Relawan Tzu Chi Hadir Menguatkan Warga Terdampak Longsor Cisarua
Bencana tanah longsor tersebut terjadi secara tiba-tiba setelah hujan deras mengguyur wilayah Desa Pasirlangu pada hari Sabtu, 24 Januari 2026. Peristiwa itu diawali suara gemuruh keras yang terdengar oleh warga, sebelum material tanah dan lumpur meluncur dari Kampung Pasirkuning hingga Kampung Pasir Kuda.
Dalam kondisi gelap dan hujan deras, warga hanya sempat menyelamatkan diri. Banyak rumah terdampak, akses jalan tertutup material longsor, dan rasa aman yang selama ini dirasakan seolah ikut runtuh bersama tanah yang bergerak.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat per tanggal 26 Januari 2026, bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mengakibatkan 17 orang meninggal dunia. Sebanyak 52 rumah mengalami rusak berat, sementara 824 warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Setiap penyerahan bantuan disertai ungkapan keprihatinan dan doa. Bagi Tzu Chi, bantuan yang diberikan bukan sekadar bentuk kepedulian materi, tetapi juga wujud kehadiran untuk saling menguatkan di tengah duka.
Entin Suryati (52), salah satu warga terdampak, masih mengingat jelas malam ketika longsor terjadi. “Waktu itu malam-malam ada suara gemuruh, semua teriak dan langsung lari. Saya sama ibu juga lari, tidak sempat bawa apa-apa. Kejadiannya sekitar jam dua malam. Bantuan dari Yayasan Tzu Chi ini sangat membantu. Terima kasih banyak,” ucap Entin penuh rasa sykur.
Ungkapan serupa disampaikan Neni Hayati (28), warga yang kehilangan anggota keluarganya akibat longsor. Di balik wajah lelah dan mata sembab, terselip rasa syukur atas kepedulian yang ia terima. Kehadiran relawan yang mau mendengarkan dan menyapa dengan empati menjadi penguat di tengah situasi yang penuh kecemasan.
“Saya lagi tidur, tiba-tiba ada suara gemuruh keras sekali, seperti gempa. Saya bangunin suami dan anak-anak. Pas keluar, orang-orang sudah pada lari, saya juga lari sambil bawa anak-anak. Keluarga saya ada 17 orang yang hilang, baru ditemukan empat orang. Terima kasih banyak kepada relawan Tzu Chi atas bantuannya,” tutur Neni dengan suara bergetar.
“Kami sangat prihatin mendengar kabar ini. Setelah melakukan survei dan melihat langsung kondisi di lapangan, memang sangat memprihatinkan. Banyak warga kehilangan rumah dan anggota keluarganya belum ditemukan. Bencana ini sangat besar. Semoga bantuan yang diberikan Tzu Chi dapat sedikit meringankan beban warga dan semuanya bisa segera pulih,” ujar Lim Tek Soe ketika membagikan bantuan.
Selain menyalurkan bantuan, para relawan juga melakukan pendataan serta memantau kondisi lingkungan sekitar. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab agar bantuan dapat tepat sasaran dan keselamatan warga tetap menjadi prioritas.
Kepala Desa Pasirlangu, Nurawaludin Lubis, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan. “Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada warga kami. Bantuan ini sangat bermanfaat. Kehadiran relawan Yayasan Buddha Tzu Chi juga memberikan semangat bagi warga yang sedang berduka,” ujarnya.
Bencana longsor di Cisarua menjadi pengingat bahwa alam dapat berubah sewaktu-waktu. Namun di tengah duka, cinta kasih dan kepedulian tetap dapat menjadi penopang. Dalam kebersamaan, luka perlahan terobati. Dalam kepedulian, harapan kembali tumbuh.
Setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tulus adalah benih kebajikan. Dari benih itulah diharapkan tumbuh kekuatan, ketenangan, dan semangat baru bagi warga Cisarua untuk perlahan menata kembali kehidupan. Di tengah duka, kasih tetap menyala, menjadi cahaya yang menuntun langkah untuk bangkit bersama.
Jurnalis : Rizki Hermadinata (Tzu Chi Bandung),
Fotografer : Muhammad Dayar (Tzu Chi Bandung),
Editor : Anand Yahya.