Memutar Roda Dharma di Tengah Masyarakat
“Saya telah 35 tahun melakukan survei kasus di Komunitas Pyanan, Datong. Pada 35 tahun yang lalu, kondisi jalan kurang baik, bahkan sebagian sangat buruk. Adakalanya, kami harus menyeberangi dasar sungai. Karena itu, saya berikrar untuk menjadi ‘kaki’ para relawan kita. Saya lalu membeli sebuah van berkapasitas 9 orang untuk membawa para relawan. Saya telah melakukannya selama 35 tahun,” kata Wu Hong-tai, relawan Tzu Chi.
“Saya pernah terkena strok dan berpikir untuk menyerahkan tanggung jawab ini kepada orang lain. Setiap perjalanan menghabiskan waktu sepanjang hari. Saya mungkin berangkat sekitar pukul 7 pagi dan kembali sekitar pukul 7 atau 8 malam. Jadi, setiap perjalanan butuh waktu belasan jam,” lanjut Wu Hong-tai.
Wu Hong-tai melanjutkan “Dalam proses ini, saya melihat orang-orang yang berhati murni, tetapi mengalami penderitaan hidup karena kecelakaan ataupun faktor keluarga. Meski setiap perjalanan butuh waktu belasan jam, tetapi dapat melenyapkan penderitaan dan mengatasi kesulitan hidup mereka membuat saya merasa bahwa semua itu sepadan. Jadi, asalkan ada tekad, maka tidak ada yang sulit.”
“Melakukan survei kasus selama 35 tahun ini merupakan jalan terbaik bagi saya untuk menciptakan berkah. Saya akan terus menapaki jalan ini hingga napas terakhir. Selama masih bisa menyetir, saya pasti akan terus melakukannya,” pungkas Wu Hong-tai.
Kita semua memiliki tujuan hidup. Kalian pergi ke pegunungan bukan untuk bersenang-senang, melainkan mengunjungi orang-orang yang menderita. Setelah bersusah payah mendaki gunung, yang kita lihat ialah kehidupan yang jauh lebih susah. Mereka membutuhkan kita. Karena itu, kita harus lebih bersungguh hati.
“Kami menjalankan program Toko Cinta Kasih dan berikrar untuk menginspirasi lebih dari seribu toko. Akhirnya, pada bulan September tahun lalu, berkat kerja keras seluruh tim, kami berhasil menginspirasi seribu took,” kata Wu Zhen-yu, relawan Tzu Chi.
Saya sungguh bersyukur pada kalian. Kalian harus terus menggalang Toko Cinta Kasih dan berbagi Dharma dengan para pemilik toko. Kalian harus menggenggam jalinan jodoh ini agar benih cinta kasih orang-orang dapat berakar, bertunas, dan bertumbuh dengan subur. Dengan demikian, barulah kita bisa membangkitkan cinta kasih di toko-toko. Saya berharap lewat celengan bambu kita, orang-orang bisa terus terinspirasi untuk membangkitkan cinta kasih dari waktu ke waktu. Inilah berkah.
Setiap hari, saat duduk di sini, saya merasa bahwa saya dipenuhi berkah. Tanpa pergi ke mana-mana, saya bisa melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang terjadi di seluruh dunia. Inilah berkah terbesar saya di kehidupan sekarang. Saya juga berbagi dengan orang-orang tentang apa yang saya dengar sehingga orang-orang juga dapat memanfaatkannya. Inilah roda Dharma.
Roda Dharma tidak bisa diputar sendirian. Butuh banyak orang untuk memutarnya. Untuk menyebarkan ajaran Buddha di dunia, umat Buddha harus menunjukkan nilai ajaran Buddha. Bagaimana kita menunjukkan nilai ajaran Buddha? Dengan terjun ke tengah masyarakat dan mengulurkan tangan bagi semua makhluk yang menderita.
Saat melihat penderitaan, apa yang kita rasakan? Jika belum melihat penderitaan, kita tidak akan menyadari berkah. Setelah melihat penderitaan, kita baru sadar bahwa kita dipenuhi berkah. Karena itu, kita harus bersungguh hati. Kalian harus tahu bahwa makin banyak orang yang tertolong, itu menandakan bahwa kita giat bersumbangsih. Jika orang yang tertolong berkurang, itu menandakan bahwa kita tidak mempraktikkan Dharma di dunia.
