Menghimpun Ladang Berkah Melalui Pelestarian Lingkungan
Demi terciptanya upaya pelestarian lingkungan yang berkesinambungan dengan generasi penerus, relawan komunitas Titi Kuning mengadakan sosialiasi gerakan pelestarian lingkungan kepada sekitar 213 siswa-siswi SMP dan SMK Sekolah Putra Bangsa Berbudi (PBB) Deli Tua di kota Medan pada hari Kamis, 25 Mei 2025.
Jumin, selaku koordinator kegiatan, menyatakan bahwa mereka sangat bersyukur dapat berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk turut memupuk benih-benih harapan bangsa agar menjadi manusia yang berbudi luhur, yaitu teladan yang mampu menciptakan berkah bagi dirinya sendiri maupun orang lain di masa depan. Ia juga menyampaikan bahwa selain menjaga keseimbangan batin, Master Cheng Yen selalu berpesan agar selalu menjaga keselarasan alam guna menghindari bencana. Jumin juga berharap kolaborasi ini dapat berkelanjutan sehingga semakin banyak generasi penerus yang sadar akan pentingnya pelestarian lingkungan serta kiat-kiat yang dibutuhkan.
Jumin, selaku koordinator kegiatan, menyatakan bahwa mereka sangat bersyukur dapat berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk turut memupuk benih-benih harapan bangsa agar menjadi manusia yang berbudi luhur, yaitu teladan yang mampu menciptakan berkah bagi dirinya sendiri maupun orang lain di masa depan. Ia juga menyampaikan bahwa selain menjaga keseimbangan batin, Master Cheng Yen selalu berpesan agar selalu menjaga keselarasan alam guna menghindari bencana. Jumin juga berharap kolaborasi ini dapat berkelanjutan sehingga semakin banyak generasi penerus yang sadar akan pentingnya pelestarian lingkungan serta kiat-kiat yang dibutuhkan.
Mewakili pihak sekolah, Chairuddin Kuslan merasakan pentingnya untuk giat memupuk benih-benih cinta kasih dan kepedulian para anak didik terhadap lingkungan sehingga sumber daya alam yang ada dapat terus tercukupi untuk kebutuhan dan populasi manusia yang kian bertambah. Dengan demikian, masyarakat akan menjadi lebih damai dan harmonis.
“Sebagai pendidik, kami juga turut bersyukur dengan kesungguhan hati para relawan Tzu Chi dan berharap kolaborasi-kolaborasi yang selanjutnya untuk anak-anak didik yang kami cintai,” ucap Chairuddin Kuslan.
Dirinya juga menyambut dengan penuh sukacita dan berharap agar kita semua bisa terus memupuk benih-benih cinta kasih serta kepedulian para generasi muda terhadap lingkungan, sehingga mereka dapat terus memperoleh nilai-nilai kehidupan yang baik. Ia juga menegaskan bahwa sesungguhnya cinta kasih tidak hanya diwujudkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam semesta beserta isinya.
“Sebagai pendidik, kami juga turut bersyukur dengan kesungguhan hati para relawan Tzu Chi dan berharap kolaborasi-kolaborasi yang selanjutnya untuk anak-anak didik yang kami cintai,” ucap Chairuddin Kuslan.
Dirinya juga menyambut dengan penuh sukacita dan berharap agar kita semua bisa terus memupuk benih-benih cinta kasih serta kepedulian para generasi muda terhadap lingkungan, sehingga mereka dapat terus memperoleh nilai-nilai kehidupan yang baik. Ia juga menegaskan bahwa sesungguhnya cinta kasih tidak hanya diwujudkan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam semesta beserta isinya.
Di hadapan para hadirin, Budi Dharmawan menjelaskan tentang sejarah Tzu Chi dan misi pelestarian lingkungan. Ia menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah bentuk pembinaan diri dan cinta kasih kepada sesama. Master Cheng Yen selalu berpesan untuk hidup sederhana dan menerapkan daur ulang dalam kehidupan sehari-hari guna mengurangi sampah yang sulit terurai. Budi juga mengingatkan bahwa kerusakan alam akibat manusia bisa menimbulkan bencana dan konflik. Ia berharap dengan tekad membina diri dan melestarikan lingkungan, masyarakat dapat hidup damai dan harmonis.
