Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Mewariskan Permata Berupa Kebajikan dan Cinta Kasih

“Saya tahu bahwa Master selalu berharap relawan muda dapat lebih banyak mengemban tanggung jawab bagi dunia. Karena itu, setelah mengemban tanggung jawab sebagai ketua tim, saya mengajak ketua tim sebelumnya untuk mendampingi saya sebagai wakil ketua tim,” kata Wu Zong-hua, relawan Tzu Chi.

“Saya juga mengajak Kakak Xian-cong untuk mendampingi sebagai wakil ketua tim dengan harapan dapat menginspirasi lebih banyak kaum muda untuk mengemban tanggung jawab sebagai fungsionaris di komunitas,” lanjut Wu Zong-hua.

“Saat kaum muda yang seumur menapaki jalan ini bersama, mereka tidak akan merasa kesepian karena ada relawan dari berbagai tahapan usia di sini. Kita mengemban misi Tzu Chi demi menginspirasi lebih banyak orang dan membuat masyarakat menjadi lebih baik,” pungkas Wu Zong-hua.

Saya ingin memberi tahu semua orang bahwa kita harus membina rasa syukur dan memperlakukan orang dengan rendah hati. Memperlakukan orang dengan rendah hati, ini merupakan berkah bagi semua orang. Demikianlah yang kita lakukan selama ini. Namun, kaum muda yang ada di hadapan saya sekarang terlihat agak berbeda dari kaum muda yang dibahas masyarakat masa kini.
Seluruh insan Tzu Chi, baik tua maupun muda, semuanya memiliki cinta kasih yang sangat berharga. Kaum muda menghormati kaum lansia, kaum lansia juga menghormati kaum muda. Inilah keharmonisan di antara kita. Jadi, kehidupan kita sangat bernilai. Insan Tzu Chi tidak pernah membanding-bandingkan usia mereka dengan orang lain. Dapat bergabung dengan Tzu Chi, mereka selalu sepenuh hati mengerahkan potensi masing-masing dan bersumbangsih dengan penuh syukur.
“Di Tzu Chi, relawan muda dan relawan senior bersyukur satu sama lain. Dari relawan senior, relawan muda dapat belajar banyak hal, termasuk ajaran Master dan dedikasi terhadap Master. Inilah yang harus dipelajari para relawan muda dengan rendah hati. Ada banyak relawan muda yang bisa memanfaatkan teknologi dengan baik. Relawan muda juga lebih ahli menggunakan komputer. Jadi, jika relawan muda berkesempatan untuk mengemban tanggung jawab dan relawan senior dapat memberikan dukungan, barulah kita dapat benar-benar mempertahankan relawan muda di lingkungan Tzu Chi,” kata Lin Wei-yang, relawan Tzu Chi.

Singkat kata, kaum muda zaman sekarang harus mempelajari banyak hal. Kita harus belajar sesuatu hingga menguasainya. Di sinilah letak nilai kehidupan kita. Sulit untuk terlahir sebagai manusia. Karena itu, kita harus menghargainya. Tzu Chi selamanya tidak akan tua. Kalian akan terus berkembang dan Tzu Chi akan selalu bisa mengimbangi langkah kaum muda. Mari kita mengasihi satu sama lain.
Relawan lansia Tzu Chi tidak menyerah pada usia dan relawan muda Tzu Chi menghormati orang yang lebih tua dan berbudi luhur. Dengan demikian, barulah kehidupan kita akan indah dan benar. Kita harus membangkitkan ketulusan untuk mewujudkan kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Belakangan ini, saya sering berkata bahwa kebenaran, kebajikan, dan keindahan paling bernilai. Namun, bagaimana cara mewujudkannya? Apa yang harus kita lakukan? Sesungguhnya, kita telah melakukannya.
Lihatlah, insan Tzu Chi terus mengikuti pelatihan. Apakah yang dipelajari dalam pelatihan? Setelah bergabung dengan Tzu Chi, kita harus mempelajari tata krama dalam menghadapi semua orang dan hal. Orang yang berpegang pada tata krama selalu selaras dengan kebenaran. Tata krama selaras dengan kebenaran. Jika hidup tanpa prinsip kebenaran, itu tidak bisa disebut sebagai kehidupan. Jadi, di Tzu Chi, kita harus sering bertutur kata baik dan mendengarkan kata-kata baik agar relawan baru dapat sering mendengarnya dan relawan lama tidak melupakannya.
Salah satu tata krama sejak dahulu hingga sekarang ialah menghormati orang yang lebih tua. Orang yang lebih tua juga secara alami menghormati generasi yang lebih muda. “Saat seumur mereka, kami tidak mengerti semua ini. Kini, mereka sudah menguasainya pada usia muda. Kami tentu menghormati mereka.” Jadi, semua orang saling menghormati dan mengasihi. Inilah prinsip kebenaran tentang ketulusan. Kalian harus ingat bahwa kalian bergabung dengan Tzu Chi untuk belajar menjadi orang yang benar.

