Kegiatan di Sumatera Utara

Ketika Ketulusan Menjadi Warisan Kebijaksanaan

Membaca buku bukan hanya tentang menuntaskan setiap halaman, melainkan juga tentang memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak, merenung, dan menemukan makna di balik setiap kisah. Melalui kegiatan bedah buku, kita diajak untuk melihat lebih dalam pesan-pesan yang tersirat, mengambil kebijaksanaan dari setiap kisah, serta menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Setiap cerita yang dibaca dapat menjadi cermin bagi diri sendiri, mengingatkan kita untuk terus belajar, berbuat baik, dan menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.
Pada hari Jumat, 17 Juli 2026, Relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Perintis mengadakan kegiatan bedah buku karya Master Cheng Yen yang berjudul Membeli Kebijaksanaan yang dilakukan di Jingsi Books & Café Jalan Perintis Kemerdekaan, Komplek Grand Jati Junction, Medan. Dalam kegiatan ini, sebanyak 66 Relawan Tzu Chi hadir, mereka bersama-sama menyelami kisah Kakek Bijaksana yang Tanpa Pamrih, sebuah cerita yang mengajarkan tentang ketulusan, kebijaksanaan, dan kasih yang diberikan tanpa mengharapkan balasan.
Dalam cerita tersebut, sang kakek bijaksana mengajarkan bahwa membantu orang lain tidak cukup hanya dengan niat baik. Kita juga perlu belajar mendengarkan, mengamati, dan memahami dengan hati. Mendengarkan berarti memberi ruang bagi orang lain untuk menceritakan apa yang sedang mereka alami, sehingga kita dapat hadir dan membantu sesuai dengan kebutuhan mereka.
Relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Perintis dengan penuh suka cita berkumpul bersama membahas cerita dalam kegiatan bedah buku.
Mellisa Sim, relawan yang menjadi memandu acara tersebut, memperkenalkan narasumber serta menyampaikan sekilas mengenai kegiatan bedah buku.
Para relawan tampak fokus membaca buku dalam kegiatan bedah buku, serta menyimak penyampaian materi yang disampaikan oleh narasumber.
Pesan tentang kebijaksanaan dalam buku ini menjadi semakin bermakna ketika dihubungkan dengan kisah yang dibagikan oleh salah satu narasumber, Roslina Yun. Ia menceritakan pengalaman hidupnya yang cukup menyentuh, Saat beranjak dewasa, ia baru mengetahui bahwa dirinya merupakan anak angkat. Kenyataan tersebut sempat membuatnya mengalami pergulatan batin yang mendalam. Ia merasakan kekecewaan yang mendalam, bahkan menyimpan rasa marah kepada orang tua kandungnya karena merasa telah kehilangan kesempatan untuk mengetahui jati dirinya sejak awal.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia belajar untuk melihat kembali kehidupannya dengan hati yang lebih terbuka, mencoba memahami keadaan dan alasan yang mungkin melatarbelakangi keputusan orang tuanya. Perlahan, rasa marah dan kecewa yang selama ini membebani hatinya mulai ia lepaskan, hingga akhirnya ia mampu memaafkan orang tuanya.
“kita tidak dapat memilih dimana kita dilahirkan, siapa orang tua kita, siapa anak-anak kita, namun kita harus tetap bersyukur dan terus menciptakan berkah baik,” ujar Roslina Yun.
Hal lainnya juga disampaikan, Yenny Waty, yang menceritakan bahwa kakek dalam cerita tersebut digambarkan sebagai sosok yang membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau pujian. Kebijaksanaannya digunakan untuk membawa manfaat bagi banyak orang. “kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang diperoleh dalam sekejap, melainkan hasil dari hati yang mau mendengarkan, pikiran yang mau belajar, serta tindakan yang selalu dilandasi ketulusan untuk membawa manfaat bagi sesame,” ucap Yenny Waty.
Roslina Yun (Kiri) dan Yenny Waty (Kanan) sebagai narasumber yang menyampaikan materi dalam kegiatan bedah buku yang diselenggarakan relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Perintis.
Salah satu peserta, Tan Lie Tjin yang menceritakan pengalamannya sebagai relawan mendapatkan pelajaran dari cerita sang kakek yang berbuat baik dengan penuh ketulusan.
Salah satu peserta Tan Lie Tjin, juga menyampaikan bahwa ia mendapatkan pelajaran dari cerita yang disampaikan oleh kedua narasumber, “Kakek dalam cerita berbuat baik tanpa pamrih juga tak mengharapkan balasan menyelamatkan orang lain, hal itu menjadi teladan yang perlu kami terapkan sebagai relawan Tzu Chi,” ucapnya.
Peserta lainnya, Shu Tjeng, menghubungkan kisah kakek tersebut dengan para relawan Tzu Chi yang sudah bekerja tanpa pamrih dalam membantu korban bencana yang terjadi di Aceh dan Sibolga beberapa waktu yang lalu lewat bantuan logistik yang diberikan “Hingga saat ini, Tzu Chi terus mendampingi masyarakat yang terdampak bencana melalui pembangunan hunian tetap yang sudah direalisasikan secara bertahap. Melalui setiap upaya ini, Master Cheng Yen Master Cheng Yen, menginginkan kita sebagai relawan untuk bisa membantu sesama” tuturnya.
Sebagaimana disebutkan dalam perenungan Master Cheng Yen, “Perbuatan baik harus diwujudkan dalam nyata, kebijaksanaan yang tumbuh dari perbuatan baik tersebut baru benar-benar bermanfaat dalam kehidupan,” yang artinya kita tidak harus menunggu menjadi orang hebat untuk melakukan kebaikan. Seperti kakek dalam kisah ini, kita dapat memulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar. Ketika Mendengarkan seseorang berbicara, membantu jika ada yang kesulitan, memberikan semangat kepada seseorang yang mulai kehilangan harapan, dan berbagi tanpa mengharapkan balasan adalah bentuk kebajikan yang dapat dilakukan siapa saja.

Jurnalis : Yanti Yunita (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Yanti Yunita (Tzu Chi Medan),
Editor : Nur Al Fajar Rumsari.