Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-153: Selamat Tinggal Silau yang Menyiksa!
Selama bertahun-tahun Mimruwaida Umage (53) hampir tak pernah keluar rumah tanpa kacamata hitam berwarna pekat. Bukan supaya terlihat keren, tapi kebutuhan. Tanpa pelindung itu, silau matahari terasa menyiksa, matanya perih dan sulit dibuka.
“Kalau enggak pakai kacamata, saya enggak bisa nyebrang jalan. Ke depan rumah saja susah,” tuturnya. Makin gelap lensanya, makin nyaman dipakai.
Di pasar, ia selalu mencari kacamata dengan kaca besar hitam pekat. Tak jarang anak-anak yang nongkrong sekitar rumah menertawakannya, menyebutnya seperti artis. Ia diam saja, yang penting matanya terlindungi.
Rasa tak nyaman itu rupanya berasal dari pterygium yakni penebalan jaringan pada permukaan mata yang ia rasakan sejak sebelum pandemi Covid-19. Awalnya cuma seperti ada ganjalan tiap kali berkedip, terutama di mata kanan. Mata kiri belum terlalu terasa, meski dari luar justru tampak lebih tebal.
“Kalau enggak pakai kacamata, saya enggak bisa nyebrang jalan. Ke depan rumah saja susah,” tuturnya. Makin gelap lensanya, makin nyaman dipakai.
Di pasar, ia selalu mencari kacamata dengan kaca besar hitam pekat. Tak jarang anak-anak yang nongkrong sekitar rumah menertawakannya, menyebutnya seperti artis. Ia diam saja, yang penting matanya terlindungi.
Rasa tak nyaman itu rupanya berasal dari pterygium yakni penebalan jaringan pada permukaan mata yang ia rasakan sejak sebelum pandemi Covid-19. Awalnya cuma seperti ada ganjalan tiap kali berkedip, terutama di mata kanan. Mata kiri belum terlalu terasa, meski dari luar justru tampak lebih tebal.
Upaya mencari kesembuhan sempat ia lakukan, bahkan pernah memeriksakan diri ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dengan harapan bisa segera dioperasi menggunakan BPJS. Pemeriksaan lengkap dijalani dan ia dinyatakan siap operasi. Namun proses rujukan berjenjang membuat langkahnya terhenti.
Di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara, rumah sakit ia dirujuk, dokter justru menyebut kondisi matanya masih grade 1 dan belum perlu operasi. Ia diminta menunggu hingga grade 3.
“Saya bilang ‘Maksudnya nunggu sampai buta, Dok?’ Saya ceritain kalau di RSCM sudah bilang bisa operasi. Saya tunjukin semua suratnya, tapi tetap enggak bisa. Ya sudah, saya enggak bisa maksa,” katanya.
Kekecewaan itu membuatnya berhenti membayar iuran BPJS. Padahal sebelumnya ia rajin membayar karena ia tahu dengan membayar BPJS sebenarnya ia sedang menolong orang lain. Mimruaida memilih pasrah. Bertahun-tahun ia menahan perih dan silau. Jika mata terasa sangat kering, ia memarut ketimun, menyimpannya di kulkas, lalu menempelkannya ke mata agar terasa sejuk. Cara sederhana itu bisa membuatnya bertahan sekitar sepekan, sebelum perih datang lagi.
Mimruwaida tinggal sendiri. Tak memiliki anak, suaminya pun telah lama meninggal. Kini ia ditemani keponakan. Dalam keseharian, ia nyaris tak pernah ke klinik mata. Obat tetes yang pernah ia dapat hanya untuk meredakan iritasi, bukan penyembuhan.
Di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara, rumah sakit ia dirujuk, dokter justru menyebut kondisi matanya masih grade 1 dan belum perlu operasi. Ia diminta menunggu hingga grade 3.
“Saya bilang ‘Maksudnya nunggu sampai buta, Dok?’ Saya ceritain kalau di RSCM sudah bilang bisa operasi. Saya tunjukin semua suratnya, tapi tetap enggak bisa. Ya sudah, saya enggak bisa maksa,” katanya.
