Menebarkan Kehangatan di Panti Werdha Wisma Sahabat Baru
Relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Grogol yang termasuk bagian He Qi Jakarta Barat 3, mengadakan kegiatan kunjungan kasih di Wisma Sahabat Baru, Duri Kepa, Jakarta Barat, pada hari Kamis, 28 Mei 2026. Bertepatan dengan libur cuti bersama idul adha, para relawan hadir menemani opa dan oma, untuk menghadirkan kehangatan melalui perhatian sederhana dan kebersamaan yang tulus.
Sejak pagi, suasana hangat sudah terasa ketika para relawan menyapa opa dan oma dengan senyum dan kasih. Kegiatan diawali dengan senam bersama lagud Disini Senang, Disana Senang yang dipandu relawan Tzu Chi yaitu Henny dan Yenny. Dengan iringan musik yang ceria, para opa dan oma mengikuti gerakan sesuai kemampuan masing-masing. Meski sebagian besar memiliki keterbatasan fisik karena sakit dan usia lanjut, semangat mereka tetap terpancar dalam setiap gerakan sederhana yang dilakukan bersama-sama.
Para relawan kemudian mendampingi opa dan oma dengan penuh perhatian. Genggaman tangan hangat menghadirkan suasana akrab layaknya keluarga sendiri. Acara kemudian dibuka oleh Alex selaku Ketua Xie Li Jembatan Besi, kemudian dilanjutkan dengan penampilan isyarat tangan lagu Satu Keluarga yang dipandu oleh Fie Lan dan tim relawan.
Sejak pagi, suasana hangat sudah terasa ketika para relawan menyapa opa dan oma dengan senyum dan kasih. Kegiatan diawali dengan senam bersama lagud Disini Senang, Disana Senang yang dipandu relawan Tzu Chi yaitu Henny dan Yenny. Dengan iringan musik yang ceria, para opa dan oma mengikuti gerakan sesuai kemampuan masing-masing. Meski sebagian besar memiliki keterbatasan fisik karena sakit dan usia lanjut, semangat mereka tetap terpancar dalam setiap gerakan sederhana yang dilakukan bersama-sama.
Para relawan kemudian mendampingi opa dan oma dengan penuh perhatian. Genggaman tangan hangat menghadirkan suasana akrab layaknya keluarga sendiri. Acara kemudian dibuka oleh Alex selaku Ketua Xie Li Jembatan Besi, kemudian dilanjutkan dengan penampilan isyarat tangan lagu Satu Keluarga yang dipandu oleh Fie Lan dan tim relawan.
Selanjutnya adalah sesi mewarnai. Salah satu peserta, Oma Yana, tampak begitu antusias menggoreskan warna demi warna pada gambarnya. Dengan teliti, ia menyelesaikan hasil warnanya hingga terlihat rapi dan penuh warna.
Kegiatan dilanjutkan dengan membuat pembatas buku dari manik-manik yang terdapat Kata Perenungan Master Cheng Yen, lalu dibacakan kepada seluruh peserta sebagai penyemangat dan ungkapan cinta kasih. Setelah itu, dilanjutkan dengan bernyanyi bersama lagu-lagu nostalgia seperti Teluk Bayur dan Surabaya. Tawa dan senyum bahagia memenuhi ruangan ketika opa dan oma bernyanyi bernyanyi bersama relawan.
Kegiatan dilanjutkan dengan membuat pembatas buku dari manik-manik yang terdapat Kata Perenungan Master Cheng Yen, lalu dibacakan kepada seluruh peserta sebagai penyemangat dan ungkapan cinta kasih. Setelah itu, dilanjutkan dengan bernyanyi bersama lagu-lagu nostalgia seperti Teluk Bayur dan Surabaya. Tawa dan senyum bahagia memenuhi ruangan ketika opa dan oma bernyanyi bernyanyi bersama relawan.
Di balik suasana hangat tersebut, terdapat sosok-sosok yang setiap hari merawat opa dan oma dengan penuh pengabdian. Suster Astrid, yang telah mengabdi di Wisma Sahabat Baru selama tiga tahun, membagikan kisah tentang keseharian para warga panti. Tempat yang berada di bawah naungan Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) ini menerima Lansia yang sakit, terlantar, dan kurang mampu tanpa memandang suku maupun agama.
Ia menceritakan bahwa sebagian besar Lansia di panti mengalami stroke sehingga membutuhkan bantuan penuh untuk menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari mandi, makan, hingga berpindah dari tempat tidur.
“Pelayanan harus dimulai dari hati. Kita juga nanti akan menjadi tua dan suatu saat berharap diperlakukan dengan baik. Ketika kita melayani mereka dengan tulus, itu juga menjadi karma baik bagi diri kita sendiri.” ungkap suster Astrid.