“Saya orang yang tidak sabar dan selalu berbicara ceplas-ceplos. Setelah mengikuti berbagai aktivitas Tzu Chi, kebaktian, dan diskusi dengan sesama relawan, saya menyadari bahwa sekadar melakukan saja tidaklah cukup. Jika ingin melakukan dengan baik dalam jangka panjang, kita harus melatih temperamen dan kesabaran diri, lebih banyak berkomunikasi, memelankan langkah kita, dan mendengarkan pendapat yang berbeda,” kata Guo Pei-ning, relawan Tzu Chi.

Bagaimana kita menyesuaikan diri dengan orang lain? Kita kompak dengan seseorang bukan karena dia memperlakukan kita dengan baik. Bukan demikian. Saat semua orang kompak, barulah keindahan bisa terlihat. Jadi, kalian harus sungguh-sungguh dan tulus. Demikianlah kita memberi persembahan kepada Dharma. Demikianlah kita memperagung ajaran Buddha. Jadi, di tempat itu, semua orang mendedikasikan diri dengan keyakinan yang tulus. Perpaduan semua inilah yang mewujudkan kebenaran, kebajikan, dan keindahan.
Mengapa Tzu Chi bisa menghimpun begitu banyak orang? Setiap insan Tzu Chi membuat orang merasa bahwa mereka memiliki kualitas dan karakter yang sangat baik. Karena itu, saya sangat sukacita. Saya selalu merasa bahwa Taiwan tidak memiliki permata apa pun selain kebajikan dan cinta kasih. Karena kebajikan dan cinta kasihlah, kita terus bersumbangsih selama ini. Berkat adanya cinta kasih, kita selalu sangat harmonis dan rendah hati.
Saya sering berkata, “Kita harus bersyukur. Bersyukurlah kepada mereka yang mendukung pencapaian kita. Bersyukurlah kepada orang-orang yang bergabung dengan Tzu Chi karena berkat mereka, barulah Tzu Chi bisa kompak dan agung.” Jadi, saat melihat sesuatu, kita harus memikirkan cara untuk memuji orang-orang. Ini sangatlah penting.
Lihatlah, siapa yang menyangka bahwa ini terbuat dari kain daur ulang? Ia terlihat sangat indah. Saat menghadiahkan sepatu bayi kepada orang-orang, saya sering berkata, “Anda harus belajar menapaki Jalan Tzu Chi dan menjalankan praktik Bodhisattva.” Ini juga merupakan doa saya. Jadi, asalkan mengandung cinta kasih, segala sesuatu itu patut dipuji dan sangat indah. Jadi, keindahan juga berasal dari kesungguhan.
Kalian penuh cinta kasih dan saya sangat sukacita. Saya sukacita melihat kesungguhan hati kalian. Ingatlah bahwa Taiwan tidak memiliki permata apa pun selain cinta kasih dan kebajikan. Cinta kasih dan kebajikan, bukankah ini yang selalu dipraktikkan insan Tzu Chi sejak Tzu Chi berdiri?
Apa yang dilakukan insan Tzu Chi sejak berdirinya Tzu Chi telah mewujudkan keindahan Taiwan. Karena itulah, insan Tzu Chi dari luar negeri terus kembali untuk belajar dari Tzu Chi Taiwan. Saya bersyukur atas kekuatan cinta kasih kalian. Sesungguhnya, permata Taiwan ada dalam diri setiap orang.

Menghormati orang yang lebih tua dan berbudi luhur serta saling bersyukur
Memiliki keyakinan yang sama dan pikiran yang tulus
Tahu batas dan memahami kebenaran
Menjadikan kebajikan dan cinta kasih sebagai permata dan mengembangkan potensi kebajikan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 27 April 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 29 April 2026