Ketika Cinta Kasih Menyusuri Lorong Sunter Muara
Setiap hari, Soleha mencari nafkah dengan mengumpulkan botol plastik bekas di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Satu per satu botol itu ia kumpulkan, lalu dipilah dengan telaten: labelnya dilepas, botolnya diremas agar lebih mudah disimpan, hingga akhirnya terkumpul karung demi karung.
Dari kerja keras kedua tangannya, ia menjual botol plastik bekas kepada pengepul dengan harga lebih kurang Rp3.500 per kilogram. Penghasilan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar seperti membeli gas, minyak goreng, beras, dan air untuk memasak.“Yang penting bisa menyambung hidup saja. Jalani saja,” tuturnya dengan senyum yang tulus.
Di rumah sederhananya, beras biasanya disimpan dalam gentong lama, lalu dimasak dengan panci seadanya. Hari itu, wajah Soleha tampak lebih cerah saat menerima Beras Cinta Kasih Tzu Chi sebanyak 10 kg.
“Senang sekali. Alhamdulillah, bisa buat makan sehari-hari. Terima kasih, saya bersyukur,” ujarnya dengan mata berbinar. Meski tengah menjalankan ibadah puasa, Soleha tetap menjalani hari-harinya dengan tabah, tanpa keluhan.
Kehadiran bantuan tersebut juga mendapat apresiasi dari Lurah Sunter Agung, Teguh Subroto, S.STP. Ia menyampaikan rasa syukur atas kepedulian yang terus dihadirkan bagi warganya.
“Perasaan kami tentu senang. Alhamdulillah, ada warga yang mendapatkan bantuan paket beras ini. Semoga dapat dimanfaatkan dengan baik, terutama menjelang hari raya. Beras 10 kg ini tentu sangat berarti bagi warga. Kita juga memahami bahwa Yayasan Buddha Tzu Chi selalu hadir tanpa membedakan lapisan masyarakat, terus menebarkan cinta kasih dan kebaikan universal bagi masyarakat,” ujarnya.
Dengan suara yang bergetar menahan haru, ia menceritakan kondisi keluarganya.
“Alhamdulillah, ada relawan yang datang ke rumah Ibu RT untuk memberikan kupon beras. Saya mendapat beras dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Kebetulan suami saya sudah sakit selama 11 bulan, dan saya juga mengalami retak tulang, terimakasih” tuturnya perlahan.
Di Sunter Muara, butiran beras mungkin tampak kecil dan sederhana. Namun, di tangan mereka yang membutuhkan, butiran itu menjelma menjadi harapan. Sebuah pengingat bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada kepedulian yang menyusuri lorong-lorong sempit, membawa pesan kemanusiaan yang tak mengenal batas.
Jurnalis : Rosy Velly Salim (He Qi Jakarta Pusat),
Fotografer : Rosy Velly Salim, Indrawati (He Qi Jakarta Pusat),
Editor : Fikhri Fathoni.