Training Tim Tanggap Darurat 2025: Ketika Relawan Ditempa, Ketangguhan Indonesia Terbangun
Dengan pendekatan holistik yakni menenteramkan raga, hati, hingga memulihkan kehidupan, Tzu Chi menjadi teladan dalam penanganan bencana di Indonesia. Komitmen ini tak lahir begitu saja melainkan tumbuh dari pengalaman panjang. Dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, Tzu Chi terus belajar dan memperkuat sistem tanggap daruratnya.
Seperti pelatihan relawan tanggap darurat (TTD) Tzu Chi yang digelar pada tanggal 16 – 17 Agustus 2025 lalu, yang diikuti oleh 157 relawan dari berbagai daerah. Melalui pelatihan ini, Tzu Chi Indonesia menempa para relawan tanggap darurat jadi lebih tangguh dan penuh empati. Relawan dibekali pemahaman mendalam mengenai penanganan bencana baik secara teori maupun praktik langsung di lapangan.
Selain praktik lapangan, materi teori juga memberikan kesan mendalam. Salah satu yang menyentuh adalah materi dari Dr. Wang Suryani, Sp.DVE., CHT., yang biasa disapa dr. Kimmy, anggota tim medis Tzu Chi Indonesia. Dr. Kimmy menjelaskan pentingnya kata-kata penuh empati dalam situasi bencana. Dalam penanganan bencana, peran relawan tak sebatas memberi bantuan logistik atau tenaga fisik. Lebih dari itu relawan juga dituntut mampu menghadirkan ketentraman jiwa bagi para korban.
Dr. Kimmy menekankan bahwa komunikasi memiliki peran penting dalam meredakan trauma korban. Kalimat sederhana yang penuh kelembutan dapat menurunkan kecemasan, menstabilkan detak jantung dan bahkan mengaktifkan kembali sistem penyembuhan alami tubuh. Sebaliknya, kata-kata yang salah justru dapat memperburuk kondisi psikologis korban. Ucapan seperti “wah parah banget” atau “jangan panik” harus dihindari karena kata-kata negatif dapat memperkuat rasa takut dan terekam dalam pikiran bawah sadar korban.
Untuk memudahkan relawan dalam membangun komunikasi efektif, Dr. Kimmy menjelaskan model CREDIBLE, yakni:
- C – Credibility (Kredibilitas): Penampilan dan suara relawan harus menenangkan.
- C – Confidence (Keyakinan): Bicara dengan penuh percaya diri agar korban ikut merasa aman.
- R – Rapport (Hubungan): Bangun ikatan melalui kontak mata, nada lembut, dan kepedulian.
- E – Expectation (Harapan): Tumbuhkan harapan positif, jauhkan kata-kata negatif.
- D – Directive (Arahan): Beri instruksi jelas, positif, dan spesifik.
- I – Imagery (Citra Mental): Gunakan kata-kata yang membangkitkan gambaran positif.
- B – Believability (Dapat dipercaya): Sampaikan informasi yang benar dan masuk akal.
- L – Literal Interpretation: Hindari kata-kata yang bisa ditafsirkan negatif secara harfiah.
- E – Enthusiasm (Semangat): Nada suara penuh energi dan optimisme akan menular pada korban.
Pengalaman Dr. Kimmy dalam mendampingi korban, mulai dari tragedi AirAsia hingga bencana di Lombok dan Padang, menunjukkan bahwa kehadiran relawan dengan tutur kata menenangkan mampu mempercepat pemulihan fisik dan emosional korban.
“Dalam kondisi darurat, satu kalimat yang tepat bisa menjadi pembeda antara kekacauan dan ketenangan, bahkan antara trauma berkepanjangan atau awal dari pemulihan,” tegasnya.
Nasib mempertemukannya dengan tsunami besar Jepang tahun 2011, yang menjadi laboratorium nyata untuk penelitiannya. Setelah menyelesaikan Ph.D. tahun 2012, ia diminta pemerintah Jepang untuk terlibat dalam rekonstruksi hingga tahun 2015.