Kekecewaan itu membuatnya berhenti membayar iuran BPJS. Padahal sebelumnya ia rajin membayar karena ia tahu dengan membayar BPJS sebenarnya ia sedang menolong orang lain. Mimruaida memilih pasrah. Bertahun-tahun ia menahan perih dan silau. Jika mata terasa sangat kering, ia memarut ketimun, menyimpannya di kulkas, lalu menempelkannya ke mata agar terasa sejuk. Cara sederhana itu bisa membuatnya bertahan sekitar sepekan, sebelum perih datang lagi.
Mimruwaida tinggal sendiri. Tak memiliki anak, suaminya pun telah lama meninggal. Kini ia ditemani keponakan. Dalam keseharian, ia nyaris tak pernah ke klinik mata. Obat tetes yang pernah ia dapat hanya untuk meredakan iritasi, bukan penyembuhan.
Akhir Penantian
Buah dari kesabarannya, kesempatan untuk operasi pterygium akhirnya datang dari seorang teman yang dulu di masa pandemi pernah ia bantu menjaga anak, mengantar jemput sekolah, dan menemani belajar hingga malam. Teman itulah yang kembali menghubunginya, mengabarkan tentang Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-153, lalu langsung mendaftarkannya secara online.
Di antara 99 pasien yang menjalani operasi katarak, Mimruwaida adalah satu-satunya pasien pterygium. Ia merasa tak sendiri. Sejak awal hingga akhir, relawan mendampinginya.
“Yang bayar saja belum tentu dapat pelayanan kayak begini,” katanya terharu.
Sehari setelah operasi, pada hari Minggu, 14 Desember 2025, ia kembali lagi ke Tzu Chi Hospital, lokasi bakti sosial untuk membuka perban. Keponakannya dari Depok datang menemaninya.
“Alhamdulillah.. hasilnya memuaskan. Karena begitu perban saya dilepas, saya melihat cuaca itu lebih cerah, seperti abis pasang lampu LED,” ujarnya.
“Cuma kesannya jadi jomplang, mata kiri saya yang belum dioperasi tuh kalau buat melihat bareng-bareng dengan mata kanan kesannya kecil. Giliran mata kanan yang sudah dioperasi, bareng-bareng kayak besar semua, hahha…” jelasnya.
Karena itu ia sangat berharap Tzu Chi bisa mengadakan pengobatan gratis seperti ini lagi supaya mata kirinya bisa seterang mata kanannya setelah dioperasi.
“Apalagi kalau mata kiri yang belum dioperasi itu saya tutup ya Allah Alhamdulillah.. jadi pengen lagi, kalau misalnya nanti ada lagi, saya ingin ikut lagi, membersihkan lagi mata yang satunya,” harapnya.
Di antara 99 pasien yang menjalani operasi katarak, Mimruwaida adalah satu-satunya pasien pterygium. Ia merasa tak sendiri. Sejak awal hingga akhir, relawan mendampinginya.
“Yang bayar saja belum tentu dapat pelayanan kayak begini,” katanya terharu.
Sehari setelah operasi, pada hari Minggu, 14 Desember 2025, ia kembali lagi ke Tzu Chi Hospital, lokasi bakti sosial untuk membuka perban. Keponakannya dari Depok datang menemaninya.
“Alhamdulillah.. hasilnya memuaskan. Karena begitu perban saya dilepas, saya melihat cuaca itu lebih cerah, seperti abis pasang lampu LED,” ujarnya.
“Cuma kesannya jadi jomplang, mata kiri saya yang belum dioperasi tuh kalau buat melihat bareng-bareng dengan mata kanan kesannya kecil. Giliran mata kanan yang sudah dioperasi, bareng-bareng kayak besar semua, hahha…” jelasnya.
Karena itu ia sangat berharap Tzu Chi bisa mengadakan pengobatan gratis seperti ini lagi supaya mata kirinya bisa seterang mata kanannya setelah dioperasi.
“Apalagi kalau mata kiri yang belum dioperasi itu saya tutup ya Allah Alhamdulillah.. jadi pengen lagi, kalau misalnya nanti ada lagi, saya ingin ikut lagi, membersihkan lagi mata yang satunya,” harapnya.
Mimruwaida bersyukur dengan berkah yang ia terima melalui Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-153. Karena itu sesampainya di rumah, ia benar-benar mengikuti arahan dari dokter dan juga apoteker TIMA Indonesia, baik terkait penggantian perban maupun konsumsi obatnya.
