Mewujudkan Niat Baik yang Konsisten dalam Tindakan Nyata
Master Cheng Yen mengajak kita semua untuk membuka “pintu lemari hati” agar niat baik di dalamnya dapat terlihat jelas dan mewujud dalam tindakan. Semangat inilah yang melandasi acara Pemberkahan Akhir Tahun 2025 yang digelar oleh komunitas relawan Tzu Chi di He Qi Jakarta Barat 3 pada tanggal 8 Februari 2026 di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk. Acara ini dihadiri oleh relawan, donatur, serta muda-mudi Komunitas Tunas.
Acara yang berlangsung pukul 14.00 hingga 16.50 WIB ini merupakan bentuk apresiasi kepada para donatur atas dukungannya untuk Tzu Chi sepanjang tahun. Antusiasme peserta sangat luar biasa, tercatat 152 orang hadir. Berkat gotong royong 85 relawan di berbagai bidang, acara berjalan dengan khidmat dan lancar, memperkuat barisan cinta kasih untuk masa depan.
Panitia menyuguhkan 15 rangkaian acara, mulai dari tayangan video kilas balik, isyarat tangan, sharing inspiratif dari relawan dan Anak Teratai, hingga pembagian angpau cinta kasih. Sesi sharing yang menyentuh hati dibawakan oleh Amelia, guru Bahasa Mandarin di kelas GENCAR (Generasi Cemerlang), bersama dua anak asuh Teratai, Evelyn dan Valent, keduanya 15 tahun. Mereka membuktikan satu pesan universal bahwa niat baik tidak akan pernah habis meski terus dibagikan.
Program GENCAR sendiri merupakan beasiswa pendidikan dari Tzu Chi yang dirancang untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan berkualitas dan pembangunan karakter. Manfaat nyata dirasakan oleh Evelyn, sejak bergabung, ia bertransformasi menjadi pribadi yang lebih percaya diri hingga berhasil meraih Juara 1 di kelasnya. Bagi Evelyn, Budaya Humanis Tzu Chi telah membangkitkan semangat juangnya untuk mengubah nasib keluarga dan melangkah lebih dekat menuju cita-citanya.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Valent. Di saat sang guru sedang berhalangan, Valent menunjukkan aksi nyata tanpa diminta. Bukannya memilih belajar sendiri demi menonjol di kelas, ia justru dengan tulus membagikan ilmunya kepada teman-teman sebaya agar mereka tidak tertinggal pelajaran. Valent merasakan kebahagiaan yang jauh lebih besar saat melihat teman-temannya terbantu.
Meski baru berusia 15 tahun, Evelyn dan Valent telah berhasil menyerap ajaran Master Cheng Yen. Mereka membuktikan bahwa niat baik yang tulus adalah benih yang akan tumbuh menjadi “kebun kebaikan”. Kebun ini tidak hanya subur bagi diri mereka sendiri, tetapi juga memberikan berkah bagi orang-orang di sekitarnya.
“Kami berharap para tamu undangan dan donatur dapat merasakan uluran cinta kasih Master Cheng Yen serta turut mendukung agar cinta kasih ini terus menjangkau seluruh penjuru dunia,” ujar Fie Lan.
Sebagai relawan yang telah menekuni Shou Yu sejak tahun 2002 dan kini menjadi pelatih, ia juga mengajak relawan baru untuk mencoba belajar isyarat tangan. “Tidak harus rutin, sesekali pun tidak apa, agar mereka bisa merasakan pengalaman budaya humanis yang gerakannya secara tidak langsung mampu menggetarkan hati kita masing-masing.”
Tahun ini, Angpau tersebut memiliki makna sejarah yang kuat. Koin perak di bagian depan bertuliskan angka 60, menandai peringatan HUT ke-60 Tzu Chi dalam menyebarkan cinta kasih ke seluruh dunia. Meskipun nilai nominal koin tersebut sederhana, ia melambangkan ketulusan yang dilakukan terus-menerus. Dari praktik kecil inilah misi besar kemanusiaan bertumbuh, menjadi pengingat bagi kita untuk tetap konsisten dalam kebajikan dan welas asih.
1. Benih Tak Terhingga: Melambangkan satu benih kebaikan yang jika ditanam akan tumbuh dan berbuah menjadi tak terhingga.
2. Sila, Samadhi, dan Kebijaksanaan: Ajaran untuk menjaga perilaku benar, ketenangan batin, serta kemampuan bertindak dengan tepat.
3. Mendengar, Merenungkan, dan Mempraktikkan: Langkah nyata dalam menyerap ajaran dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jarak Bukan Penghalang bagi Jalinan Jodoh Baik dan Niat yang Teguh
Di antara ratusan peserta, hadir serombongan donatur dari Bogor yang membawa kisah inspiratif tentang tekad dan niat baik. Salah satunya Ibu Yanti. Ia datang bersama putranya, Samuel, dan calon menantunya, Ansel. Meski Samuel telah memiliki jadwal keberangkatan ke Surabaya di hari yang sama, ia memilih untuk tetap hadir terlebih dahulu di Gedung Tzu Chi Center.
Bagi Samuel, ini adalah kunjungan pertamanya. “Saya diajak mama dan secara pribadi saya sangat penasaran ingin melihat langsung isi dari Gedung Tzu Chi ini,” ungkapnya dengan senyum gembira. Sementara itu, Ansel yang selama ini hanya melihat misi amal Tzu Chi melalui berita, mengaku kagum dengan transparansi yayasan. “Bantuan dari Tzu Chi sangat jelas, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Itulah yang menggerakkan hati saya untuk menjadi pendukung kegiatan sosial ini,” tambah Ansel.
Selain mereka yang datang secara pribadi, hadir pula kelompok Oma Ceria Vihara Dhanagun sebanyak 9 orang, serta 61 donatur lainnya yang berangkat bersama menggunakan bus didampingi oleh relawan Tzu Chi Bogor. Semangat mereka menjadi bukti nyata bahwa jika niat sudah teguh, jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang untuk bersumbangsih bagi kemanusiaan.
Sungguh jalinan jodoh baik yang luar biasa, jarak Bogor–Jakarta tak menyurutkan semangat para donatur untuk hadir. Ibu Kie Yun, koordinator kelompok Oma Ceria dari Vihara Dhanagun, membawa rombongan karena merasa adanya kesamaan visi antara kegiatan mereka dengan ajaran Master Cheng Yen. Total terdapat 70 donatur dari Bogor yang hadir memadati ruangan.
Menutup acara dengan penuh kelembutan, Eva mengingatkan kembali pesan Master Cheng Yen agar kita selalu menjaga dan bertindak konsisten pada “Niat Baik Awal” dalam hati. “Semoga ke depannya Tzu Chi dapat merangkul lebih banyak hati, sehingga semakin banyak pula orang yang terbantu,” pungkasnya.
Fotografer : Deddy, Indra Wijaya, Budi Suparwongso (He Qi Jakarta Barat 3),
Editor : Khusnul Khotimah.