada jodoh. Dari sekian lama kami berusaha, diberi jodoh sama Tzu Chi. Tzu Chi lah yang sampai sekarang mendampingi kami, membantu anak kami bisa dioperasi,” lanjut Nazaruddin tersentuh.
“Ini adalah satu dukungan dan kekuatan untuk orang tuanya karena kami pun merasakan bagaimana menjadi orang tua Abi. Terutama ibu ya, pasti berat mengantarkan anak masuk ruang operasi. Itu sudah menjadi satu bayangan yang mungkin ditakuti. Makanya kami datang menemani memberikan semangat,” ungkap Juniaty.
Relawan berkaca pada semangat dan keceriaan Abi yang selama ini terus tercermin dari kesehariannya. Itulah yang mereka bawa untuk kembali dibagikan kepada orang tua Abi.
Nazaruddin berharap setelah menjalani pengobatan yang panjang ini, anak laki-lakinya itu bisa makan dengan normal dan bersosialisasi dengan baik. Ia juga ingin anaknya bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat banyak, juga bisa berbagi seperti yang dilakukan oleh Tzu Chi kepada orang banyak.
“Semoga Abi juga nanti tidak memandang rendah orang lain ya,” imbuh ibunya. Hal ini diungkapkan karena Erni ingin berterima kasih kepada kerabat, saudara, maupun tetangga yang terus memberikan dukungan. Walaupun sempat down karena banyak yang tidak tahu dan menganggap Abi aneh, tapi seiring berjalannya waktu, semuanya tetap menerima dengan penuh kasih serta memperlakukan Abi dengan baik.
Juniaty juga membubuhkan doa terbaik untuk Abi dan keluarga. Semangat dan keceriaan yang dibawa oleh Abi tak lama lagi akan pulih kembali pascaoperasi. “Semoga semua tekad dan niat baik bisa terwujud dan membawa Abi serta keluarganya menjalani keseharian dengan lebih indah,” harap Juniaty.
Jurnalis : Metta Wulandari,
Fotografer : Metta Wulandari, Chandra Septiadi,
Editor : Arimami Suryo A..