Asyiknya Belajar Membatik di Langgam Batik
Indonesia memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi sejak dahulu kala. Setiap daerah memiliki ciri khas budaya yang perlu dihargai dan dilestarikan. Salah satu warisan budaya tersebut adalah batik, kain khas Indonesia yang telah diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada tanggal 2 Oktober 2009 sebagai warisan budaya dunia. Setiap motif batik mengandung nilai filosofis dan spiritual yang menjadikannya simbol identitas bangsa.
Untuk mengenalkan batik kepada generasi muda, pada hari Minggu, 14 Juni 2026, sebanyak 25 relawan Tzu Chi Medan dan 21 murid Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen (Jing Si Ban) mengikuti kegiatan outdoor class di Langgam Batik dan Souvenir, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman untuk mencoba membatik sekaligus melatih kesabaran, ketelitian, dan konsentrasi anak-anak.
Husni, selaku koordinator kegiatan, mengatakan bahwa anak-anak tidak hanya belajar mengenal jenis dan teknik batik, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik langsung. “Dengan kegiatan ini, anak-anak belajar mengenal batik, jenisnya, serta teknik pembuatannya. Mereka juga belajar kesabaran dan ketelitian melalui praktik membatik,” ujarnya.
Untuk mengenalkan batik kepada generasi muda, pada hari Minggu, 14 Juni 2026, sebanyak 25 relawan Tzu Chi Medan dan 21 murid Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen (Jing Si Ban) mengikuti kegiatan outdoor class di Langgam Batik dan Souvenir, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman untuk mencoba membatik sekaligus melatih kesabaran, ketelitian, dan konsentrasi anak-anak.
Husni, selaku koordinator kegiatan, mengatakan bahwa anak-anak tidak hanya belajar mengenal jenis dan teknik batik, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik langsung. “Dengan kegiatan ini, anak-anak belajar mengenal batik, jenisnya, serta teknik pembuatannya. Mereka juga belajar kesabaran dan ketelitian melalui praktik membatik,” ujarnya.
Langgam Batik didirikan oleh Rafika Johani pada tahun 2008. Berawal dari usaha kecil di rumah, ia memiliki visi melestarikan motif khas Sumatera Utara ke dalam karya batik. Kini, Langgam Batik telah mengembangkan batik dari delapan etnis Sumatera Utara: Melayu, Karo, Simalungun, Pakpak, Toba, Angkola, Mandailing, dan Nias hingga menembus pasar nasional. Selain melestarikan budaya, usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan serta menerapkan prinsip ramah lingkungan dengan bahan alami tanpa limbah (zero waste).
Rafika menyambut hangat kedatangan relawan Tzu Chi dan murid Kelas Kata Perenungan. Ia menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut yang dinilai sejalan dengan upaya pelestarian budaya dan pendidikan karakter. “Terima kasih atas kunjungan relawan dan anak-anak Tzu Chi. Semoga menjadi pengalaman berharga dan semakin menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Indonesia,” ungkapnya.
Kegiatan diawali dengan pemutaran video pengenalan Langgam Batik, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai jenis, motif, dan teknik pembuatan batik. Setelah itu, para peserta dibagi menjadi dua kelompok: murid Teen perempuan membuat batik tulis, sementara murid Teen laki-laki dan Kids membuat batik cap.
Rafika menyambut hangat kedatangan relawan Tzu Chi dan murid Kelas Kata Perenungan. Ia menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut yang dinilai sejalan dengan upaya pelestarian budaya dan pendidikan karakter. “Terima kasih atas kunjungan relawan dan anak-anak Tzu Chi. Semoga menjadi pengalaman berharga dan semakin menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Indonesia,” ungkapnya.
Kegiatan diawali dengan pemutaran video pengenalan Langgam Batik, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai jenis, motif, dan teknik pembuatan batik. Setelah itu, para peserta dibagi menjadi dua kelompok: murid Teen perempuan membuat batik tulis, sementara murid Teen laki-laki dan Kids membuat batik cap.
Batik tulis dibuat secara manual menggunakan canting dan malam (lilin cair), sedangkan batik cap menggunakan stempel tembaga untuk mencetak motif. Dengan bimbingan staf Langgam Batik dan relawan, para peserta mengikuti setiap tahap dengan antusias, mulai dari membuat pola hingga mewarnai kain. Setelah dua jam praktik, mereka berhasil menyelesaikan karya masing-masing dengan penuh kebanggaan.
Salah satu peserta, Qeyko Hendy Ang, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang menantang. “Ternyata membatik butuh kesabaran dan fokus tinggi. Motif Melayu Serdang yang saya buat cukup rumit, tetapi sangat melatih ketelitian,” ujarnya.
Peserta lainnya, Maxx Lionell Ong, juga merasa senang dapat mencoba batik cap untuk pertama kalinya. “Suasananya cukup panas, tetapi saya sangat senang karena ini pengalaman baru yang tidak saya dapatkan di sekolah,” katanya.
Kegiatan outdoor class ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa. Husni berharap pengalaman ini dapat menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap batik Sumatera Utara. “Semoga anak-anak semakin mencintai budaya Indonesia dan terus melestarikannya,” tutupnya.
Jurnalis : Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Synhanny, Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.
Peserta lainnya, Maxx Lionell Ong, juga merasa senang dapat mencoba batik cap untuk pertama kalinya. “Suasananya cukup panas, tetapi saya sangat senang karena ini pengalaman baru yang tidak saya dapatkan di sekolah,” katanya.
Kegiatan outdoor class ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa. Husni berharap pengalaman ini dapat menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap batik Sumatera Utara. “Semoga anak-anak semakin mencintai budaya Indonesia dan terus melestarikannya,” tutupnya.
Jurnalis : Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Synhanny, Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.