Sukacita Warnai Peresmian Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi
Acara yang berlangsung penuh sukacita ini dihadiri oleh relawan Tzu Chi Jambi serta sejumlah tamu undangan, di antaranya Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., Ketua DPRD Jambi Kemas Faried Alfarelly, dan Kapolresta Jambi Kombes Pol. Boy Sutan Binanga Siregar, S.I.K., M.H.
Ketua dan Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, Franky O Widjaja, dan Sugianto Kusuma, serta relawan Tzu Chi dari Jakarta lainnya, relawan Tzu Chi Palembang, dan Pekanbaru juga turut hadir untuk menyaksikan peresmian kantor tersebut.
“Mari kita lestarikan rumah kita ini, gedung kita ini. Tapi itu saja belum cukup. Misi dan visi Tzu Chi tentunya harus kita jalankan,” ujarnya.
Rony juga menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan misi kemanusiaan. Ia berharap para relawan dapat terus bergandeng tangan dan kompak menyebarkan cinta kasih kepada masyarakat.
“Untuk menjalankan visi-misi Tzu Chi ini tentunya saya tidak ada apa-apanya, saya perlu dukungan dari Shixiong Shijie semuanya. Maka, marilah kita bergandeng tangan, kita kompak, sama-sama menjalankan tanggung jawab untuk menyebarkan cinta kasih di Jambi kita,” lengkap Rony Attan.
“Bantuan dari sembako berton-ton sudah didistribusikan di setiap momen-momen tertentu. Kemudian banyak juga warga masyarakat kami yang membutuhkan pengobatan sakit, dibantu. Kegiatan donor darah sudah banyak, tidak terhitung. Darahnya digunakan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan baik untuk operasi dan lain-lain,” papar Dr. dr. H. Maulana.
“Dengan adanya gedung ini sebagai rumah bersama, tentu akan semakin banyak program-program yang bermanfaat bagi Kota Jambi. Untuk itu dari lubuk hati yang paling dalam, saya bersyukur dan berterima kasih, karena yayasan ini menolong siapapun. Apapun sukunya, apapun agamanya, Itu yang harus kita apresiasi,” lengkapnya.
Relawan pembina Tzu Chi Jambi, Like Hermansyah, menilai perkembangan Tzu Chi di Jambi sangat pesat, terutama di bawah kepemimpinan Rony Attan. Pasalnya, relawan yang biasa dipanggil Pak Akuang itu mau ikut serta terlibat langsung dalam berbagai kegiatan yang dilakukan, hingga gampang berbaur dengan para relawan. Terlihat dengan misi amal dan misi pelestarian lingkungan yang jauh berkembang.
“Tentu saya sangat bersukacita terutama dua tahun ini masyarakat antusias untuk bergabung menjadi relawan maupun berdonasi ke Tzu Chi Jambi. Tentu setelah ini Jambi juga harus terus bersemangat merangkul lebih banyak relawan supaya bisa punya kekuatan lebih besar untuk menjangkau dan memberi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan di jambi,” tutur Like.
Namun, jauh sebelum kegiatan Tzu Chi berkembang di Jambi seperti sekarang, bantuan kemanusiaan sebenarnya sudah pernah menjangkau wilayah ini sejak masa awal berdirinya Tzu Chi di Indonesia. Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, mengingat salah satu pengalaman tersebut terjadi pada 1995 ketika gempa bumi melanda wilayah Kerinci. Saat itu, para relawan masih sangat baru menjalankan misi Tzu Chi di Indonesia.
“Waktu itu kami belum lama datang ke Indonesia dan baru mulai belajar menjalankan misi Tzu Chi. Kami bahkan tidak tahu Kerinci itu dimana,” kenang Liu Su Mei.
Dari Jakarta, para relawan menggalang bantuan dan meminta bantuan pihak Sinar Mas untuk membantu akses menuju wilayah terdampak. Liu Su Mei masih mengingat dengan jelas perjalanan tersebut. Saat itu, enam relawan perempuan membawa empat truk bantuan menuju Kerinci.
