Membasuh Luka Langkahan, Lima Ton Beras Cinta Kasih untuk Bangkit Pascabencana
Jejak lumpur dari Siklon Senyar dan banjir bandang bulan November 2025 memang masih membekas di ingatan warga Langkahan. Bencana yang menghanyutkan dan menimbun rumah-rumah warga itu menjadi titik awal terjalinnya “jalinan jodoh” antara warga Langkahan dengan Yayasan Buddha Tzu Chi.
Setelah sebelumnya menyalurkan bantuan tanggap darurat, pada hari Minggu, 15 Maret 2026, relawan Tzu Chi dari Komunitas Banda Aceh, Bireuen, dan Lhokseumawe kembali hadir. Kali ini, mereka membawa misi perhatian jangka panjang dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Fitri dengan menyalurkan 1.000 sak atau sekitar 5 ton beras cinta kasih.
Setelah sebelumnya menyalurkan bantuan tanggap darurat, pada hari Minggu, 15 Maret 2026, relawan Tzu Chi dari Komunitas Banda Aceh, Bireuen, dan Lhokseumawe kembali hadir. Kali ini, mereka membawa misi perhatian jangka panjang dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Fitri dengan menyalurkan 1.000 sak atau sekitar 5 ton beras cinta kasih.
Perjalanan dimulai pukul 06.00 WIB dari Kota Lhokseumawe. Menempuh jarak sekitar 62 km melalui jalur darat selama dua jam, para relawan tiba dengan semangat untuk langsung menyusun bantuan dan memastikan distribusi berjalan lancar.
Acara dibuka oleh Asnawi Tahir selaku PIC kegiatan, yang menyampaikan apresiasi kepada warga karena telah membuka pintu hati bagi Tzu Chi. Bantuan ini menyisir desa demi desa, menjangkau warga di Desa Bukit Linteung, Lubuk Pusaka, hingga Sarah Galah. Salah satu momen mengharukan terjadi saat relawan bertemu dengan Yusniati, seorang warga tunanetra. Meski tak mampu melihat rupa para relawan, Yusniati dapat merasakan kehangatan dari cara relawan menyambutnya.
Acara dibuka oleh Asnawi Tahir selaku PIC kegiatan, yang menyampaikan apresiasi kepada warga karena telah membuka pintu hati bagi Tzu Chi. Bantuan ini menyisir desa demi desa, menjangkau warga di Desa Bukit Linteung, Lubuk Pusaka, hingga Sarah Galah. Salah satu momen mengharukan terjadi saat relawan bertemu dengan Yusniati, seorang warga tunanetra. Meski tak mampu melihat rupa para relawan, Yusniati dapat merasakan kehangatan dari cara relawan menyambutnya.
“Terima kasih ya sudah bantu nenek, Semoga kalian semua sehat selalu dan banyak rezeki,” tutur Yusniati dengan penuh sukacita.
Bagi para relawan, senyum warga adalah energi yang tak ternilai. Asnawi Tahir mengungkapkan harapan agar bantuan ini menjadi pemantik semangat bagi warga untuk bangkit dari keterpurukan.
Bagi para relawan, senyum warga adalah energi yang tak ternilai. Asnawi Tahir mengungkapkan harapan agar bantuan ini menjadi pemantik semangat bagi warga untuk bangkit dari keterpurukan.
“Semoga warga di sini dapat bangkit dari keterpurukan dan semoga bisa terdapat komunitas Tzu Chi di Langkahan ini sehingga banyak orang yang dapat di bantu, saya merasa lelah saya terbayarkan ketika melihat senyum dari penerima bantuan,” ujar Asnawi dengan penuh semangat.
Semangat ini selaras dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen: “Cinta kasih universal tidak membedakan mulia atau hina, semua makhluk adalah setara tanpa membedakan dia, engkau atau aku, jika berhati baik tentu akan selalu harmonis.” Melalui butiran beras ini, Tzu Chi berharap cinta kasih universal tersebut dapat terus tumbuh dan dikembangkan oleh seluruh warga Langkahan.
Jurnalis : Asnawi, Ronaldo (Tzu Chi Aceh),
Fotografer : dok. Tzu Chi Aceh,
Editor : Khusnul Khotimah.
Fotografer : dok. Tzu Chi Aceh,
Editor : Khusnul Khotimah.