Beramal Sekaligus Belajar Membuat Pupuk
Ini adalah kali pertama relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas, tepatnya Xie Li Pati menggelar penyuluhan pertanian. Para peserta antusias mengikutinya. “Sebagian besar umat tinggal di desa dan bermata pencaharian sebagai petani. Saya sangat berterima kasih atas partisipasi umat semua, pelatihan pembuatan pupuk ini diterima dengan sangat baik,” ucap Suwardi, salah satu relawan yang menjadi koordinator kegiatan kali ini. “Jadi kegiatan seperti ini sangat penting dan bermanfaat bagi para petani baik yang bertani di sawah maupun di kebun,” imbuhnya.
Ia menambahkan jika pupuk trico kompos juga memberikan banyak manfaat bagi pertanian baik itu lahan basah maupun kering. “Manfaat trico kompos bisa meningkatkan kesuburan tanah secara biologis, meningkatkan pertumbuhan dan meningkatkan produksi, bisa menekan serangan penyakit terutama penyakit pathogen tular tanah, dan aktivitas mikroba dalam tanah akan meningkat juga,” tambahnya.
Bahan dicampur di atas terpal kemudian ditutup rapat. “Tidak boleh sampai terkena sinar matahari langsung nggeh bapak ibu, kita tunggu hingga 21 hari,” ucap wanita yang akrab disapa Bu Nur ini.
Sementara itu, untuk bahan pembuatan pupuk organik cair (POC) berupa campuran urin sapi, air cucian beras, probiotik yang sudah jadi (EM4), tetes tebu, air kelapa, terasi, bekatul, sampah organik dapur, mpon-mpon, dan daun hijau (kelor).
“Semua bahan dimasukkan ke dalam tong, diaduk dan ditutup rapat, perlu dilapisi plastik agar benar-benar tertutup rapat,” ujar salah satu Penyuluh Pertanian Kecamatan Cluwak ini. POC pun juga tidak dibolehkan terkena panas agar berhasil pembuatan pupuknya.
Besarnya manfaat pupuk organik untuk pertanian dan perkebunan serta mudahnya cara pembuatan pupuk tersebut, ternyata bisa mengundang antusias para peserta. “Saya melihat bagi peserta dengan background pertanian mereka sangat antusias bahkan ada yang pingin praktek sendiri,” ujar Nurmiatun. Ia berharap para peserta bisa praktik mandiri di rumah atau komunitas masing-masing. “Sehingga nanti bisa melaksanakan kegiatan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan,” sambungnya.
Ketika pelatihan pembuatan pupuk organik pun, wanita 65 tahun ini sangat bersemangat. Setelah selesai kegiatan pun ia segera bergegas menemui Penyuluh Pertanian yang memberikan pelatihan untuk konsultasi lebih lanjut. “Nggeh, kanggene kulo pupuk organik niku penting. Lahane kulo sawah kalih kebon. Nak sawah biasane telas pupuk (kimia) 6 sak kagem pari (Iya, buat saya pupuk organik itu penting. Lahan saya sawah dan kebun. Kalau sawah biasannya habis pupuk kimia 6 karung untuk padi sekali panen),” ungkap Rukati.
Ia mengaku untuk kebunnya ditanami buah papaya California, durian, matoa, alpukat, dan petai. Maka menurutnya jika bisa membuat pupuk organik cukup membantu mengurangi anggaran untuk pembelian pupuk kimia. “Kulo nderek kelompok tani mbak angsal jatah 30 sak setahun. Tumbase sradi murah per sak niku hargane 135.000 nak wonten (Saya ikut kelompok tani dapat jatah pupuk 30 karung setahun. Belinya lebih murah per karung seharga 135.000 jika ada),” kata ibu satu anak ini. “Makane nggeh kulo pengen praktek damel pupuk organik (makanya saya ingin praktik bikin pupuk organik,” sambungnya.
Adapula Tarlan, umat Vihara Metta Menggala. Tanpa diminta, ia segera mengambil cangkul dan membantu mencampurkan kotoran kambing, dolomit, bekatul dan bahan lain untuk membuat pupuk trico kompos padat. Dengan lincahnya ia mengayunkan cangkulnya di atas terpal mencampurkan bahan-bahan yang sudah disiapkan. “Nggeh pengen saget ndamel (pupuk) supados mupuk kopi (Iya, ingin bisa membuat (pupuk) untuk memupuk kopi),” ujar Tarlan tersenyum. “Biasane kulo mupuk kopi nggeh ngagem kotoran kambing (langsung) mboten ngeteniki (biasanya saya memupuk kopi ya pakai kotoran kambing (langsung) tidak seperti ini (fermentasi),” sambungnya.
Selain datang untuk praktek pembuatan pupuk trico kompos, Tarlan juga turut hadir dengan membawa celengannya dari rumah, dengan antusias menuangkan celengannya bersama-sama umat Metta Manggala lainnya. “Untuk belajar berbagi kepada sesama,” katanya penuh semangat. Semoga kegiatan pelatihan di bidang pertanian ini dapat memberikan pengalaman baru, manfaat bagi para petani dan bisa dipraktikkan untuk lahan pertaniannya.
Fotografer : Dok. Xie Li Pati,
Editor : Khusnul Khotimah.