Merayakan Ulang Tahun Tzu Chi ke-59 dengan Sujud dan Renungan
Dalam rangka menyambut ulang tahun Tzu Chi yang ke-59, Tzu Chi Batam menggelar Ritual Namaskara, yang juga dikenal sebagai Chao Shan, pada tanggal 20 April 2025 di halaman Aula Jing Si. Melalui setiap langkah dan sujud, para peserta diajak untuk merenung, mensyukuri kehidupan, serta melepaskan ego. Kegiatan yang sarat makna ini diikuti oleh 206 peserta, yang terdiri dari relawan maupun masyarakat umum, semuanya hadir dengan hati yang tulus.
Setiap tiga langkah, para peserta memusatkan pikiran dan hati dalam setiap gerakan, bersujud dengan tangan menyentuh tanah dan dahi menyentuh bumi, sambil melafalkan nama Buddha dengan sepenuh hati. Sujud ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada Buddha, tetapi juga menjadi momen refleksi dan latihan diri yang mendalam. Melalui prosesi namaskara, para peserta diajak untuk menyucikan batin, menumbuhkan welas asih, serta memperkuat kesadaran akan pentingnya menjalani hidup dalam keharmonisan.
Setiap tiga langkah, para peserta memusatkan pikiran dan hati dalam setiap gerakan, bersujud dengan tangan menyentuh tanah dan dahi menyentuh bumi, sambil melafalkan nama Buddha dengan sepenuh hati. Sujud ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada Buddha, tetapi juga menjadi momen refleksi dan latihan diri yang mendalam. Melalui prosesi namaskara, para peserta diajak untuk menyucikan batin, menumbuhkan welas asih, serta memperkuat kesadaran akan pentingnya menjalani hidup dalam keharmonisan.
Rahmat, selaku koordinator kegiatan Ritual Namaskara, menjelaskan bahwa prosesi ini memiliki makna mendalam sebagai doa untuk kedamaian dunia. Namun lebih dari itu, Namaskara juga menjadi sarana bagi para relawan dan masyarakat yang terlibat untuk merenung dan mengikis keangkuhan diri sebagai bagian dari proses refleksi batin.
“Dalam ritual namaskara, kita bersama-sama bersujud hingga dahi menyentuh lantai. Itu melambangkan bagaimana kita belajar merendahkan diri, mengikis kesombongan, dan menyadari bahwa kita semua sejajar, sama rata dengan lantai,” jelasnya.
Rahmat juga mengungkapkan rasa syukurnya melihat antusiasme para peserta yang mengikuti prosesi namaskara dengan penuh kesungguhan hingga akhir.
“Harapannya, para peserta yang terlibat dapat mengikis noda batin dan keangkuhan dalam diri, serta menumbuhkan niat tulus untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Yang terpenting, melalui ritual ini, semoga tumbuh rasa sukacita dalam menjalani Dharma,” lanjutnya.
“Dalam ritual namaskara, kita bersama-sama bersujud hingga dahi menyentuh lantai. Itu melambangkan bagaimana kita belajar merendahkan diri, mengikis kesombongan, dan menyadari bahwa kita semua sejajar, sama rata dengan lantai,” jelasnya.
Rahmat juga mengungkapkan rasa syukurnya melihat antusiasme para peserta yang mengikuti prosesi namaskara dengan penuh kesungguhan hingga akhir.
“Harapannya, para peserta yang terlibat dapat mengikis noda batin dan keangkuhan dalam diri, serta menumbuhkan niat tulus untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Yang terpenting, melalui ritual ini, semoga tumbuh rasa sukacita dalam menjalani Dharma,” lanjutnya.
Agus, salah satu peserta Namaskara, menyempatkan diri untuk mengikuti ritual ini untuk kedua kalinya. “Saya merasa tentram, nyaman, dan penuh kedamaian setelah mengikuti namaskara ini,” ujarnya dengan wajah yang tampak tenang.
