Muneeb Menemukan Tujuan Hidupnya Sebagai Relawan Tzu Chi Di Thailand
Pada tahun 2013, seorang anak laki-laki bernama Muneeb dan keluarganya memulai perjalanan yang mengubah hidup mereka dari Pakistanke Thailand. Kini berusia 22 tahun, Muneeb merenungkan perjalanan yang ditandai dengan kesulitan yang luar biasa, namun juga oleh keberanian dan kegigihan yang tak tergoyahkan.
Masa kecil yang terganggu di Pakistan.
Kehidupan masa kecil Muneeb di Pakistan sederhana dan menyenangkan. Ia tinggal bersama ayahnya, seorang polisi di Lahore, Punjab, bersama ibunya yang seorang perumah-tangga, dan kaka laki-lakinya. Pagi-pagi disi dengan sarapan bersama, dan ayahnya akan mengantarnya ke sekolah dengan sepeda motor. Sepulang sekolah, Muneeb akan berjalan kaki pulang bersama sahabatnya. Momen-momen sehari-hari ini – seperti menikmati sluhsie dingin di sore musim panas yang terik atau bermain petak umpet saat listrik padam – menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Namun, dunia mereka hancur ketika para ekstrimis membakar sebuah komunitas. Ayah Muneeb, seorang pria yang berintegritas dan berani, mengajukan gugatan terhadap para pelaku di Pengadilan Tinggi. Upaya menegakkan keadilan harus dibayar mahal. Ancaman-ancaman anonim memperingatkan mereka untuk mencabut gugatan atau menghadapi bahaya. Meskipun ancaman semakin mengingkat, ayahnya tetao teguh, tekadnya untuk mendukung para penyintas tak tergoyahkan. Suatu hari, ketakutan terburuk mereka menjadi kenyataan : rumah Muneeb diserang. Menyadari keluarganya tidak lagi aman, ayahnya mencari perlindungan kepada kerabat, tetapi bahkan disana, rasa aman masih sulit diraih.
“Jika kami tetap tinggal, kami mungkin tidak akan hidup hari ini,” kenang Muneeb. Demi melindungi keluarganya, ayahnya membuat keputusan yang menyakitkan untuk meninggalkan segalanya dan melarikan diri ke Thailand.
Realitas pahit kehidupan pengungsi di Thailand.
Muneeb, yang saat itu baru berusia sebelas tahun, merasakan kegembiraan sekaligus kekhawatiran saat akan meninggalkan Pakistan. Sebagai anak yang berjiwa sosial, ia bercita-cita menjadi dokter dan ingin bertemu orang baru, meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya, dan memulai hidup baru. Namun, kenyataannya kedatangan mereka di Thailang sangat bertolak belakang dengan harapannya.
Pada tanggal 16 Juni 2013, mereka tiba di Bangkok dengan harapan tinggi. Kegembiraan awal berada di negara baru dengan cepat memudar saat mereka menjelajahi negeri yang asing. Karena salah arah dari seorang teman, mereka awalnya pergi ke Pattaya, bukan Bangkok. Butuh waktu hampir satu minggu untuk mengetahui bahwa aplikasi status pengungsi diajukan di kantor UNHCR di Bangkok. Mereka menempuh perjalanan berjam-jam dari Pattaya untuk mencapai kantor tersebut, hanya untuk menghadapi proses wawancara dan penilaian yang panjang. Hari itu, wawancara mereka baru selesai pada sore hari, dan baru setelah kembali ke rumah teman awahnya malam itu mereka menikmati makan pertama mereka. Karena tidak terbiasa dengan masakan Thailand, mereka kesulitan membeli makanan dari pedagang kaki lima.
Mereka menjalani wawancara berulang-kali dengan UNHCR, berpegang teguh pada harapan akan status pengungsi dan perlindungan PBB. Bertahun-tahun berlalu, tetapi berita yang mereka teruma sungguh memilukan: kasus mereka ditutup, dan UNHCR tak dapat berbuat apa=apa lagi. Ini berarti mereka tidak akan menerima status pengungsi resmi, maupun pemukiman kembali atau perlindungan apapun.
Penyesalan seorang ayah, Penghiburan seorang anak.
Sejak saat itu, Muneeb, diusia dua belas tahun, dan kakak laki-lakinya yang berusia tiga belas tahun menjadi harapan keluarga. Mereka menyadari bahwa hanya dengan kerja keras mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok mereka. Mereka dengan berani memberanikan diri untuk mencari pekerjaan. Namun, kenyataan pahit dunia luar menghadirkan banyak kendala, Usia muda dan kurangnya status hukum membuat banyak pemberi kerja ragu-ragu. Meskipun demikian, Muneeb dan kakak laki-lakinya tidak menyerah, terus-menerus mencari bantuan. Akhirnya pemilik perusahaan pengeras suara mendengar cerita mereka, merasa simpati yang mendalam, dan menawarkan pekerjaan kepada kakaknya.
Menemukan Tujuan Hidup di Klinik Tzu Chi.
Tzu Chi juga menyelenggarakan distribusi bantuan musim dingin bagi para pengungsi. Muneeb awalnya datang untuk menerima bantuan, tetapi melihat para pengungsi lain sibuk membantu mereka yang belum mendaftar, ia pun mengajukan diri untuk membantu. Saat ia mengenakan rompi sukarelawan Tzu Chi, ia menyadari bahwa ini lebih dari sekadar pekerjaan; ini adalah sebuah misi. Sejak saat itu, Muneeb terus belajar dan perlahan-lahan bertransformasi di bawah pengaruh budaya humanis Tzu Chi.
Di Klinik gratis Tzu Chi, Muneeb awalnya hanya belajar membuat kartu pasien dan mengunggah foto, lalu menyelesaikan pekerjaan untuk hari berikutnya. Namun, ia akhirnya ditugaskan untuk menerjemahkan di ruang konsultasi dokter, berinteraksi dengan banyak pasien. Ucapan terima kasih dan doa restu yang tak henti-hentinya dari para pasien membuat Muneeb menyadari pentingnya kontribusinya.
Transformasi melalui pelayanan.
Sejak bergabung dengan Tzu Chi, Muneeb telah mengalami transformasi batin yang signifikan. Di pekerjaan sebelumnya di perusahaan logistik, ia mudah marah dan sering berselisih dengan orang lain. Namun, di bawah bimbingan para relawan Tzu Chi yang sabar, ia perlahan belajar mengendalikan emosi, berempati, rendah hati, dan mendengarkan dengan saksama.
Di Klinik gratis Tzu Chi, pasien terus berdatangan. Muneeb terus melayani sesama pengungsi, perlahan-lahan merasa sukacita membantu orang lain. Kemampuan untuk membantu mereka yang membutuhkan dan terhubung dengan teman-teman memberinya kebahagiaan dan kepuasan yang luar biasa.
Saat ini, terlepas dari tantangan yang terus dihadapi dalam hidupnya, Muneeb terus mencari kesempatan untuk mendapatkan status penduduk tetap, berharap suatu hari nanti dapat hidup tanpa rasa takut atau khawatir. Apa pun yang akan terjadi di masa depan, ia sangat yakin bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk berkembang, yang membantunya menjadi pribadi yang lebih baik. Muneeb berterima kasih kepada Tzu Chi karena telah memberinya kesempatan untuk membantu orang lain, dan kepada semua insan Tzu Chi serta teman-teman di sekitarnya yang telah membantunya menyadari nilai dan kehangatan hidup.
Jurnalis : Budsara Sombut,
Fotografer : Pinticha Jansuksri, Budsara Sombut,
Diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris oleh : Mindy Chen,
Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.