Kamp Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi 2025 : Memulai Kebahagiaan dengan Langkah Kecil yang Bermakna
Suasana penuh kehangatan mewarnai Kamp Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi 2025 yang digelar pada tanggal 22–23 Maret 2025 di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Dengan mengusung tema “Learn Love and Wisdom, Starting from the Little Things in Life,” kamp ini mengajak para peserta menemukan kebahagiaan dalam momen-momen sederhana.
Sejak pagi, sinar mentari menyapu lembut setiap sudut Tzu Chi Center, menyambut langkah-langkah kecil yang penuh semangat. Aula Jing Si mulai dipenuhi 228 murid yang siap menyelami nilai-nilai luhur. Kamp ini terbagi menjadi dua kelas sesuai tahapan belajar mereka.
Di Ruangan Xi She Ting, 145 murid Qin Zi Ban melangkah masuk dengan kepolosan sejernih embun pagi. Sementara di Fu Hui Ting, 83 murid Tzu Shao Ban menyelami kebijaksanaan yang lebih dalam.
Sejak pagi, sinar mentari menyapu lembut setiap sudut Tzu Chi Center, menyambut langkah-langkah kecil yang penuh semangat. Aula Jing Si mulai dipenuhi 228 murid yang siap menyelami nilai-nilai luhur. Kamp ini terbagi menjadi dua kelas sesuai tahapan belajar mereka.
Di Ruangan Xi She Ting, 145 murid Qin Zi Ban melangkah masuk dengan kepolosan sejernih embun pagi. Sementara di Fu Hui Ting, 83 murid Tzu Shao Ban menyelami kebijaksanaan yang lebih dalam.
Qin Zi Ban: Menanam Benih Kebajikan Sejak Dini
Sebagaimana pesan Master Cheng Yen, “Pendidikan anak adalah mengajarkan tata krama, mengasuh budi pekerti, menunjukkan jalan, dan memandu ke arah yang benar.” Kamp ini bukan sekadar pertemuan, melainkan sebuah perjalanan batin yang dipenuhi cahaya kebajikan.
Anak-anak Qin Zi Ban terbagi ke dalam 19 kelompok kecil, masing-masing terdiri dari 4–8 Xiao Pu Sa yang dibimbing dengan penuh perhatian oleh dua mentor. Tepat pukul 09.00 WIB, Candy Sun menyampaikan sambutan dalam bahasa Mandarin, diterjemahkan oleh Tjitra Dewi.
“Semangat kalian dalam belajar dan berpartisipasi membuat para Shigu dan Shibo merasa bangga dan bersyukur. Dalam satu tahun ini, kalian telah belajar banyak tentang prinsip kebajikan, menjadi lebih sopan dan penuh kasih sayang. Sejak kecil, kalian sudah mampu mewujudkan semangat cinta kasih yang besar. Inilah tujuan utama kelas Qin Zi Ban,” tutur Tjitra.
Anak-anak Qin Zi Ban terbagi ke dalam 19 kelompok kecil, masing-masing terdiri dari 4–8 Xiao Pu Sa yang dibimbing dengan penuh perhatian oleh dua mentor. Tepat pukul 09.00 WIB, Candy Sun menyampaikan sambutan dalam bahasa Mandarin, diterjemahkan oleh Tjitra Dewi.
“Semangat kalian dalam belajar dan berpartisipasi membuat para Shigu dan Shibo merasa bangga dan bersyukur. Dalam satu tahun ini, kalian telah belajar banyak tentang prinsip kebajikan, menjadi lebih sopan dan penuh kasih sayang. Sejak kecil, kalian sudah mampu mewujudkan semangat cinta kasih yang besar. Inilah tujuan utama kelas Qin Zi Ban,” tutur Tjitra.
Setelah sambutan, Ivanka dan Valerie mengajak anak-anak bermain “Put Your Finger Down” sebagai pemanasan. Satu per satu jari mungil mulai turun seiring pertanyaan yang diajukan apakah mereka pernah membantu teman, menghormati orang tua, atau berbagi dengan tulus. Di akhir permainan, mereka menyadari bahwa kebajikan bukanlah sesuatu yang jauh, melainkan sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Usai menikmati kudapan ringan, sesi berlanjut dengan tema “I Will Take Care of Myself – Little Organizing Expert”. Xiao Pu Sa diajak untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Dengan penuh semangat, mereka bergiliran membawa piring ke dapur, menata alat makan dengan rapi, mengikat kantong penyimpanan, serta menyusunnya sesuai budaya humanis Tzu Chi.