Insan Tzu Chi sangatlah istimewa. Orang-orang tahu bahwa jika mereka melaporkan sebuah kasus kepada kita, kondisi komunitas atau keluarga tersebut akan berubah. Jika kita aktif bersumbangsih di komunitas, orang-orang tentu akan lebih dekat dengan kita. Mereka akan memberi tahu kita jika ada orang yang kekurangan atau menderita dan kita bisa berbagi dengan mereka tentang nilai dari menapaki Jalan Bodhisattva.
Namun, perlu kita ketahui bahwa usia kehidupan kita terus berkurang dari hari ke hari. Seiring berkurangnya usia kehidupan, waktu kita untuk menciptakan berkah juga berkurang. Kita harus ingat bahwa waktu untuk menciptakan berkah terus berkurang. Kondisi kehidupan berikutnya bergantung pada kehidupan sekarang dan kondisi kehidupan sekarang ditentukan oleh kehidupan sebelumnya.
Roda Dharma tidak bisa diputar sendirian. Butuh banyak orang untuk memutarnya. Untuk menyebarkan ajaran Buddha di dunia, umat Buddha harus menunjukkan nilai ajaran Buddha. Bagaimana kita menunjukkan nilai ajaran Buddha? Dengan terjun ke tengah masyarakat dan mengulurkan tangan bagi semua makhluk yang menderita.
Saat melihat penderitaan, apa yang kita rasakan? Jika belum melihat penderitaan, kita tidak akan menyadari berkah. Setelah melihat penderitaan, kita baru sadar bahwa kita dipenuhi berkah. Karena itu, kita harus bersungguh hati. Kalian harus tahu bahwa makin banyak orang yang tertolong, itu menandakan bahwa kita giat bersumbangsih. Jika orang yang tertolong berkurang, itu menandakan bahwa kita tidak mempraktikkan Dharma di dunia.
Insan Tzu Chi sangatlah istimewa. Orang-orang tahu bahwa jika mereka melaporkan sebuah kasus kepada kita, kondisi komunitas atau keluarga tersebut akan berubah. Jika kita aktif bersumbangsih di komunitas, orang-orang tentu akan lebih dekat dengan kita. Mereka akan memberi tahu kita jika ada orang yang kekurangan atau menderita dan kita bisa berbagi dengan mereka tentang nilai dari menapaki Jalan Bodhisattva.
Namun, perlu kita ketahui bahwa usia kehidupan kita terus berkurang dari hari ke hari. Seiring berkurangnya usia kehidupan, waktu kita untuk menciptakan berkah juga berkurang. Kita harus ingat bahwa waktu untuk menciptakan berkah terus berkurang. Kondisi kehidupan berikutnya bergantung pada kehidupan sekarang dan kondisi kehidupan sekarang ditentukan oleh kehidupan sebelumnya.
Karena itulah, kita harus menapaki Jalan Bodhisattva dari kehidupan ke kehidupan. Kita harus menjalin jodoh baik dengan orang-orang di setiap kehidupan. Kita sangat beruntung bisa bertemu dengan orang-orang yang menderita dan berkesempatan untuk bersumbangsih. Jika kita tidak memiliki jalinan jodoh untuk menolong sesama, itu bukan karena orang yang menderita berkurang, melainkan tekad kita untuk menapaki Jalan Bodhisattva mulai mundur.
Coba kalian pikirkan. Sebelumnya, saat kalian bekerja keras untuk bersumbangsih, setiap hari, Tzu Chi ada di dalam hati kalian dan saya pun ada di dalam benak kalian. Coba kalian renungkan sendiri. Saya berharap kalian dapat memanfaatkan Aula Jing Si di Yilan untuk mengadakan kegiatan ataupun berbagi kisah dan pengalaman. Tempat itu adalah ladang pelatihan, tempat kalian memutar roda Dharma.
Memutar roda Dharma berarti membawa Dharma ke sana dan menyebarkan kebajikan. Dharma adalah ajaran kebajikan. Kita menyebarkan Dharma di tengah masyarakat demi membimbing semua makhluk menapaki jalan kebajikan. Jalan kebajikan adalah Jalan Bodhisattva. Jadi, ajaran kebajikan dan ajaran Buddha menunjukkan jalan yang sama.
Di Aula Jing Si, kalian bisa berbagi tentang perbuatan baik, budaya setempat, dan hal-hal yang Tzu Chi lakukan di seluruh dunia. Ada banyak kisah yang bisa kita bagikan karena Dharma ada di dalam hati kita. Semua yang saya babarkan adalah ajaran Buddha dan ajaran kebajikan. Hendaklah kalian menyerap ajaran saya ke dalam hati.
