Torehkan 100 Tindakan Robotic Surgery, Tzu Chi Hospital Gelar Milestone Ceremony
Tzu Chi Hospital menorehkan pencapaian penting dalam pengembangan layanan bedah robotik dengan menyelesaikan 100 tindakan robotic surgery (bedah robotik). Pencapaian ini diumumkan dalam rangkaian Seminar Awam dan Milestone Ceremony yang mengusung tema “A Century of Robotic Excellence: Precision Surgery for a Better Tomorrow” pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, di Auditorium Lantai 23, Tzu Chi Hospital, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.
Gelaran acara berisi talkshow dan simulasi robotic surgery yang dibawakan oleh dr. Andri Hondir, Sp.OG., dr. Stevano Sipahutar, Sp.U., FICRS., dan dr. Anthony Pratama, Sp.B., M.Kes., AIFO. Tak hanya mendengar dan melihat rangkaian acara, peserta juga bisa bertanya sesuai tema yang dibahas. Acara dimulai dengan sambutan dan pemotongan kue untuk merayakan pencapaian 100 tindakan robotic surgery.
Gelaran acara berisi talkshow dan simulasi robotic surgery yang dibawakan oleh dr. Andri Hondir, Sp.OG., dr. Stevano Sipahutar, Sp.U., FICRS., dan dr. Anthony Pratama, Sp.B., M.Kes., AIFO. Tak hanya mendengar dan melihat rangkaian acara, peserta juga bisa bertanya sesuai tema yang dibahas. Acara dimulai dengan sambutan dan pemotongan kue untuk merayakan pencapaian 100 tindakan robotic surgery.
Direktur Senior Tzu Chi Hospital, Prof. DR. dr. Satyanegara, Sp.BS.(K), menyampaikan bahwa. “Teknologi robotik di bidang kesehatan pertama kali berkembang di Amerika Serikat sejak tahun 1980-an dan terus mengalami kemajuan hingga digunakan secara luas dalam bedah minim invasif. Seiring waktu, teknologi ini mulai diadaptasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas tindakan bedah,” terang Prof. DR. dr. Satyanegara.
Direktur Utama Tzu Chi Hospital, dr. Gunawan Susanto Sp.BS., juga menyampaikan bahwa dengan telah tercapainya 100 tindakan robotic surgery, hal tersebut sesuai dengan semangat Tzu Chi Hospital dalam melakukan pelayanan terbaik untuk pasien.
“Ini sesuai dengan semangat dari Tzu Chi Hospital mengadakan pelayanan Robotic Laparoscopy, supaya memberikan pelayanan medis yang seprofesional mungkin dan hasilnya bisa seoptimal mungkin. Oleh karena itu diharapkan supaya hasil dari pasien-pasien yang dioperasi bisa lebih baik.” tutur dr. Gunawan Susanto.
Direktur Utama Tzu Chi Hospital, dr. Gunawan Susanto Sp.BS., juga menyampaikan bahwa dengan telah tercapainya 100 tindakan robotic surgery, hal tersebut sesuai dengan semangat Tzu Chi Hospital dalam melakukan pelayanan terbaik untuk pasien.
“Ini sesuai dengan semangat dari Tzu Chi Hospital mengadakan pelayanan Robotic Laparoscopy, supaya memberikan pelayanan medis yang seprofesional mungkin dan hasilnya bisa seoptimal mungkin. Oleh karena itu diharapkan supaya hasil dari pasien-pasien yang dioperasi bisa lebih baik.” tutur dr. Gunawan Susanto.
Pemulihan Cepat dan Minimal Invasif
Robotic surgery adalah metode operasi modern di mana dokter bedah menggunakan sistem robotik untuk membantu melakukan prosedur dengan bantuan komputer, memberikan presisi, fleksibilitas, dan kontrol yang lebih baik melalui sayatan kecil (minim invasif), sehingga luka lebih kecil, nyeri minimal, dan pemulihan lebih cepat, namun kendali penuh tetap di tangan dokter ahli yang mengendalikan robot melalui konsol khusus.