Selepas makan siang, Xiao Pu Sa bersiap mengikuti sesi ketiga, yang kali ini lebih spesial, mereka belajar menyiapkan camilan untuk break sore. Mengenakan hairnet dan sarung tangan plastik, mereka dengan penuh semangat mengikuti arahan Juny Leong dalam membuat empat menu sederhana namun menggugah selera: salad, sandwich, sushi, dan pie.
Usai menikmati kudapan ringan, sesi berlanjut dengan tema “I Will Take Care of Myself – Little Organizing Expert”. Xiao Pu Sa diajak untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Dengan penuh semangat, mereka bergiliran membawa piring ke dapur, menata alat makan dengan rapi, mengikat kantong penyimpanan, serta menyusunnya sesuai budaya humanis Tzu Chi.
Selepas makan siang, Xiao Pu Sa bersiap mengikuti sesi ketiga, yang kali ini lebih spesial, mereka belajar menyiapkan camilan untuk break sore. Mengenakan hairnet dan sarung tangan plastik, mereka dengan penuh semangat mengikuti arahan Juny Leong dalam membuat empat menu sederhana namun menggugah selera: salad, sandwich, sushi, dan pie.
Brigitte (8) dan Mika (12) tampak antusias. Mata mereka berbinar ketika tangan mungil mereka mengoles roti, menggulung sushi, dan menyusun salad dengan penuh perhatian. Ketika ditanya apakah mereka ingin mencoba membuatnya lagi di rumah, mereka mengangguk penuh semangat. Lebih dari sekadar memasak, sesi ini mengajarkan kemandirian dan kecintaan terhadap makanan sehat.
Setelah sesi memasak, tibalah momen penuh kehangatan dalam kegiatan “Setangkai Bunga untuk Papa-Mama” Sese dari He Qi Utara 1 dan Lily Lim dari He Qi Timur dengan sabar membimbing Xiao Pu Sa dalam membuat bunga dari kawat bulu, lengkap dengan kartu ucapan sebagai simbol kasih sayang kepada orang tua. Dalam suasana yang hangat, mereka diajarkan pentingnya menjaga perlengkapan dengan baik, agar setiap helai keindahan tetap utuh sampai tiba di tangan orang tua tercinta.
Hari itu pun ditutup dalam kebersamaan. Setelah bunga tersusun indah dan makan malam selesai dinikmati, anak-anak kelas Qin Zi Ban kecil berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu, anak-anak kelas Qin Zi Ban besar masih berkumpul untuk menonton film Up. Lewat kisah petualangan yang menghangatkan hati, mereka diajak merenungkan makna cinta kasih dan impian yang bisa diwujudkan dengan ketekunan.
Setelah sesi memasak, tibalah momen penuh kehangatan dalam kegiatan “Setangkai Bunga untuk Papa-Mama” Sese dari He Qi Utara 1 dan Lily Lim dari He Qi Timur dengan sabar membimbing Xiao Pu Sa dalam membuat bunga dari kawat bulu, lengkap dengan kartu ucapan sebagai simbol kasih sayang kepada orang tua. Dalam suasana yang hangat, mereka diajarkan pentingnya menjaga perlengkapan dengan baik, agar setiap helai keindahan tetap utuh sampai tiba di tangan orang tua tercinta.
Hari itu pun ditutup dalam kebersamaan. Setelah bunga tersusun indah dan makan malam selesai dinikmati, anak-anak kelas Qin Zi Ban kecil berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu, anak-anak kelas Qin Zi Ban besar masih berkumpul untuk menonton film Up. Lewat kisah petualangan yang menghangatkan hati, mereka diajak merenungkan makna cinta kasih dan impian yang bisa diwujudkan dengan ketekunan.
Tzu Shao Ban : Menyeimbangkan Nilai, Cinta, dan Kebijaksanaan dalam Hidup
Di tengah ruang Fu Hui Ting, Aula Jing Si lantai 2, suasana perlahan dipenuhi kehangatan. Suara lembut Pei Wen menggema, membuka perjalanan dua hari yang penuh makna. “Kebahagiaan sejati bukan datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam diri kita sendiri,” tuturnya, mengajak setiap peserta untuk sejenak merenung.
