Kegiatan di Sumatera Utara

Cinta Kasih Tanpa Batas dari dan untuk Ibu

Suasana haru mewarnai peringatan Hari Ibu dalam acara kepulangan Gan En Hu (GEH) di kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Medan. Sekitar 80 peserta yang terdiri dari anak asuh, penerima bantuan, serta para pendamping mengikuti kegiatan yang mengangkat tema Hari Ibu.
Acara kepulangan Gan En Hu sendiri rutin dilaksanakan oleh komunitas Cemara Medan sebagai wadah pembinaan dan kebersamaan bagi para anak asuh serta penerima bantuan. Khusus pada bulan Mei, tema Hari Ibu dipilih karena Tzu Chi memperingati tiga momen penting sekaligus, yakni Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Melalui kegiatan ini, komunitas Cemara ingin mengajak anak-anak menumbuhkan rasa syukur dan bakti kepada orang tua, terutama kepada sosok ibu yang penuh kasih sayang.
Minggu, 3 Mei 2026, sejak pukul 12.00 WIB para anak asuh dan penerima bantuan mulai berdatangan ke kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Medan. Pada kesempatan ini, mereka diimbau untuk hadir bersama ibu masing-masing. Namun, tidak semua anak dapat didampingi oleh ibu kandungnya. Sebagian ibu telah berpulang, ada yang diwakili wali, dan ada pula yang sedang bekerja mencari nafkah di luar Kota Medan. Meski demikian, kehangatan dan kasih sayang tetap terasa memenuhi ruangan acara siang itu.
Suasana keakraban mulai terjalin ketika acara dibuka dengan permainan bertajuk “Mana Kaki Ibuku”. Dalam permainan ini, sepuluh ibu duduk berjajar di balik tirai hitam dengan bagian kaki yang terlihat dan diberi nomor. Sementara itu, para anak asuh diminta menunggu di ruangan terpisah sebelum dipanggil satu per satu untuk menebak kaki ibu mereka.
M. Amin dengan penuh semangat menuliskan nomor kaki yang diyakininya sebagai kaki sang ibu dalam permainan “Mana Kaki Ibuku”.
Wajah-wajah bahagia dan lega terpancar setelah seluruh anak berhasil mengenali kaki ibu mereka dalam permainan yang penuh makna dan kehangatan.
Permainan sederhana tersebut menghadirkan suasana penuh tawa sekaligus haru. Satu per satu anak mencoba mengenali sosok ibunya hanya melalui kaki yang terlihat di balik tirai. Tak disangka, seluruh anak berhasil mengenali kaki ibu mereka tanpa terkecuali. Momen itu sontak membuat suasana ruangan dipenuhi rasa haru, bahkan beberapa peserta dan relawan tak kuasa menahan air mata saat melihat kedekatan antara ibu dan anak.
“Pada awalnya saya merasa khawatir menerima tanggung jawab sebagai PIC acara ini. Namun saya merasa ini adalah berkah dan kesempatan yang baik, terlebih di bulan Mei ini selain memperingati Hari Ibu Internasional dan Hari Waisak, Tzu Chi juga merayakan HUT ke-60 Yayasan Buddha Tzu Chi Taiwan. Syukur acara dapat berjalan lancar dan khidmat. Saya berani mengambil tanggung jawab ini karena adanya dukungan para mitra bajik yang bersatu hati menggarap ladang berkah ini,” ujar Yanti selaku koordinator acara.