Kini, saya telah lanjut usia. Saya mengingatkan kalian setiap hari bahwa saya telah lanjut usia. Kini, saya harus menguras tenaga untuk berbicara. Karena itu, kalian harus lebih bersungguh hati mendengarnya dan menyerapnya ke dalam hati. Kita harus meneruskan jalinan jodoh kita hingga kehidupan mendatang. Ingatlah ajaran yang kalian dengar sekarang dan kenanglah ajaran yang saya sampaikan sebelumnya. Kita harus mengingatnya dengan baik agar dapat mempraktikkannya dari kehidupan ke kehidupan. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu.
Memutar roda Dharma berarti membawa Dharma ke sana dan menyebarkan kebajikan. Dharma adalah ajaran kebajikan. Kita menyebarkan Dharma di tengah masyarakat demi membimbing semua makhluk menapaki jalan kebajikan. Jalan kebajikan adalah Jalan Bodhisattva. Jadi, ajaran kebajikan dan ajaran Buddha menunjukkan jalan yang sama.
Di Aula Jing Si, kalian bisa berbagi tentang perbuatan baik, budaya setempat, dan hal-hal yang Tzu Chi lakukan di seluruh dunia. Ada banyak kisah yang bisa kita bagikan karena Dharma ada di dalam hati kita. Semua yang saya babarkan adalah ajaran Buddha dan ajaran kebajikan. Hendaklah kalian menyerap ajaran saya ke dalam hati.
Kini, saya telah lanjut usia. Saya mengingatkan kalian setiap hari bahwa saya telah lanjut usia. Kini, saya harus menguras tenaga untuk berbicara. Karena itu, kalian harus lebih bersungguh hati mendengarnya dan menyerapnya ke dalam hati. Kita harus meneruskan jalinan jodoh kita hingga kehidupan mendatang. Ingatlah ajaran yang kalian dengar sekarang dan kenanglah ajaran yang saya sampaikan sebelumnya. Kita harus mengingatnya dengan baik agar dapat mempraktikkannya dari kehidupan ke kehidupan. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu.
Mengenai Toko Cinta Kasih, saya selalu memberi tahu kalian bahwa ada cinta kasih di sana. Sesungguhnya, di manakah cinta kasih itu? Apakah kalian tahu? Di dalam hati setiap orang. Kita harus membangkitkan cinta kasih orang-orang. Jika cinta kasih orang-orang tidak terbangkitkan, celengan bambu sebesar apa pun tidak ada gunanya.
Di toko-toko itu, jika kalian tidak berbagi Dharma, saat kalian kembali berkunjung, celengan bambu di sana akan tetap kosong. Jadi, saat menaruh celengan bambu di toko-toko, kita harus berbagi Dharma dengan para pemilik toko agar mereka dapat kembali menyebarkannya untuk menginspirasi orang-orang memberi dengan cinta kasih. Jika tidak, celengan bambu hanyalah celengan bambu. Kita harus mengembangkan fungsinya.
Sungguh, dengan memasukkan uang ke dalam celengan bambu, orang-orang dapat mengakumulasi cinta kasih untuk menolong sesama. Kini, kita bukan hanya menyalurkan bantuan di Taiwan, melainkan di seluruh dunia. Kini, Taiwan dipenuhi berkah yang berlimpah. Kita telah memupuk banyak kebajikan untuk menolong orang-orang yang menderita di seluruh dunia.
Di toko-toko itu, jika kalian tidak berbagi Dharma, saat kalian kembali berkunjung, celengan bambu di sana akan tetap kosong. Jadi, saat menaruh celengan bambu di toko-toko, kita harus berbagi Dharma dengan para pemilik toko agar mereka dapat kembali menyebarkannya untuk menginspirasi orang-orang memberi dengan cinta kasih. Jika tidak, celengan bambu hanyalah celengan bambu. Kita harus mengembangkan fungsinya.
Sungguh, dengan memasukkan uang ke dalam celengan bambu, orang-orang dapat mengakumulasi cinta kasih untuk menolong sesama. Kini, kita bukan hanya menyalurkan bantuan di Taiwan, melainkan di seluruh dunia. Kini, Taiwan dipenuhi berkah yang berlimpah. Kita telah memupuk banyak kebajikan untuk menolong orang-orang yang menderita di seluruh dunia.
Menyadari berkah setelah melihat penderitaan dan membangkitkan niat baik
Menggalang Toko Cinta Kasih dan menghimpun jalinan jodoh berkah
Menginspirasi orang menapaki Jalan Bodhisattva dengan semangat celengan bambu
Memutar roda Dharma di tengah masyarakat
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 30 Mei 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 01 Juni 2026