Ia lalu menjelaskan bahwa lagu Dao Xiang yang terdengar di ruangan itu memiliki makna yang erat dengan rumah dan keluarga. “Rumah adalah tempat pertama kita belajar. Hari ini, kita berkumpul untuk menebarkan cinta kasih. Benih itu telah ditanam oleh keluarga kita, dipupuk oleh Master Cheng Yen, dan disirami oleh ajaran yang menginspirasi kita untuk berbagi.”
Pei Wen mengingatkan bahwa cinta kasih tidak hanya tentang memberi, tetapi juga tentang belajar menerima dengan hati yang terbuka. “Untuk menumbuhkan cinta kasih, kita harus memulai dengan bersyukur. Lalu, kita perlu melatih kebijaksanaan.”
Pei Wen mengingatkan bahwa cinta kasih tidak hanya tentang memberi, tetapi juga tentang belajar menerima dengan hati yang terbuka. “Untuk menumbuhkan cinta kasih, kita harus memulai dengan bersyukur. Lalu, kita perlu melatih kebijaksanaan.”
Malam harinya, pembelajaran kembali diperdalam melalui sesi manajemen keuangan dan perencanaan hidup, dipandu oleh Novita dan Christine. “Apa hal pertama yang kalian lakukan jika mendapatkan uang?” tanya Novita.
Kaynan menjawab polos, “Aku langsung kepikiran buat beli barang yang aku mau.” Paramitha menimpali, “Aku sih biasanya simpan dulu, takut nanti butuh.”
Novita tersenyum dan berkata, “Keputusan finansial kita mencerminkan nilai dalam diri kita. Apakah kita hanya memikirkan diri sendiri, atau juga memikirkan orang lain?”
Peserta kemudian diajak untuk membuat anggaran sederhana—berapa yang harus disimpan, digunakan, dan didonasikan. Dalam diskusi kelompok, Kezia mengungkapkan, “Ternyata dengan sedikit berbagi, kita tetap bisa menabung tanpa merasa kehilangan.”
Kaynan menjawab polos, “Aku langsung kepikiran buat beli barang yang aku mau.” Paramitha menimpali, “Aku sih biasanya simpan dulu, takut nanti butuh.”
Novita tersenyum dan berkata, “Keputusan finansial kita mencerminkan nilai dalam diri kita. Apakah kita hanya memikirkan diri sendiri, atau juga memikirkan orang lain?”
Peserta kemudian diajak untuk membuat anggaran sederhana—berapa yang harus disimpan, digunakan, dan didonasikan. Dalam diskusi kelompok, Kezia mengungkapkan, “Ternyata dengan sedikit berbagi, kita tetap bisa menabung tanpa merasa kehilangan.”
Namun, ada sesuatu yang lebih bernilai dari sekadar materi. Dalam sesi terakhir, peserta diajak merenungi hadiah terbesar yang tak dapat dibeli dengan uang: ungkapan syukur kepada orang tua. Bersama Juny Leong, mereka membuat bunga kertas, menulis surat penuh cinta, dan menciptakan kupon kasih sayang, sebagai bentuk apresiasi kepada sosok yang tanpa lelah memberikan kasihnya.
Saat malam kian larut, kamp pun mencapai penghujungnya. Setiap peserta menerima sertifikat penyelesaian dan penghargaan kehadiran. Bukan sekadar formalitas, tetapi simbol dari perjalanan batin yang telah mereka lalui.
Saat malam kian larut, kamp pun mencapai penghujungnya. Setiap peserta menerima sertifikat penyelesaian dan penghargaan kehadiran. Bukan sekadar formalitas, tetapi simbol dari perjalanan batin yang telah mereka lalui.
Jejak Kasih yang Membekas
Tak hanya anak-anak yang belajar dan bertumbuh dalam kamp ini. Di antara riuh tawa dan semangat yang memenuhi ruangan, ada seorang ibu yang hatinya ikut berkembang bersama anak-anaknya. Erny (45), ibu dari tiga putra, merasakan getaran hangat dari setiap nilai yang diajarkan di Kelas Budi Pekerti. Dulu, pada tahun 2006–2007, ia sempat menjadi relawan, tetapi kesibukan keluarga dan pekerjaan membuatnya harus beristirahat sejenak. Kini, takdir membawanya kembali, bukan hanya sebagai seorang ibu yang mendampingi, tetapi juga sebagai seseorang yang kembali menemukan makna.
