Jalinan Kasih Sayang dan Cinta Kasih Agung Menyelimuti Dunia
Menjadi Bodhisattva dunia berarti bersedia bersumbangsih bagi mereka yang menderita di dunia. Terlebih bagi kalian yang berkecimpung di bidang medis. Baik dokter maupun perawat, kalian selalu berada di sisi orang yang sakit untuk mendampingi dan menghibur mereka. Saat mereka merasakan penderitaan dan kesakitan, dengan penuh cinta kasih, kalian hadir untuk menghibur mereka dengan kelembutan dan kehangatan.
Di dunia ini tidak ada obat mujarab yang dapat membuat seseorang hidup abadi. Setiap orang yang terlahir di dunia ini memiliki usia kehidupan yang terbatas dan jalan hidupnya masing-masing. Baik menganut keyakinan Kristen Protestan, Kristen Katolik, Taoisme, maupun Buddha, hal terpenting di dunia ialah ketulusan. Ketulusan yang sejati adalah hal yang paling mulia dan bernilai dalam kehidupan manusia.
Saudara sekalian, hendaknya kita menyebarkan kasih sayang di dunia. Setiap hari, saya selalu mengingatkan untuk memperpanjang jalinan kasih sayang dan memperluas cinta kasih agung agar kasih sayang Bodhisatwa dapat terus berlanjut dari kehidupan ke kehidupan. Mari kita membangkitkan tekad dan cinta kasih yang sama untuk mengasihi semua makhluk yang menderita di dunia. Jadi, janganlah kita meremehkan tetes demi tetes cinta kasih. Tanpa tetesan cinta kasih, bagaimana mungkin terwujud cinta kasih agung?
Enam puluh tahun yang lalu, gerakan 50 sen dimulai dari pasar tradisional. Di sana, para pedagang akan bertanya, “Untuk apa Anda menyisihkan 50 sen?” Relawan menjawab, “Jika saya menyisihkan 50 sen setiap harinya, dalam sebulan akan terkumpul 15 dolar NT.” Begitulah tetes demi tetes sumbangsih akan terhimpun dan menjadi banyak bagaikan butiran beras yang memenuhi bakul.
Saya sering membahas tentang Myanmar. Orang-orang yang menerima bantuan beras juga mendengarkan ajaran saya. Setiap kali memasak, mereka menyisihkan sedikit beras. Dalam sebulan, terkumpullah setumpuk kecil beras yang dapat digunakan untuk membantu orang lain. Begitulah cara jumlah yang kecil bisa menjadi besar.
Saat bakul demi bakul beras dikumpulkan, terbentuklah setumpuk besar beras bagaikan gunung kecil yang menjulang. Lihatlah, ketika banyak orang bersatu, kekuatan pun menjadi besar. Selama ada tekad, tetes demi tetes kebaikan yang terkumpul akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Jadi, Bodhisattva sekalian, hendaknya semangat dan prinsip kebenaran ini terus disebarkan.
Bukan hanya orang kaya yang bisa menolong orang lain. Orang yang kurang mampu pun, bisa jadi sangat kaya secara batin. Selama ada tekad untuk bersumbangsih, itu sudah menunjukkan kekayaan batin. Setiap tetes kebajikan yang terkumpul akan menciptakan berkah yang melimpah. Jadi, akumulasi tetes demi tetes kebajikan bisa mendatangkan berkah yang berlimpah.
Saya berusaha menjalin jodoh baik secara luas. Berkat jalinan jodoh, kalian pun merespons apa yang ingin saya lakukan. Saya sering berkata bahwa jodoh baik ini bukan baru dijalin di kehidupan sekarang, melainkan telah terjalin dari kehidupan ke kehidupan. Sejak waktu yang sangat lama, saya sudah menjalin jodoh di berbagai negara.
Walau dalam kehidupan ini saya tidak pernah meninggalkan Taiwan, tetapi saya telah menjalin jodoh baik di seluruh dunia. Selama seseorang memiliki jalinan jodoh, ia pasti dapat menerima bantuan dari insan Tzu Chi. Jadi, meski secara fisik saya tidak melangkah keluar, setiap hari saya tetap menciptakan berkah bagi dunia.
Insan Tzu Chi selalu mengasihi saya, mengikuti langkah saya, mendengarkan ajaran saya, dan mendengarkan Dharma setiap hari. Semuanya terus merespons apa yang saya ingin lakukan. Inilah yang disebut dengan jalinan jodoh.
Membangun ikrar bersama yang melampaui gunung dan lautan
Melindungi kehidupan dan melenyapkan penderitaan dunia
Butiran beras memenuhi bakul dan menciptakan berkah yang melimpah
Menghargai jalinan jodoh, mengasihi guru, dan melindungi Dharma
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 12 Oktober 2025
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Ditayangkan Tanggal 14 Oktober 2025