Tahun 2018, Indonesia diguncang tsunami Palu dan tsunami Krakatau. Sistem peringatan dini terbukti tidak berjalan dengan baik. Hal ini membuat Presiden gusar dan mendorong evaluasi besar-besaran. Dari situ, Abdul Muhari diminta untuk ikut memperkuat sistem kebencanaan di Indonesia hingga akhirnya resmi bergabung dengan BNPB pada awal tahun 2020.
Dari pengalamannya hidup di Jepang pasca-tsunami tahun 2011, Abdul Muhari mencatat beberapa hal penting. Pertama tentang penanganan korban, dalam dua pekan pertama, pemerintah Jepang mengerahkan kekuatan militer terbesar pasca Perang Dunia II untuk fokus pada pembersihan jenazah. Media dilarang menampilkan gambar mayat agar tidak memperburuk kondisi psikologis masyarakat.
Lalu tentang kedisiplinan masyarakat. Di pengungsian, waktu itu 1.200 orang hanya dilayani 6 toilet, namun tetap terjaga kebersihannya. Anak-anak sekolah secara sukarela bergantian membawa air untuk membersihkan toilet tanpa perlu diperintah. Kemudian distribusi logistik yang tertib, bantuan makanan dibagikan sesuai jumlah pengungsi yang tercatat, sehingga tak ada yang kekurangan. Bahkan di toko swalayan, warga membeli hanya sesuai kebutuhan agar semua kebagian. Nilai solidaritas dan kedisiplinan inilah yang membuat Jepang mampu bangkit cepat dari bencana besar.
Sayangnya, banyak rumah warga tak tahan gempa. Misalnya, gempa Cianjur bermagnitudo 5,4 saja sudah merusak 16 ribu bangunan, sementara di Jepang, gempa lebih besar tidak menimbulkan kerusakan berarti karena kualitas konstruksi.
BNPB menekankan pentingnya mitigasi prabencana, antara lain: Edukasi kebencanaan melalui sanggar bencana dan Desa Tangguh Bencana. Juga penguatan rumah-rumah warga agar lebih tahan gempa. Serta pemanfaatan teknologi pemetaan risiko bencana melalui aplikasi InaRISK.
Tentang peran, BNPB memiliki fungsi penting pada saat darurat bencana yakni menggerakkan sumber daya lintas lembaga, termasuk TNI/Polri. Membentuk posko darurat sebagai pusat koordinasi logistik, informasi, dan operasi penyelamatan. Kemudian menyederhanakan prosedur pengadaan barang dan jasa, sehingga bantuan bisa segera sampai ke masyarakat tanpa terhambat birokrasi.
Namun, Abdul Muhari menekankan bahwa peran masyarakat tetap menjadi kunci. Relawan sebaiknya tidak hanya turun setelah bencana terjadi, tetapi juga aktif dalam edukasi prabencana, agar korban dapat diminimalisir. Indonesia tidak bisa menghindari bencana, tetapi bisa mengurangi dampaknya. Belajar dari Jepang, yang mampu bangkit cepat berkat kedisiplinan warganya dan sistem yang kokoh, Indonesia diharapkan bisa membangun budaya sadar bencana yang berkelanjutan.
“Bencana bukan soal budaya, tapi soal pembiasaan. Sistem harus dibangun dan terus diingatkan, sehingga masyarakat siap setiap saat,” tegas Abdul Muhari.
Dalam sesi berbagi pengalaman, Francisco Fernando, Disaster Management Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) menekankan pentingnya penerapan safeguarding dan kode etik dalam setiap respon bencana. Francisco yang akrab disapa Nando membuka sesi dengan mengajak peserta berinteraksi. Lebih dari separuh peserta ternyata memiliki pengalaman langsung dalam penanganan bencana, seperti di Palu dan Aceh.