“Saya lihat suasana rumah cerah semua,” katanya lagi seolah kalimat demi kalimat terlalu sedikit untuk menggambarkan kebahagiaannya.
Di antara puluhan pasien katarak, Mimruwaida menjadi satu-satunya pasien pterygium yang ditangani dalam bakti sosial ini. Dokter Antonius Dwi Juniarto, Sp.M., menjelaskan bahwa jumlah kasus pterygium sangat bergantung pada wilayah dan hasil screening.
“Pterygium biasanya dipicu paparan sinar ultraviolet. Kalau di sini sudah jarang yang kerja di ladang kan. Di kawasan perkotaan, kasusnya memang tidak sebanyak katarak,” ujarnya.
Dari sisi tindakan, operasi pterygium relatif lebih ringan karena tidak memerlukan penggantian lensa. “Hanya membuang selaput di permukaan mata, seperti mengangkat stiker,” kata dokter Antonius. Meski begitu, durasi tindakan bergantung pada tingkat keparahan dan dalam beberapa kasus bisa memakan waktu lebih lama dibanding operasi katarak.
“Saya lihat suasana rumah cerah semua,” katanya lagi seolah kalimat demi kalimat terlalu sedikit untuk menggambarkan kebahagiaannya.
Di antara puluhan pasien katarak, Mimruwaida menjadi satu-satunya pasien pterygium yang ditangani dalam bakti sosial ini. Dokter Antonius Dwi Juniarto, Sp.M., menjelaskan bahwa jumlah kasus pterygium sangat bergantung pada wilayah dan hasil screening.
“Pterygium biasanya dipicu paparan sinar ultraviolet. Kalau di sini sudah jarang yang kerja di ladang kan. Di kawasan perkotaan, kasusnya memang tidak sebanyak katarak,” ujarnya.
Dari sisi tindakan, operasi pterygium relatif lebih ringan karena tidak memerlukan penggantian lensa. “Hanya membuang selaput di permukaan mata, seperti mengangkat stiker,” kata dokter Antonius. Meski begitu, durasi tindakan bergantung pada tingkat keparahan dan dalam beberapa kasus bisa memakan waktu lebih lama dibanding operasi katarak.
Bekerja dari Hati
Kesempatan yang diterima Mimruwaida tak hadir begitu saja. Ada rangkaian persiapan panjang yang memastikan setiap pasien dilayani dengan baik. Dalam alur kerja itulah Yekti Tami, staf administrasi TIMA Indonesia mengambil peran penting.
Selama 14 tahun Tami, panggilan akrabnya, memegang seluruh urusan administrasi TIMA Indonesia. Meski jabatannya terdengar sederhana, tanggung jawab yang ia emban tak pernah ringan. Hampir tiap pekan, ia terlibat dalam persiapan bakti sosial dari skala kecil hingga besar, yang tersebar dari Jawa hingga luar pulau.
“Tahun ini jadwal TIMA memang banyak. Di antara baksos skala besar, ada banyak baksos kecil,” jelasnya.
Sepanjang tahun ini TIMA Indonesia menggelar tujuh bakti sosial kesehatan besar, mulai dari Berau, Kalimantan, hingga Surabaya dan Bandung serta lebih dari lima puluh bakti sosial kesehatan skala kecil, yang sebenarnya tak kecil juga. Semua itu menuntut persiapan jauh hari terutama urusan logistik dan farmasi.
“Begitu selesai di satu kota, alat operasi sudah harus langsung dikirim ke kota lain,” katanya. Ia mencontohkan saat di Pontianak, truk pengangkut alat operasi sudah menunggu untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Tengah. Tak ada jeda panjang. Semua harus tepat waktu.
Selama 14 tahun Tami, panggilan akrabnya, memegang seluruh urusan administrasi TIMA Indonesia. Meski jabatannya terdengar sederhana, tanggung jawab yang ia emban tak pernah ringan. Hampir tiap pekan, ia terlibat dalam persiapan bakti sosial dari skala kecil hingga besar, yang tersebar dari Jawa hingga luar pulau.