“Karena kami belum bisa berbicara Bahasa Indonesia, waktu membagikan bantuan kami hanya menggunakan bahasa tubuh,” ujarnya.
Setelah bantuan selesai disalurkan, rombongan relawan kembali ke Jambi. Perjalanan panjang itu mereka tempuh dalam kondisi jalan yang gelap, hingga akhirnya tiba sekitar pukul 06.00 pagi.
Di tengah perjalanan, kendaraan yang mereka tumpangi bahkan sempat kehabisan bahan bakar. Para relawan kemudian mengetuk rumah warga di pinggir jalan yang menjual bensin eceran.
Menurut Liu Su Mei, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para relawan pada masa awal perjalanan Tzu Chi di Indonesia.
“Waktu itu kami memang sangat berani, tetapi kurang bijaksana. Kami tidak tahu kondisi di Kerinci dan langsung berangkat saja. Master selalu berpesan, sebelum menolong orang lain, kita harus memastikan diri sendiri aman. Bantuan bencana di Kerinci membuat kami belajar hal itu,” ujarnya.
Pengalaman Liu Su Mei ini kembali ia ceritakan dengan sukacita pada momen peresmian Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi untuk menguatkan semangat para relawan dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan kemanusiaan yang dilakukan relawan terus bertambah, mulai dari bantuan sosial, pelestarian lingkungan, hingga berbagai program kemanusiaan lainnya. Dengan perkembangan tersebut, Tzu Chi Jambi membutuhkan rumah baru yang lebih layak untuk mendukung berbagai kegiatan relawan.
Pembangunan gedung ini kemudian terwujud berkat dukungan para donatur yang turut bersumbangsih demi perkembangan Tzu Chi di Jambi.
Kini bangunan tersebut telah berdiri dengan kokoh. Gedung Kantor Penghubung Tzu Chi Jambi terdiri dari lima lantai dengan luas sekitar 680 meter persegi per lantai, sehingga total luas bangunan mencapai 3.820 meter persegi. Kehadiran kantor ini diharapkan dapat memperkuat kegiatan kemanusiaan para relawan, sekaligus memperluas jangkauan pelayanan bagi masyarakat di Kota Jambi dan sekitarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, juga menyampaikan pesan dari Master Cheng Yen kepada para relawan.
“Master berpesan bahwa dalam menjalankan misi Tzu Chi kita harus memiliki tiga hal, yaitu keberanian seekor singa, keuletan seekor unta, dan hati seorang anak kecil. Hati seorang anak kecil berarti hati yang lapang dan niat yang polos,” ujar Liu Su Mei.
Ia menambahkan bahwa dengan hadirnya kantor penghubung yang baru, para relawan diharapkan dapat terus menjaga tekad awal ketika bergabung di Tzu Chi. “Hari ini kita sudah mempunyai kantor sendiri. Setelah bergabung di Tzu Chi, kita harus mempertahankan tekad awal kita dan menyadari bahwa Tzu Chi adalah tempat kita belajar dan melatih diri,” katanya.
Selain itu, Liu Su Mei juga mengingatkan tentang “sup empat bahan Tzu Chi”, yaitu bersyukur, menghargai, pengertian, dan toleransi. Empat semangat tersebut merupakan nilai yang perlu dipraktikkan terlebih dahulu dalam diri sendiri, bukan untuk dituntut kepada orang lain.
Semangat kebersamaan itu juga terasa dalam rangkaian kegiatan peresmian yang berlangsung sepanjang hari. Acara turut diisi dengan gathering pengusaha sebagai upaya menjalin jodoh baik dan mempererat hubungan kebajikan. Selain itu, para relawan yang hadir juga menyempatkan diri mengunjungi situs bersejarah Candi Muaro Jambi sebagai bagian dari kebersamaan dalam momen sukacita tersebut.
Fotografer : Arimami Suryo A., Metta Wulandari, Chiquita, Justin, Jesslynh (Tzu Chi Jambi),
Editor : Fikhri Fathoni.