Dalam talk show yang diselenggarakan, menghadirkan dr. Anthony Pratama, Sp.B, M.Kes., AIFO., dan Felicia (pasien) sebagai narasumber. Dr. Anthony Pratama adalah dokter yang menangani Felicia menjalani operasi batu empedu dengan metode robotic surgery. Awalnya muncul keraguan dari Felicia terkait metode operasi yang akan diterapkan. Namun dengan saran dari dr. Anthony Pratama, ia memantapkan hatinya untuk menjalani operasi batu empedu dengan metode robotic surgery.
Dampak baik pun dirasakan oleh Felicia dengan penanganan operasi yang minim invasif dan pemulihan yang lebih cepat. Ia tak perlu mengkhawatirkan waktu pemulihan pascaoperasi. Sebab dua hari pascaoperasi, Felicia dapat beraktivitas kembali. “Dua hari setelah selesai operasi saya sudah bisa pulang dengan mengendarai mobil sendiri. Manfaatnya ya nyerinya minimal, setelah pemberian obat besoknya sudah tidak nyeri. Di dalam kamar perawatan pun kita sudah bisa aktivitas mandiri, jadi kita ke toilet sudah bisa sendiri,” ungkap Felicia.
Dampak baik pun dirasakan oleh Felicia dengan penanganan operasi yang minim invasif dan pemulihan yang lebih cepat. Ia tak perlu mengkhawatirkan waktu pemulihan pascaoperasi. Sebab dua hari pascaoperasi, Felicia dapat beraktivitas kembali. “Dua hari setelah selesai operasi saya sudah bisa pulang dengan mengendarai mobil sendiri. Manfaatnya ya nyerinya minimal, setelah pemberian obat besoknya sudah tidak nyeri. Di dalam kamar perawatan pun kita sudah bisa aktivitas mandiri, jadi kita ke toilet sudah bisa sendiri,” ungkap Felicia.
Dr. Anthony Pratama mengungkapkan alasan mengambil tindakan robotic surgery untuk meminimalkan sayatan operasi serta menyesuaikan kondisi pasien. “Pasien ini radang kantong empedu karena batu, dan infeksi tinggi. Waktu operasi juga kantung empedunya tebal sekali, jadi susah sekali untuk dioperasinya. Jadi kalau dengan operasi biasa pasti sayatan operasinya lebar. Dengan adanya teknologi robotik ini pelan-pelan bisa dibuang infeksinya, bisa diangkat batunya dengan baik,” jelas dr. Anthony Pratama.
Selain minim invasif pada pasien, robotic surgery juga berdampak baik untuk dokter bedah yang bertugas. “Jadi kita dengan alat robotik ini pandangan dokter jadi lebih detail, jadi batasnya jelas. Kita bisa lebih jelas melihat organ yang sehat dan organ yang sakit dan presisinya bagus,” tambahnya.
Penggunaan teknologi yang telah berkembang pesat tetap harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang ahli dan kompeten. Dalam dunia medis, penggunaan metode robotic surgery harus diimbangi dengan kompetensi dokter yang baik. Sebab, metode ini tetap dalam kendali dokter yang menggerakan teknologi robot untuk operasi bedah.
Selain minim invasif pada pasien, robotic surgery juga berdampak baik untuk dokter bedah yang bertugas. “Jadi kita dengan alat robotik ini pandangan dokter jadi lebih detail, jadi batasnya jelas. Kita bisa lebih jelas melihat organ yang sehat dan organ yang sakit dan presisinya bagus,” tambahnya.
Penggunaan teknologi yang telah berkembang pesat tetap harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang ahli dan kompeten. Dalam dunia medis, penggunaan metode robotic surgery harus diimbangi dengan kompetensi dokter yang baik. Sebab, metode ini tetap dalam kendali dokter yang menggerakan teknologi robot untuk operasi bedah.
Jurnalis : FIkhri Fathoni,
Fotografer : FIkhri Fathoni,
Editor : Arimami Suryo A.
Fotografer : FIkhri Fathoni,
Editor : Arimami Suryo A.