“Tahun ini jadwal TIMA memang banyak. Di antara baksos skala besar, ada banyak baksos kecil,” jelasnya.
Sepanjang tahun ini TIMA Indonesia menggelar tujuh bakti sosial kesehatan besar, mulai dari Berau, Kalimantan, hingga Surabaya dan Bandung serta lebih dari lima puluh bakti sosial kesehatan skala kecil, yang sebenarnya tak kecil juga. Semua itu menuntut persiapan jauh hari terutama urusan logistik dan farmasi.
“Begitu selesai di satu kota, alat operasi sudah harus langsung dikirim ke kota lain,” katanya. Ia mencontohkan saat di Pontianak, truk pengangkut alat operasi sudah menunggu untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Tengah. Tak ada jeda panjang. Semua harus tepat waktu.
Meski begitu Tami menyebut hampir seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana. Target pasien tercapai, operasi berlangsung lancar, dan relawan bekerja dengan sigap. “Selama kerja sama dengan relawan, dengan rumah sakit tempat kita adakan bakti sosial bagus ya terlewati juga,” kata Tami.
Dedikasi Tami tak berhenti di jam kerja. Cuti tahunan yang harusnya jadi waktu beristirahat, kerap ia relakan demi memastikan rencana layanan kesehatan berjalan lancar. Dari jatah cuti yang ada sebagian bahkan hangus karena tak sempat diambil.
“Kalau dihitung mungkin lebih dari delapan kali hangus,” katanya sambil tersenyum kecil.
Dedikasi Tami tak berhenti di jam kerja. Cuti tahunan yang harusnya jadi waktu beristirahat, kerap ia relakan demi memastikan rencana layanan kesehatan berjalan lancar. Dari jatah cuti yang ada sebagian bahkan hangus karena tak sempat diambil.
“Kalau dihitung mungkin lebih dari delapan kali hangus,” katanya sambil tersenyum kecil.
Liburan ke pantai atau bepergian jauh nyaris tak pernah ada dalam daftar rencananya. Jika ada waktu luang sedikit panjang, ia lebih memilih pulang kampung ke Temanggung, Jawa tengah bertemu keluarga. Meski begitu tak ada keluhan keluar dari mulutnya.
“Pekerjaan TIMA ini sesuai dengan hati nurani, Selain digaji, kami juga membantu orang, jadi saya jalani dengan ikhlas,” sambungnya.
Baginya lelah yang dirasakan terbayar saat melihat pasien kembali bisa melihat dan tersenyum lega. Jelang akhir tahun saat rangkaian bakti sosial Kesehatan TIMA Indonesia diselesaikan, agenda bakti sosial kesehatan selama setahun ke depan sudah menantinya. Ia pun siap kembali berada di balik layar menjaga agar setiap misi kesehatan Tzu Chi dan TIMA Indonesia berjalan lancar, mengantarkan kebahagiaan kepada pasien yang sudah menanti kesembuhan.
Jurnalis : Khusnul Khotimah, Pien Ong (He Qi Pantai Indah Kapuk),
Fotografer : Edi Wu, Feranika H (He Qi Pantai Indah Kapuk), Indra Gunawan (He Qi Angke), Mery Hasan (He Qi Barat 2),
Editor : Metta Wulandari.
“Pekerjaan TIMA ini sesuai dengan hati nurani, Selain digaji, kami juga membantu orang, jadi saya jalani dengan ikhlas,” sambungnya.
Baginya lelah yang dirasakan terbayar saat melihat pasien kembali bisa melihat dan tersenyum lega. Jelang akhir tahun saat rangkaian bakti sosial Kesehatan TIMA Indonesia diselesaikan, agenda bakti sosial kesehatan selama setahun ke depan sudah menantinya. Ia pun siap kembali berada di balik layar menjaga agar setiap misi kesehatan Tzu Chi dan TIMA Indonesia berjalan lancar, mengantarkan kebahagiaan kepada pasien yang sudah menanti kesembuhan.
Jurnalis : Khusnul Khotimah, Pien Ong (He Qi Pantai Indah Kapuk),
Fotografer : Edi Wu, Feranika H (He Qi Pantai Indah Kapuk), Indra Gunawan (He Qi Angke), Mery Hasan (He Qi Barat 2),
Editor : Metta Wulandari.