“Dengan mengurangi kehidupan yang konsumtif dan berlebihan (keserakahan), sesungguhnya kita sudah turut andil dalam mengikis himpunan sampah-sampah yang tidak mudah terurai seperti misalnya plastik dan styrofoam hingga bermuara ke lautan atau tidak pada tempatnya,” tukas Budi. “Akibat ulah manusia, lahan hijau menjadi berkurang seiring dengan bertambahnya industrilisasi dan yang lebih parahnya adalah menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ketidak-selarasan alam tentunya menyebabkan bencana, wabah dan peperangan untuk memperebutkan sumber daya alam,” lanjutnya.
“Dengan mengurangi kehidupan yang konsumtif dan berlebihan (keserakahan), sesungguhnya kita sudah turut andil dalam mengikis himpunan sampah-sampah yang tidak mudah terurai seperti misalnya plastik dan styrofoam hingga bermuara ke lautan atau tidak pada tempatnya,” tukas Budi. “Akibat ulah manusia, lahan hijau menjadi berkurang seiring dengan bertambahnya industrilisasi dan yang lebih parahnya adalah menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ketidak-selarasan alam tentunya menyebabkan bencana, wabah dan peperangan untuk memperebutkan sumber daya alam,” lanjutnya.
Salah seorang siswa kelas IX yang hadir, Jerry, sangat terinspirasi oleh penjelasan tersebut dan merasa pentingnya menjaga serta melestarikan lingkungan. Ia menambahkan bahwa, sebagaimana disampaikan dalam materi, upaya merawat alam dan mengurangi beban bumi harus dimulai dari diri sendiri dan merupakan tanggung jawab bersama.
“Seperti yang kita ketahui salah satu penyebab banjir adalah ketiadaan lahan hijau yang memadai untuk mencegah erosi. Saya juga sadar bahwa terumbu karang mempunyai peran yang sama besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan juga membantu mengurangi pemanasan global,” kata Jerry.
“Seperti yang kita ketahui salah satu penyebab banjir adalah ketiadaan lahan hijau yang memadai untuk mencegah erosi. Saya juga sadar bahwa terumbu karang mempunyai peran yang sama besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan juga membantu mengurangi pemanasan global,” kata Jerry.
Selain Jerry, Eva yang saat ini duduk di bangku X juga berharap akan lebih banyak lagi sesi-sesi selanjutnya. “Acara hari ini sangat bermanfaat. Dari apa yang disampaikan, kami banyak mendapatkan pengetahuan tentang tata cara mengurangi sampah non-organik dan pencemaran lingkungan, serta konsep 5R Pelestarian Lingkungan yang bisa kita pakai sebagai penuntun hidup,” terang Eva.
Semua kegiatan hari ini bisa terkoordinasi dengan baik berkat kesungguhan hati dan cinta kasih kepada mereka para benih-benih harapan bangsa. Di akhir acara, Aini Lidjaya berharap agar mereka dapat menjadi panutan di masa depan. Ia mengingatkan bahwa masa depan bumi sebagai tempat tinggal kita merupakan tanggung jawab berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sesuai dengan yang disampaikan Budi, Aini juga menambahkan bahwa Master Cheng Yen selalu berpesan agar setiap orang turut melakukan satu kebaikan, sehingga kita semua dapat senantiasa terhindar dari bencana.
Jurnalis : Leo Rianto (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Leo Rianto, Liani, Sisilia (Tzu Chi Medan),
Editor : Metta Wulandari.
Semua kegiatan hari ini bisa terkoordinasi dengan baik berkat kesungguhan hati dan cinta kasih kepada mereka para benih-benih harapan bangsa. Di akhir acara, Aini Lidjaya berharap agar mereka dapat menjadi panutan di masa depan. Ia mengingatkan bahwa masa depan bumi sebagai tempat tinggal kita merupakan tanggung jawab berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sesuai dengan yang disampaikan Budi, Aini juga menambahkan bahwa Master Cheng Yen selalu berpesan agar setiap orang turut melakukan satu kebaikan, sehingga kita semua dapat senantiasa terhindar dari bencana.
Jurnalis : Leo Rianto (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Leo Rianto, Liani, Sisilia (Tzu Chi Medan),
Editor : Metta Wulandari.