Langkah Kecil, Dampak Besar
Walaupun nuansa gathering ini penuh dengan suasana santai dan keakraban, para relawan tidak melupakan esensi dari gerakan Tzu Chi itu sendiri. Sebelum acara dimulai, para peserta memberi penghormatan kepada Master Cheng Yen, menyanyikan Mars Tzu Chi, dan dilanjutkan dengan pembacaan 10 Sila Tzu Chi.
Salah satu acara utama adalah penjelasan mengenai arti Tzu dan Chi yang memiliki arti memberikan kebahagiaan dan menghilangkan penderitaan yang disampaikan oleh Listania Shijie. Selanjutnya materi dilanjutkan oleh Sukmawati Shijie yang menjelaskan mengenai “Jangan lupakan tahun itu, jangan lupakan orang yang ada saat itu dan jangan lupakan tekad saat itu.”
Sukmawati Shijie kemudian berbagi kisah awal jalinan jodohnya dengan Tzu Chi. Pada tahun 2005, Tzu Chi Singapura dan Malaysia mengadakan baksos kesehatan di Tanjung Balai Karimun. Dari kegiatan inilah tekad Sukmawati Shijie untuk menjadi relawan mulai tumbuh. Sejak saat itu, Sukmawati Shijie bersama temannya Ong Lie Fong Shijie aktif mengikuti kegiatan, mulai dari survei kasus dan kegiatan yang diadakan relawan Tzu Chi di Batam. Saat itu mereka berdua menggunakan sepeda motor untuk survei kasus dan meninjau rumah penerima bantuan. Meskipun belum memiliki pengalaman memadai, Sukmawati Shijie tetap menjalankan tanggung jawab dengan baik.
“Orang yang tepat adalah seseorang yang tersenyum ketika bertemu denganmu, dan seseorang yang kehadirannya membuatmu tersenyum,” ucapnya Sukmawati Shijie saat membawakan salah satu slide materi.
Relawan lainnya yang menceritakan pengalaman menjadi relawan Tzu Chi adalah Lissa. Sukacitanya menjadi relawan Tzu Chi dimulai pada tahun 2011 saat baksos kesehatan di Jelutung. Semenjak menjadi relawan dan seiring berjalannya waktu, Lissa mengerti bahwa dalam organisasi sosial pasti ada perbedaan pendapat. Dari situlah ia belajar bersikap lapang dada dan menerima perbedaan. Pada tahun 2012, Lissa mulai memikul tanggung jawab di Misi Pendidikan Tzu Chi di Tanjung Balai Karimun hingga sekarang. “Menjadi relawan Komite Tzu Chi bukanlah sudah tamat atau sudah sempurna. Tapi punya tekad untuk melatih diri dan belajar lebih tanggung jawab pada diri sendiri,” ucap Lissa saat membawakan materi.
Suami Megawati sempat bertanya kepadanya, mengapa dari Senin sampai Jumat bekerja, masih ada tenaga untuk membantu di Tzu Chi. Apakah tidak lelah dan stres? Megawati pun menjawab dengan pasti kepada suaminya. ‘Saya tidak merasa semua kelelahan dan stres selama di Tzu Chi’ ucapnya kepada suami. “Malah Tzu Chi saya anggap sebagai tempat untuk menghilangkan stres dan melupakan sementara semua beban kerja selama seminggu. Walaupun dari fisik kita capek, namun batin tetap senang,” jelas Megawati.
Setelah melalui rangkaian acara yang penuh inspirasi, kehangatan gathering semakin terasa dengan kegiatan makan bersama. Dengan semangat gotong-royong, para relawan menikmati sajian hangat ini sambil berbincang santai dan mempererat hubungan satu sama lain. Gathering ini bukan hanya menjadi momen kebersamaan, tetapi juga kesempatan untuk menguatkan kembali fondasi cinta kasih dan semangat melayani. Dengan hati yang dipenuhi kehangatan dan rasa syukur, para relawan siap melangkah bersama, membawa harapan baru untuk dunia yang lebih baik.
Melalui gathering ini, sekali lagi kita diingatkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada memberi dengan penuh keikhlasan. Semoga semangat ini terus tumbuh, menyebar, dan menginspirasi lebih banyak hati untuk berbuat baik. Karena di Tzu Chi, setiap langkah kecil penuh cinta adalah langkah besar menuju harmoni semesta.
Jurnalis : Siti Aminah (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Fotografer : Abdul Rahim, Calvin, Yoga (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Editor : Arimami Suryo A..