Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Memberikan Penghiburan di Dunia dengan Praktik Bodhisattva

“Pada 25 November 2025, guyuran hujan deras selama beberapa hari berturut-turut mengakibatkan banjir dan tanah longsor serius di Sumatera Utara dan Aceh. Rumah, gedung sekolah, jembatan, dan jalan mengalami kerusakan parah. Relawan Tzu Chi Medan turut menjangkau daerah bencana. Di tengah penderitaan, semua orang bersatu hati dan bergotong royong. Mereka sendiri juga terkena dampak bencana, tetapi tetap bersedia menolong orang yang membutuhkan,” kata Chia Wen Yue, relawan Tzu Chi Indonesia.

“Tzu Chi berjanji untuk mendirikan 2.603 unit rumah permanen pascabencana yang terbagi di tiga daerah, yakni 1.103 unit di Sumatera Utara, 1.000 unit di Aceh, dan 500 unit di Sumatera Barat,” laporan Lukman Chairuddin, Wakil Ketua Kantor Cabang Tzu Chi Medan, Indonesia.
Kondisi alam sungguh tidak kekal dan kekuatannya pun sangat besar. Beruntung, ada banyak orang baik dan Bodhisattva di dunia ini. Saat karma kolektif semua makhluk berbuah, Bodhisattva segera muncul dan bersumbangsih dengan cinta kasih. Saya sangat terhibur melihatnya.
Bodhisattva datang karena adanya makhluk yang menderita. Tanpa makhluk yang menderita, tidak akan ada istilah “Bodhisattva“. Karena itulah, saya sering berkata bahwa kita hendaknya senantiasa bersyukur. Kita harus bersyukur kepada orang-orang yang menderita. Berkat mereka, barulah kita memiliki jalinan jodoh untuk memberikan bantuan tepat waktu.
Saat kalian mengulurkan tangan, mereka juga bersyukur pada kalian. Saat mereka menyandarkan kepala di bahu kalian dan kalian merangkul mereka dengan kedua tangan kalian, tahukah kalian betapa bersyukurnya orang-orang yang menderita ini? Kebaikan kalian saat merangkul mereka lebih besar daripada saat memberikan dana atau barang bantuan, berkali-kali lipat lebih besar.
Ketulusan cinta kasih kalian saat merangkul mereka tidak tertandingi. Tidak ada yang lebih berharga daripada rangkulan kedua tangan kalian. Saya juga sangat tersentuh melihatnya. Kita harus memberikan keteladanan bagi dunia ini.
“Pemerintah juga membina kerja sama yang sangat erat dengan Tzu Chi. Suplai air dan infrastruktur, semuanya diurus oleh pemerintah. Jadi, Tzu Chi bekerja sama dengan pemerintah dalam proyek pembangunan kembali. Pada bulan September tahun ini, pembangunan 2.603 unit rumah akan dirampungkan,” kata Sugianto Kusuma, Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia.

“Saya juga ingin melaporkan kepada Master bahwa 2.500 unit berasal dari dana yang digalang Tzu Chi dan 103 unit berasal dari seorang menteri. Beliau memercayakan uangnya kepada Tzu Chi untuk membangun 103 unit rumah di kampung halamannya. Semua orang bekerja sama dengan kesatuan hati serta menginspirasi pemerintah dan warga setempat untuk membantu sesama,” lanjut Sugianto Kusuma.

“Selain itu, Master, terhadap lebih dari 2.000 keluarga yang rumahnya kita bangun kembali, insan Tzu Chi akan berkunjung secara rutin untuk mencari tahu kebutuhan mereka, memahami kondisi kehidupan mereka, dan memberikan bimbingan atau bantuan jika mereka mengalami masalah atau kesulitan,” pungkas Sugianto Kusuma.