Kasih Ibu Sepanjang Masa
Puncak acara diisi dengan prosesi menyuguhkan secangkir teh hangat dan menyuapi kue kepada ibu. Para anak diminta berlutut di hadapan ibu mereka sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur karena telah dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Setelah menyuguhkan teh hangat, mereka menyuapkan sepotong kue kepada sang ibu.
Prosesi ini menjadi simbol bakti seorang anak kepada orang tua. Secangkir teh melambangkan penawar lelah seorang ibu, sementara manisnya kue menjadi doa agar hidup ibu senantiasa dipenuhi kebahagiaan, seperti yang disampaikan dalam perenungan Master Cheng Yen. Selanjutnya, para anak memberikan kartu ucapan dan surat kepada ibu mereka, lalu memeluk sang ibu sambil mencurahkan isi hati dengan penuh kasih sayang.
Jennyfer Evelyn, anak asuh yang ibunya sedang bekerja mencari nafkah di luar negeri, didampingi oleh ibu asuhnya di Tzu Chi, Juliani. Meski merindukan kehadiran ibunya, Jennyfer tetap merasakan kehangatan dan kasih sayang dari keluarga besar Tzu Chi.
Suasana haru semakin terasa ketika para relawan turut mendampingi anak-anak yang ibunya berhalangan hadir. Para relawan memberikan pelukan hangat agar setiap anak tetap dapat merasakan kasih sayang seorang ibu.
Salah satunya dirasakan Jennyfer Evelyn, anak asuh yang ibunya sedang bekerja di Malaysia. Meski terpisah jarak, hal itu tidak menghalangi Jennyfer menyampaikan baktinya sebagai seorang anak. Pada sesi pemberian surat, Jennyfer menyerahkan suratnya kepada ibu asuhnya di Tzu Chi, Juliani.
“Selamat Hari Ibu, Ma… cepat pulang ya supaya kita bisa berkumpul lagi, makan bersama, dan mengajari aku memasak. Ternyata sangat berat hidup tanpa seorang ibu. Jenny minta maaf kalau selama ini masih sering melawan dan belum bisa memberikan apa-apa untuk Mama. Jenny ingin cerita banyak tentang hari-hari tanpa Mama bersama kami. Cepat pulang ya, Ma… Jenny dan adik sangat sayang dan rindu Mama. Mama sehat-sehat selalu ya.”
Surat itu dibacakan dengan penuh haru sebelum Jennyfer dan Juliani saling berpelukan layaknya ibu dan anak.
Surat dan kartu ucapan yang dibuat para anak asuh sebagai ungkapan cinta kasih dan bakti kepada ibu mereka.
“Saya sangat terharu bisa menjalin jodoh baik dengan anak asuh di Tzu Chi. Rasanya bangga dapat menjadi pendamping bagi Jennyfer ketika mamanya sedang mencari nafkah di tempat lain. Seharusnya mamanya yang duduk mendampingi, tetapi saya justru diberi kesempatan menerima berkah ini. Jennyfer adalah anak yang baik dan selalu berprestasi di sekolah. Kami berharap Jennyfer dan anak-anak asuh lainnya tidak merasa sendiri, karena relawan Tzu Chi akan selalu memberikan perhatian dan pelukan hangat kepada mereka,” ujar Juliani.
Shinta, yang memandu sesi puncak acara, juga mengungkapkan rasa syukurnya dapat menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
“Saya sangat terharu. Dari acara ini anak-anak belajar berbakti kepada orang tua, sementara hubungan antara ibu dan anak juga menjadi semakin dekat dan harmonis. Anak-anak belajar memahami bahwa harta paling berharga adalah dapat tidur dengan tenang, makan dengan senang, tertawa dengan sukacita, dan bekerja dengan tubuh yang sehat, seperti yang disampaikan Master Cheng Yen. Semoga anak-anak dapat terus berbakti kepada orang tua dan selalu berbuat kebajikan, karena kedua hal ini tidak dapat ditunda,” ujarnya.
Beberapa ibu juga menyampaikan rasa haru mereka melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih berbakti. Mereka turut mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu pendidikan anak-anak mereka.
Pembagian jeruk kepada para peserta sebagai simbol doa dan harapan agar semua senantiasa dilimpahi berkah dan kebahagiaan.
Melalui kegiatan ini, Yayasan Buddha Tzu Chi tidak hanya membimbing anak-anak agar lebih berbakti kepada orang tua, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa bantuan pendidikan yang mereka terima merupakan wujud nyata cinta kasih para donatur. Diharapkan, cinta kasih tersebut dapat terus mengalir dan diwujudkan kembali melalui bakti kepada orang tua serta kepedulian terhadap sesama.
Acara kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu “Keluarga Cemara”, doa, serta foto bersama seluruh peserta dan relawan. Kehangatan yang terjalin sepanjang acara menjadi pengingat bahwa kasih sayang keluarga, perhatian, dan kebersamaan adalah kekuatan yang mampu menumbuhkan semangat untuk terus melangkah dalam kebaikan. Sejalan dengan perenungan Master Cheng Yen, ada dua hal yang tidak boleh ditunda dalam kehidupan, yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan.

Jurnalis : Juniaty (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Nuraini Loris (Tzu Chi Medan),
Editor : Metta Wulandari.

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28