Dari situ, ia menegaskan bahwa kerja kemanusiaan tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi juga harus berlandaskan pada prinsip-prinsip kemanusiaan internasional. Nando menjelaskan empat prinsip dasar yang diakui secara global dalam kerja kemanusiaan, yakni Humanity; menyelamatkan nyawa dan meringankan penderitaan manusia. Impartiality; bantuan diberikan berdasarkan kebutuhan, tanpa diskriminasi agama, suku, gender, atau status sosial. Neutrality: organisasi kemanusiaan tidak berpihak pada pihak manapun. Dan Independence: keputusan dan tindakan kemanusiaan tidak boleh diintervensi pihak luar.
Safeguarding, menurut Nando adalah upaya mencegah dampak buruk terhadap manusia maupun lingkungan dalam program kemanusiaan. Ia mencontohkan kasus bencana di Cianjur, di mana sumbangan air mineral dalam kemasan plastik justru meninggalkan timbunan sampah setelah relawan pulang. “Kadang niat baik kita bisa berdampak buruk jika tidak dipikirkan matang-matang,” jelasnya.
Di WVI, seluruh staf dan mitra wajib menandatangani kebijakan safeguarding. Hal ini mencakup pencegahan eksploitasi, pelecehan, hingga perlindungan anak dari praktik berbahaya seperti pernikahan dini. WVI bahkan menerapkan zero tolerance terhadap pelanggaran ini.
Francisco juga menekankan beberapa hal penting bagi relawan ketika terjun ke lapangan, di antaranya: Tidak melakukan eksploitasi dalam bentuk apapun, termasuk pertukaran bantuan dengan imbalan seksual. Menjaga komunikasi yang sehat dengan anak dan kelompok rentan, baik secara langsung maupun digital. Lalu memperhatikan budaya lokal agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Serta menjaga martabat saat mendokumentasikan korban atau situasi bencana, misalnya menghindari foto yang memperlihatkan penderitaan secara eksplisit.
“Jangan sampai kita menggalang dana dengan menjual penderitaan orang,” tegasnya.
Sebagai organisasi kemanusiaan yang fokus pada anak, WVI selalu memastikan prinsip kepentingan terbaik anak dalam setiap program. Misalnya, dengan menyediakan child friendly space (ruang ramah anak) di lokasi bencana agar anak-anak tetap mendapat perlindungan dan kesempatan belajar.
Di akhir sesi, Francisco mengingatkan bahwa seketat apapun mekanisme safeguarding dijalankan, tetap ada risiko pelanggaran. Karena itu, kesadaran individu dan komitmen bersama adalah kunci.
“Bekerja di bidang kemanusiaan bukan hanya soal menolong orang, tetapi juga soal menjaga martabat dan keselamatan mereka,” pungkasnya.
Pelatihan relawan tanggap darurat ini juga menjadi wujud nyata sinergi antara Tzu Chi Indonesia dengan BNPB dan WVI. Tzu Chi telah menjalin MoU dengan kedua lembaga tersebut, baik di bidang penanggulangan bencana, kesehatan, pendidikan, hingga pembangunan masyarakat. Dengan kolaborasi ini, diharapkan respons kebencanaan di Indonesia semakin terkoordinasi, cepat, dan berkelanjutan.
Saat tayangan dokumentasi bencana Palu diputar, Masda tak kuasa menahan air mata. Ia kembali teringat betapa dahsyatnya gempa dan tsunami tahun 2018 yang memorak-porandakan tanah kelahirannya.
“Saya menangis tadi. Waktu itu biar orang kaya, punya banyak uang, mau beli apa pun tidak bisa. Semua terputus. Jadi saya hanya berharap Indonesia aman dan damai. Saya berterima kasih kepada Tzu Chi. Bantuan Tzu Chi luas sekali,” katanya.
Melihat langsung ketulusan para relawan Tzu Chi membantu warga Palu menggerakkan hati Masda untuk menjadi relawan Tzu Chi. Meski sudah berusia 58 tahun Masda menegaskan dirinya tetap siap jika diminta turun ke lapangan saat terjadi bencana. “Insya Allah kalau sehat saya siap. Tapi saya juga mengajak anak-anak muda untuk ikut,” katanya.
Jurnalis : Khusnul Khotimah,
Fotografer : Arimami Suryo A.,
Editor : Fikhri Fathoni.