Bantuan Bagi Korban Banjir di Bali
Hujan deras yang mengguyur sejak tanggal 8-10 September 2025, menyebabkan Sungai Tukad Badung, Denpasar, Bali, meluap. Banjir pun melanda sejumlah kawasan di Denpasar, termasuk Wanasari, Kampung Jawa, hingga bantaran Jalan Hasanuddin. Derasnya arus air tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga menyeret lima bangunan ruko di bantaran sungai.
Hari Rabu pagi, 9 September 2025, sekitar pukul 06.35 WITA, warga dikejutkan oleh suara retakan dari bangunan di bantaran sungai. Beberapa menit kemudian, lima ruko ambruk ke aliran Sungai Tukad Badung. Salah satunya adalah toko kain milik Tasnim. Dari empat penghuni, hanya satu orang yang selamat meski mengalami patah tulang rusuk dan luka di kaki.
“Air sungai Tukad Badung naik sekitar jam tiga pagi. Tingginya sampai 50 cm di atas jembatan Hasanuddin. Lalu terdengar bunyi retakan, tiba-tiba bangunan langsung ambruk,” jelas Murkaja, keluarga korban. Dalam insiden ini, istri, anak, dan mertua salah satu pemilik ruko hanyut terbawa arus banjir.
Hari Rabu pagi, 9 September 2025, sekitar pukul 06.35 WITA, warga dikejutkan oleh suara retakan dari bangunan di bantaran sungai. Beberapa menit kemudian, lima ruko ambruk ke aliran Sungai Tukad Badung. Salah satunya adalah toko kain milik Tasnim. Dari empat penghuni, hanya satu orang yang selamat meski mengalami patah tulang rusuk dan luka di kaki.
“Air sungai Tukad Badung naik sekitar jam tiga pagi. Tingginya sampai 50 cm di atas jembatan Hasanuddin. Lalu terdengar bunyi retakan, tiba-tiba bangunan langsung ambruk,” jelas Murkaja, keluarga korban. Dalam insiden ini, istri, anak, dan mertua salah satu pemilik ruko hanyut terbawa arus banjir.
Selain ruko, permukiman di Kampung Jawa, Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja juga terendam dengan ketinggian air mencapai dua meter. Banyak warga tidak sempat menyelamatkan barang berharga. “Jam 5 air sudah masuk ke kontrakan saya. Saya tutup gerbang, tiba-tiba ditabrak air. Barang-barang saya habis semua, ada yang hanyut juga,” tutur Satino (74), warga Dauh Puri Kaja yang memiliki warung kelontong.
Kondisi serupa dialami Sanusi, penghuni rumah indekos. “Sekitar jam 3 pagi air masuk ke kamar. Saya bangunkan tiga orang penghuni lain. Untungnya semuanya selamat,” ujarnya.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam. Data dari BPBD Bali hingga hari Sabtu, 13 September 2025, mencatat 17 korban jiwa akibat banjir di Denpasar. Untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, Tim Tanggap Darurat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyalurkan uang pemerhati sebesar Rp. 1.500.000,- kepada masing-masing ahli waris untuk tujuh korban dari 17 korban banjir. Tak hanya itu, relawan juga membagikan 40 paket bantuan darurat banjir bagi warga Kampung Jawa. Paket ini berisi pakaian layak pakai, sarung, selimut, handuk, sandal, dan perlengkapan mandi.
Kondisi serupa dialami Sanusi, penghuni rumah indekos. “Sekitar jam 3 pagi air masuk ke kamar. Saya bangunkan tiga orang penghuni lain. Untungnya semuanya selamat,” ujarnya.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam. Data dari BPBD Bali hingga hari Sabtu, 13 September 2025, mencatat 17 korban jiwa akibat banjir di Denpasar. Untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, Tim Tanggap Darurat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyalurkan uang pemerhati sebesar Rp. 1.500.000,- kepada masing-masing ahli waris untuk tujuh korban dari 17 korban banjir. Tak hanya itu, relawan juga membagikan 40 paket bantuan darurat banjir bagi warga Kampung Jawa. Paket ini berisi pakaian layak pakai, sarung, selimut, handuk, sandal, dan perlengkapan mandi.
Ketua Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi Indonesia, Joe Riadi menyampaikan. “Hari ini kami bersama relawan Bali turun langsung melihat kondisi warga yang terdampak banjir. Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban dan memberi semangat bagi keluarga terdampak,” ujar Joe Riadi.
Bagi warga, bantuan ini menjadi perhatian yang tulus di tengah musibah. Satino, salah satu penerima bantuan, mengaku terharu. “Baru kali ini saya menerima bantuan berupa selimut, sarung, handuk, dan alat mandi. Biasanya hanya makanan. Terima kasih banyak atas perhatian ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Hal serupa juga diungkapkan Murkaja, keluarga dari korban meninggal dunia atas nama Farwa Husain. “Saya sangat berterima kasih sekali atas perhatian Yayasan Tzu Chi kepada keluarga kami. Bantuan ini bukan hanya materi, tapi juga perhatian yang tulus dari bapak-bapak yang datang jauh-jauh dari Jakarta,” ucapnya penuh syukur.
Bagi warga, bantuan ini menjadi perhatian yang tulus di tengah musibah. Satino, salah satu penerima bantuan, mengaku terharu. “Baru kali ini saya menerima bantuan berupa selimut, sarung, handuk, dan alat mandi. Biasanya hanya makanan. Terima kasih banyak atas perhatian ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Hal serupa juga diungkapkan Murkaja, keluarga dari korban meninggal dunia atas nama Farwa Husain. “Saya sangat berterima kasih sekali atas perhatian Yayasan Tzu Chi kepada keluarga kami. Bantuan ini bukan hanya materi, tapi juga perhatian yang tulus dari bapak-bapak yang datang jauh-jauh dari Jakarta,” ucapnya penuh syukur.
Di tengah duka akibat banjir, kehadiran relawan Tzu Chi memberi warna berbeda. Bantuan yang disalurkan tidak hanya berupa barang, tetapi juga menghadirkan dukungan dan bentuk perhatian khusus bagi warga untuk lekas bangkit dari musibah banjir ini. “Setiap aksi kemanusiaan relawan Tzu Chi Indonesia adalah wujud nyata cinta kasih tanpa batas. Kami ingin hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga dukungan agar warga lekas pulih dari keterpurukan,” pungkas Ricky Budiman.
Jurnalis : Anand Yahya,
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Arimami Suryo A.
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Arimami Suryo A.