Demikianlah cara membimbing semua makhluk. Bodhisattva membutuhkan teladan untuk belajar menolong orang yang menderita. Saat ini, kita harus meneladan cinta kasih Buddha dan Bodhisattva yang dipuji Buddha. Jadi, kalian adalah Bodhisattva dunia zaman sekarang.
Di mana pun ada penderitaan, kalian segera muncul untuk memberikan pertolongan. Saya sangat bersyukur dan tersentuh. Saya bersyukur kepada Bodhisattva sekalian. Demikianlah insan Tzu Chi bersumbangsih. Selain menjalankan bisnis dengan baik, kalian juga harus ingat untuk menginspirasi lebih banyak orang di tengah masyarakat guna menyelami ajaran Buddha dan menapaki Jalan Bodhisattva. Semoga masyarakat harmonis dan dunia terbebas dari bencana. Inilah harapan terbesar saya.
Selama 60 tahun ini, Tzu Chi telah terjun ke tengah masyarakat. Saya pun telah memperoleh balasan. Ada begitu banyak insan Tzu Chi yang menjalankan Tzu Chi bersama saya. Namun, bagaimana saya membalas kebaikan Tiga Permata? Saya bertekad dan berikrar untuk mewariskan ajaran Buddha dari generasi ke generasi. Saya selalu merasa sangat khawatir.
Saat ini, kita berada pada era kemunduran Dharma. Nilai moral dan prinsip kebenaran terus memudar. Kita hendaknya terus mengingatkan orang-orang untuk membalas budi luhur orang tua. Sulit untuk membalas budi luhur orang tua. Bagaimana cara membalas budi luhur orang tua? Selagi orang tua masih hidup, kita harus menggenggam waktu dan jalinan jodoh untuk membimbing mereka bergabung dengan Tzu Chi dan menapaki Jalan Bodhisattva agar mereka dapat langsung mendengar ajaran Buddha, mempraktikkan Dharma, dan menapaki Jalan Bodhisattva sekarang. Ini baru benar-benar membalas budi luhur orang tua.
Seandainya orang tua telah tiada, kita harus membimbing semua makhluk secara luas. Orang tua yang kita gandeng tangannya untuk bergabung dengan Tzu Chi mungkin adalah orang tua kita di kehidupan lampau. Anak-anak yang kita gandeng tangannya mungkin adalah guru kita di kehidupan lampau. Jadi, baik dengan orang tua, guru, maupun teman kita, kita harus menjalin jodoh baik. Baik dahulu maupun sekarang, kalian pasti pernah menghadapi rintangan.
Saya juga pernah menghadapi “angin kegelapan batin” yang sangat menyakitkan bagai sayatan pisau. Namun, saya menahan semua itu sambil bersyukur. Saya bersyukur karena tanpa terpaan angin ini, saya tidak akan bisa melatih diri sendiri untuk berdiri dengan mantap. Karena itu, setiap kali menghadapi rintangan, kita harus ingat untuk bersyukur dan lebih banyak menjalin jodoh baik.
Dalam interaksi antarmanusia, kita harus senantiasa bersyukur. Terhadap orang baik, kita harus bersyukur. Terhadap orang yang tidak baik, kita juga harus bersyukur karena mereka melatih kita untuk menggenggam jalinan jodoh dan mengembangkan kekuatan. Inilah yang disebut menapaki Jalan Bodhisattva secara nyata. Singkat kata, saya bersyukur atas kekuatan cinta kasih para Bodhisattva.
Mari kita mendukung pelatihan diri satu sama lain tanpa saling menyakiti, melainkan saling menghibur. Jika tahu bahwa ada yang terjebak dalam suatu masalah, kita hendaknya segera menggandeng dan mengelus tangan mereka untuk menghibur dan memotivasi mereka. Jika tidak menghadapi tempaan atau ujian, itu berarti jalinan jodoh baik kita belum matang.
Kita harus senantiasa waspada karena tidak tahu kapan jalinan jodoh baik akan datang menguji kita. Kita hendaknya senantiasa membina rasa syukur. Jika bisa demikian, kita pasti akan memiliki kesempatan untuk menapaki Jalan Bodhisattva.

Merangkul semua makhluk yang menderita dengan cinta kasih
Mewarisi dan mengembangkan cinta kasih Bodhisattva
Mempraktikkan ajaran Buddha demi membalas budi luhur orang tua
Memberikan penghiburan dan menjalin jodoh baik di dunia

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 18 Mei 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 20 Mei 2026

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

MPO88ASIA

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888