Ia juga menambahkan bahwa dalam keheningan saat bermeditasi, ia merasakan kedekatan yang lebih dalam dengan dirinya sendiri. “Melalui meditasi ini, hati saya menjadi lebih tenang hingga akhirnya saya merasakan kebahagiaan yang sederhana namun mendalam,” tambahnya.
Pengalaman mengikuti ritual Namaskara untuk pertama kalinya menjadi momen yang berkesan bagi Herman. “Di awal saat bersujud, rasanya masih biasa saja. Tapi setelah beberapa saat, mulai terasa nyeri di lutut. Prosesnya ternyata tidak mudah,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam keheningan saat bermeditasi, ia merasakan kedekatan yang lebih dalam dengan dirinya sendiri. “Melalui meditasi ini, hati saya menjadi lebih tenang hingga akhirnya saya merasakan kebahagiaan yang sederhana namun mendalam,” tambahnya.
Pengalaman mengikuti ritual Namaskara untuk pertama kalinya menjadi momen yang berkesan bagi Herman. “Di awal saat bersujud, rasanya masih biasa saja. Tapi setelah beberapa saat, mulai terasa nyeri di lutut. Prosesnya ternyata tidak mudah,” tuturnya.
Meski harus menahan rasa sakit, Herman mengaku kagum dengan semangat para peserta lain yang tetap konsisten mengikuti prosesi hingga akhir. Hal itu turut memotivasi dirinya untuk tetap bertahan dan menyelesaikan setiap sujud.
“Melihat semangat para relawan lainnya, saya merasakan kekompakan dan ketenangan. Kita juga harus menjaga barisan agar tetap rapi,” tambahnya. Herman pun mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya bisa menjadi bagian dari kegiatan penuh makna ini.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta juga menerima kue persik panjang umur (shou tao), yang melambangkan doa untuk kesehatan, kebijaksanaan, dan umur panjang.
“Melihat semangat para relawan lainnya, saya merasakan kekompakan dan ketenangan. Kita juga harus menjaga barisan agar tetap rapi,” tambahnya. Herman pun mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya bisa menjadi bagian dari kegiatan penuh makna ini.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta juga menerima kue persik panjang umur (shou tao), yang melambangkan doa untuk kesehatan, kebijaksanaan, dan umur panjang.
Relawan Dewi Soejati mengungkapkan rasa bahagianya melihat kebersamaan para relawan dalam mempersiapkan shou tao untuk peringatan ulang tahun Tzu Chi. “Seluruh proses pembuatannya berlangsung dengan tertata rapi. Saya merasa penuh sukacita. Suasananya hangat, seperti berada di rumah sendiri, ibarat seorang ibu yang berulang tahun, dan kita sebagai anak-anaknya berkumpul membuat kue bersama. Bedanya, yang berulang tahun kali ini adalah Master, dan kita para relawan adalah anak-anaknya,” ungkap Dewi dengan penuh kehangatan.
Ia pun menyampaikan harapannya dengan nada haru, “Seiring bertambahnya usia Tzu Chi, semoga jiwa kebijaksanaan para relawan pun terus tumbuh dan berkembang, melayani tanpa pamrih, seperti yang diajarkan oleh Master Cheng Yen.”
Jurnalis : Wendy (Tzu Chi Batam),
Fotografer : Andy Tan, Chandra, Emilia, Supardi (Tzu Chi Batam),
Editor : Metta Wulandari.
Ia pun menyampaikan harapannya dengan nada haru, “Seiring bertambahnya usia Tzu Chi, semoga jiwa kebijaksanaan para relawan pun terus tumbuh dan berkembang, melayani tanpa pamrih, seperti yang diajarkan oleh Master Cheng Yen.”
Jurnalis : Wendy (Tzu Chi Batam),
Fotografer : Andy Tan, Chandra, Emilia, Supardi (Tzu Chi Batam),
Editor : Metta Wulandari.