Ketika ada Lansia baru yang datang dengan perasaan sedih dan kebingungan, para suster berusaha mendekati mereka secara perlahan, mengajak berbincang, mendengarkan cerita hidup, serta memahami hal-hal kecil yang mereka sukai. Dari perhatian sederhana itulah, perlahan tumbuh rasa nyaman dan perasaan diterima.
Ia menceritakan bahwa sebagian besar Lansia di panti mengalami stroke sehingga membutuhkan bantuan penuh untuk menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari mandi, makan, hingga berpindah dari tempat tidur.
“Pelayanan harus dimulai dari hati. Kita juga nanti akan menjadi tua dan suatu saat berharap diperlakukan dengan baik. Ketika kita melayani mereka dengan tulus, itu juga menjadi karma baik bagi diri kita sendiri.” ungkap suster Astrid.
Ketika ada Lansia baru yang datang dengan perasaan sedih dan kebingungan, para suster berusaha mendekati mereka secara perlahan, mengajak berbincang, mendengarkan cerita hidup, serta memahami hal-hal kecil yang mereka sukai. Dari perhatian sederhana itulah, perlahan tumbuh rasa nyaman dan perasaan diterima.
Salah satu warga panti, Oma Siska yang kini berusia 89 tahun, juga membagikan kisah kesehariannya. Setiap hari ia bangun sejak pukul empat pagi, dibantu para suster untuk mandi, lalu duduk santai sambil minum teh dan berbincang bersama penghuni lainnya sebelum sarapan pagi.
Dalam kegiatan Kunjungan Kasih kali ini, Oma Siska tampak begitu bahagia mengikuti sesi bernyanyi bersama. Didampingi relawan Tzu Chi, Luzy, yang dengan hangat menemaninya sepanjang kegiatan, membuat Oma Siska berkali-kali tersenyum dan menganggap relawan seperti cucunya sendiri.
“Saya senang sekali kalau ada yang datang berkunjung seperti hari ini. Rasanya bahagia sekali, berarti saya masih disayang sama Tuhan.” ungkap Oma Siska dengan wajah gembira.
Selain mengikuti kegiatan bersama relawan, Oma Siska juga menceritakan bahwa di panti terdapat berbagai aktivitas sederhana seperti berdoa, senam pagi, hingga berjemur bersama di halaman agar tubuh tetap sehat dan hati terasa gembira.
Di akhir acara, relawan dan para peserta menikmati makan siang bersama sebelum kegiatan ditutup dengan doa dan foto bersama. Kehangatan yang tercipta menjadi pengingat bahwa perhatian kecil, ketulusan, dan kehadiran yang tulus mampu menghadirkan sukacita dan harapan bagi sesama. Di tengah keterbatasan usia dan kondisi fisik, para opa dan oma tetap menyimpan rindu kebersamaan keluarga.
Jurnalis : Jupiter, Putri Asbih (He Qi Jakarta Barat 3),
Fotografer : Dharma Winata, Elfian, Jupiter, Putri Asbih (He Qi Jakarta Barat 3),
Editor : Fikhri Fathoni.
Dalam kegiatan Kunjungan Kasih kali ini, Oma Siska tampak begitu bahagia mengikuti sesi bernyanyi bersama. Didampingi relawan Tzu Chi, Luzy, yang dengan hangat menemaninya sepanjang kegiatan, membuat Oma Siska berkali-kali tersenyum dan menganggap relawan seperti cucunya sendiri.
“Saya senang sekali kalau ada yang datang berkunjung seperti hari ini. Rasanya bahagia sekali, berarti saya masih disayang sama Tuhan.” ungkap Oma Siska dengan wajah gembira.
Selain mengikuti kegiatan bersama relawan, Oma Siska juga menceritakan bahwa di panti terdapat berbagai aktivitas sederhana seperti berdoa, senam pagi, hingga berjemur bersama di halaman agar tubuh tetap sehat dan hati terasa gembira.
Di akhir acara, relawan dan para peserta menikmati makan siang bersama sebelum kegiatan ditutup dengan doa dan foto bersama. Kehangatan yang tercipta menjadi pengingat bahwa perhatian kecil, ketulusan, dan kehadiran yang tulus mampu menghadirkan sukacita dan harapan bagi sesama. Di tengah keterbatasan usia dan kondisi fisik, para opa dan oma tetap menyimpan rindu kebersamaan keluarga.
Jurnalis : Jupiter, Putri Asbih (He Qi Jakarta Barat 3),
Fotografer : Dharma Winata, Elfian, Jupiter, Putri Asbih (He Qi Jakarta Barat 3),
Editor : Fikhri Fathoni.