Layanan Kesehatan Gratis Hadirkan Harapan Baru Bagi 649 Warga di 30 Ilir Palembang
Bakti sosial kesehatan kali ini melibatkan 46 dokter, 32 apoteker, 14 analis, 30 perawat, dan 3 bidan yang bersinergi memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebanyak 591 pasien mendapat pemeriksaan langsung di lokasi, sementara 58 pasien lain dikunjungi tim medis di rumah masing-masing karena kondisi fisiknya lemah.
Sepekan sebelumnya, tepatnya pada tanggal 7 September 2025, sebanyak 112 relawan telah membagikan 810 kupon dengan berkoordinasi bersama RT/RW Kecamatan Ilir Barat II. Pendataan dilakukan agar layanan benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan, termasuk mereka yang tidak mampu datang sendiri ke lokasi.
Sepekan sebelumnya, tepatnya pada tanggal 7 September 2025, sebanyak 112 relawan telah membagikan 810 kupon dengan berkoordinasi bersama RT/RW Kecamatan Ilir Barat II. Pendataan dilakukan agar layanan benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan, termasuk mereka yang tidak mampu datang sendiri ke lokasi.
Menurut drg. Sefy, koordinator bakti sosial kesehatan umum sekaligus anggota TIMA, daerah ini memang termasuk wilayah dengan banyak warga yang membutuhkan layanan kesehatan. “Antusias masyarakat sangat tinggi. Banyak pasien sakit tetapi tidak bisa pergi ke rumah sakit, sehingga kami melakukan home visit. Harapannya, masyarakat tidak takut berobat dan tetap bisa mendapatkan pelayanan meski terkendala biaya, waktu, atau kondisi fisik,” jelasnya.
Bakti sosial ini tidak hanya bermanfaat bagi pasien, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi 116 relawan Tzu Chi Palembang yang turut berkontribusi. Dari kegiatan ini, lahir pula relawan baru, salah satunya Hardi (49).
Pada tahun 2022, Hardi pernah menjadi pasien katarak dalam baksos Tzu Chi. Ia merasakan sendiri pelayanan penuh kasih dari para relawan. Kini, di tahun 2025, Hardi hadir kembali, bukan sebagai pasien, melainkan sebagai relawan. “Di sini kita belajar toleransi. Saya berharap kegiatan ini terus ditingkatkan. Di tengah kesulitan ekonomi, masyarakat sangat terbantu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,” ungkapnya haru.
Tak hanya masyarakat, para tenaga medis juga mendapat pengalaman berharga. Salah satunya adalah drg. Irwan Effendy, SpA,c MBiomed dokter spesialis anak yang baru pertama kali mengikuti baksos Tzu Chi. “Seorang dokter punya kewajiban mengabdi kepada masyarakat. Sayangnya, wadah seperti ini belum banyak. Yayasan Tzu Chi salah satu yang konsisten, maka saya ikut pada baksos kali ini dan berharap ke depannya terus berlanjut,” tuturnya.
Pada tahun 2022, Hardi pernah menjadi pasien katarak dalam baksos Tzu Chi. Ia merasakan sendiri pelayanan penuh kasih dari para relawan. Kini, di tahun 2025, Hardi hadir kembali, bukan sebagai pasien, melainkan sebagai relawan. “Di sini kita belajar toleransi. Saya berharap kegiatan ini terus ditingkatkan. Di tengah kesulitan ekonomi, masyarakat sangat terbantu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,” ungkapnya haru.
Tak hanya masyarakat, para tenaga medis juga mendapat pengalaman berharga. Salah satunya adalah drg. Irwan Effendy, SpA,c MBiomed dokter spesialis anak yang baru pertama kali mengikuti baksos Tzu Chi. “Seorang dokter punya kewajiban mengabdi kepada masyarakat. Sayangnya, wadah seperti ini belum banyak. Yayasan Tzu Chi salah satu yang konsisten, maka saya ikut pada baksos kali ini dan berharap ke depannya terus berlanjut,” tuturnya.
Sementara itu, drg. Yoseph Bambang Supriyanto, yang turut memberikan penyuluhan kesehatan gigi, mengungkapkan perasaan bahagianya. “Bagi saya, membantu orang itu membahagiakan. Ketika mereka senang menerima bantuan, saya pun ikut bahagia,” ujarnya.
Masyarakat yang hadir juga merasakan langsung manfaat dari kegiatan ini. Ainun (62), salah satu pasien, merasa lega setelah berkonsultasi dengan dokter. “Saya ada diabetes dan kolesterol. Setelah diperiksa, hasilnya bagus. Dokter menyarankan saya melanjutkan obat yang ada. Saya senang sekali bisa diperiksa dengan telaten,” katanya.
Hal serupa dirasakan Abdul Gani (62) yang datang dengan keluhan kesemutan. Setelah pemeriksaan, kondisinya dipastikan aman. “Relawannya ramah, kami merasa diperhatikan. Terima kasih Tzu Chi,” ucapnya singkat.
Masyarakat yang hadir juga merasakan langsung manfaat dari kegiatan ini. Ainun (62), salah satu pasien, merasa lega setelah berkonsultasi dengan dokter. “Saya ada diabetes dan kolesterol. Setelah diperiksa, hasilnya bagus. Dokter menyarankan saya melanjutkan obat yang ada. Saya senang sekali bisa diperiksa dengan telaten,” katanya.
Hal serupa dirasakan Abdul Gani (62) yang datang dengan keluhan kesemutan. Setelah pemeriksaan, kondisinya dipastikan aman. “Relawannya ramah, kami merasa diperhatikan. Terima kasih Tzu Chi,” ucapnya singkat.
Sementara itu, Jawan S (79) mengetahui adanya baksos dari ketua RT yang mengabarkan langsung ke rumah. Ia datang dengan keluhan darah tinggi, asam urat, kaki bengkak, dan kolesterol. “Pelayanan kesehatannya bagus sekali. Penyakit-penyakit saya jadi ketahuan semua, lalu diberi saran oleh dokternya untuk menanggulangi dan mencegahnya,” ungkap Jawan.
Lebih dari sekadar layanan kesehatan, kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian antara relawan, tenaga medis, dan masyarakat. Dengan cinta kasih yang tulus, Tzu Chi berharap setiap pasien pulang bukan hanya dengan obat, tetapi juga dengan semangat dan harapan baru. Semoga benih cinta kasih dan kebajikan yang telah ditanamkan terus bersemi di hati masyarakat Palembang.
Jurnalis : Megawati (Tzu Chi Palembang),
Fotografer : Tim Zhen Shan Mei Palembang,
Editor : Anand Yahya.
Lebih dari sekadar layanan kesehatan, kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian antara relawan, tenaga medis, dan masyarakat. Dengan cinta kasih yang tulus, Tzu Chi berharap setiap pasien pulang bukan hanya dengan obat, tetapi juga dengan semangat dan harapan baru. Semoga benih cinta kasih dan kebajikan yang telah ditanamkan terus bersemi di hati masyarakat Palembang.
Jurnalis : Megawati (Tzu Chi Palembang),
Fotografer : Tim Zhen Shan Mei Palembang,
Editor : Anand Yahya.