Melihat Perjuangan Distribusi Bantuan ke Lokasi Banjir di Kutai Timur
Anwar Prayogi sehari-hari bertugas sebagai Sustainability Palm Oil Officer di Bukit Subur Estate, PT. Tapian Nadenggan. Ia juga seorang relawan Tzu Chi di Xie Li Kalimantan Timur 2 Rantau Panjang. Panggilan tugas kadang datang tiba-tiba, namun kedatangan banjir kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar genangan air yang surut dalam sehari, ini adalah tembok air cokelat yang merenggut tenang, memutus akses, dan memaksa ratusan jiwa tetap bertahan di rumah yang terendam banjir.
Pagi harinya, Sabtu, 13 Desember 2025, ketika Anwar Prayogi menginjakkan kaki di desa Kernyanyan, ia merasa seperti sedang menyaksikan film bisu; banyak tatap penuh harap dan keheningan yang jauh lebih memilukan daripada tangisan. Sementara, bagi anak-anak, masalah orang dewasa (banjir) hanya menjadi sebuah kolam permainan, dan para lansia duduk termangu menatap jarak, berharap banjir segera surut dan aktivitas keluarga mereka kembali normal.
Di sela waktu istirahat yang singkat saat penyaluran bantuan, Anwar Prayogi sempat berbagi cerita kepada relawan. Dengan nada tenang dan senyum yang sederhana, ia berkata “Jalannya tidak mudah. Seperti yang kita tahu, akses ke SP Muara Wahau itu dalam kondisi musim hujan ini sangat sulit. Saya berangkat jam 8 pagi, sampai rumah jam 11 malam. Banyak jalan rusak, licin. Pulangnya sudah gelap, truk kami amblas. Harus tunggu bantuan alat berat dari kebun untuk narik truk. Perjalanan pulang kami lanjutkan dan harus ekstra hati-hati. Tapi saya pikir, kalau kita saja sudah mengeluh di jalan bagaimana dengan warga yang sedang terjebak banjir di rumahnya? Jadi saya optimis yang penting bahan pokok yang kami beli untuk warga terdampak banjir bisa selamat dan sampai tepat waktu,” ungkapnya.
Tugas seorang relawan lebih dari sekadar membagikan bahan pokok. Relawan adalah pembawa kembali martabat dan setitik harapan bagi mereka yang baru saja tertimpa musibah. Di tiga desa tersebut, di tengah arus sungai dan kelembaban, setiap tarikan napas terasa penting, dan setiap uluran tangan adalah janji bahwa mereka tidak sendirian. Inilah kisah tentang sepatu bot yang terendam, punggung yang pegal, dan energi tak terbatas yang lahir dari satu senyum tulus atas dasar kekeluargaan dan kemanusiaan.
Jurnalis : Aurora Goesman (Tzu Chi Cabang Sinar Mas),
Fotografer : Anwar Prayogi (Tzu Chi Cabang Sinar Mas),
Editor : Khusnul Khotimah.