Ketiga putranya—Franklin Xie, Ferdinand Xie, dan Frederick Irvine Xie—kini aktif mengikuti kelas ini. “Seru ya, anak-anak bisa belajar banyak, bersosialisasi dengan teman-teman di Tzu Chi, belajar budi pekerti, berbakti kepada orang tua, dan memahami kegiatan-kegiatan humanis. Semua diajarkan di sini,” tuturnya dengan senyum yang mengembang. Ia pun ingin terus mendukung perjalanan ini, bukan sekadar dari jauh, tetapi dengan ikut turun tangan. “Sebenarnya ini sudah seperti jadi relawan kembali. Saya juga hadir bantu-bantu.”
Ketiga putranya—Franklin Xie, Ferdinand Xie, dan Frederick Irvine Xie—kini aktif mengikuti kelas ini. “Seru ya, anak-anak bisa belajar banyak, bersosialisasi dengan teman-teman di Tzu Chi, belajar budi pekerti, berbakti kepada orang tua, dan memahami kegiatan-kegiatan humanis. Semua diajarkan di sini,” tuturnya dengan senyum yang mengembang. Ia pun ingin terus mendukung perjalanan ini, bukan sekadar dari jauh, tetapi dengan ikut turun tangan. “Sebenarnya ini sudah seperti jadi relawan kembali. Saya juga hadir bantu-bantu.”
Di sudut lain ruangan, seorang gadis berdiri dengan tegap, mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai peran besarnya. Ivanka (15), dengan naskah yang telah ia pelajari berulang kali, kini berdiri sebagai MC kelas Qin Zi Ban. Begitu mengetahui dirinya terpilih, perasaannya bercampur aduk antara bangga dan gugup. “Aku bangga telah dipilih, tetapi di sisi lain aku juga merasa agak gugup karena ini pertama kalinya menjadi MC di acara sebesar ini,” ujarnya.
Namun, bukan skrip panjang yang menjadi tantangan terbesar, melainkan menjaga atensi anak-anak yang mudah terdistraksi oleh dunia kecil mereka sendiri. Baginya, kelas Budi Pekerti bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga rumah kedua—tempat di mana ia tumbuh dan menemukan makna.
Di tengah anak-anak yang penuh semangat, ada satu sosok yang menghadapi tantangan lebih besar, tetapi tetap melangkah dengan tekad yang sama. Viryadhi Tanoto (15), seorang peserta yang hidup dengan thalasemia, tak membiarkan kondisinya menghalangi langkahnya di kamp ini.
“Saya percaya bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalani setiap momen yang ada,” katanya dengan keyakinan yang kuat.
Jurnalis : Vincent Salimputra (He Qi Pluit), Metta Sari (He Qi Tangerang),
Fotografer : Valeska, Vincentius (Tzu Ching), Metta (He Qi Tangerang), Vincent (He Qi Pluit), Indra (He Qi Angke),
Editor : Khusnul Khotimah.
Namun, bukan skrip panjang yang menjadi tantangan terbesar, melainkan menjaga atensi anak-anak yang mudah terdistraksi oleh dunia kecil mereka sendiri. Baginya, kelas Budi Pekerti bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga rumah kedua—tempat di mana ia tumbuh dan menemukan makna.
Di tengah anak-anak yang penuh semangat, ada satu sosok yang menghadapi tantangan lebih besar, tetapi tetap melangkah dengan tekad yang sama. Viryadhi Tanoto (15), seorang peserta yang hidup dengan thalasemia, tak membiarkan kondisinya menghalangi langkahnya di kamp ini.
“Saya percaya bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalani setiap momen yang ada,” katanya dengan keyakinan yang kuat.
Jurnalis : Vincent Salimputra (He Qi Pluit), Metta Sari (He Qi Tangerang),
Fotografer : Valeska, Vincentius (Tzu Ching), Metta (He Qi Tangerang), Vincent (He Qi Pluit), Indra (He Qi Angke),
Editor : Khusnul Khotimah.