Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Berikrar untuk Senantiasa Memurnikan Lima Kekeruhan

Berdasarkan hasil evaluasi insinyur, ruang kelas yang mengalami kerusakan meningkat karena gempa susulan yang terjadi berulang kali. Kami sungguh membutuhkan ruang kelas. Karena kekurangan ruang kelas, kegiatan belajar mengajar tidak bisa dilakukan secara tatap muka, padahal itu lebih efektif,” kata Peter Lito Piquero, Kepala Sekolah Terpadu Valeria Lopez.

Ruang kelas yang aman hanya ada sembilan. Dengan total 1.600 murid, kami membutuhkan 45 ruang kelas, tetapi ruang kelas yang aman hanya ada Sembilan,” kata Margie Morales, Kepala SMA Negeri Leonard Young Sr.

Butuh 50 ruang kelas untuk tiga sekolah. Kegiatan belajar mengajar di semua sekolah terhenti. Murid-murid belum kembali bersekolah,” kata Nelson Chua, relawan Tzu Chi.

Terjangan tornado sepenuhnya mengangkat rumah kami dan memorak-porandakannya. Kami kehilangan segalanya,” kata Julia Williams, korban bencana.

Korban bencana dapat menerima bantuan dari Tzu Chi secara langsung. Ini bukan hanya bantuan finansial. Mereka juga merasakan bahwa dengan bantuan yang akan segera tiba dan pemulihan, segala sesuatu akan menjadi lebih baik di esok hari,” kata Scott Clarke, Kepala Hubungan Eksternal Palang Merah untuk aksi bantuan bencana.

Mereka mengalami bencana ini tanpa tahu bahwa semua ini akan terjadi. Ini membuat saya merasa sangat sedih dan ingin membantu,” kata Alex Chuang, relawan.

Saya sungguh berharap mereka dapat memperoleh motivasi dari orang-orang serta tahu bahwa ada orang di luar sana yang memikirkan mereka dan memotivasi mereka untuk bangkit Kembali,” kata Joy Wang, relawan.
Saya sering berpikir bahwa Tzu Chi adalah tanggung jawab yang sangat besar. Saat ini, kekeruhan di dunia makin tebal. Dunia ini memang penuh dengan lima kekeruhan. Kini, kekeruhan ini sudah sangat tebal. Kita makin membutuhkan orang yang memiliki pengetahuan benar, pandangan benar, dan pemikiran benar untuk membimbing orang-orang. Tentu saja, makin banyak orang, makin besar kekuatan.
Adakalanya, saat mendongak melihat langit, saya melihat matahari bagai muncul dari permukaan laut. Melihat matahari hari ini, saya tahu bahwa saya harus kembali memberikan ceramah hari ini. Namun, di dalam hati juga ada sedikit kesedihan karena bulan telah tenggelam. Jadi, hari demi hari terus berlalu.
Dalam hidup ini, kita harus membangun tekad dan ikrar. Matahari dan bulan selamanya ada. Bagaimana kita berpegang pada semangat matahari dalam menjalankan misi amal? Mari kita bertindak secara nyata dan menggenggam waktu pada siang hari untuk bersumbangsih. Bagaimana dengan bulan? Hendaklah kita selalu mengingatnya di dalam hati agar hati kita bebas dari kegelapan batin. Hati kita sangat murni bagaikan langit yang cerah. Di langit yang cerah, ada bulan yang bersinar cemerlang.
Singkat kata, matahari dan bulan selamanya ada di dalam hati kita. Di siang hari, kita mempraktikkan kebajikan. Saya sering berkata bahwa saat Taiwan beristirahat, Amerika Serikat mulai bersumbangsih. Di seluruh dunia, terdapat perbedaan zona waktu.
Dahulu, saat saya membabarkan Dharma di pagi hari, waktu di berbagai negara lain adalah tengah malam. Pagi di sini adalah tengah malam di berbagai negara lain dan para insan Tzu Chi turut mendengarkan secara daring. Jadi, saat saya memberikan ceramah pagi, insan Tzu Chi di seluruh dunia turut mendengarkan meski waktu setempat adalah siang, sore, ataupun senja.
Jadi, terdapat perbedaan zona waktu. Namun, asalkan ada tekad, tidaklah sulit untuk mendekatkan diri dengan Dharma. Di dalam hati kita harus ada Dharma. Jadi, cinta kasih dan Dharma hendaknya senantiasa ada di dalam hati kita.
Bodhisattva sekalian, mulai sekarang, hendaklah kita menggenggam waktu dengan baik. Saya pun menggenggam waktu setiap hari. Contohnya, sebelum bunyi ketukan papan terdengar pada pukul 4 kurang, saya sudah bangun. Kini, stamina saya terbatas. Namun, saya tetap bisa duduk bermeditasi di ranjang dan mendengarkan para bhiksuni Griya Jing Si membabarkan Dharma di luar. Saya sendiri sangat terhibur mendengarnya.
Murid-murid monastik saya ini telah mewariskan ajaran saya. Mereka tak hanya melantunkan Sutra, tetapi juga peduli terhadap peristiwa yang terjadi di dunia. Adakalanya, saya berpikir, asalkan para praktisi murni dan monastik kita melatih diri dengan tekun, misi saya akan diwarisi oleh banyak orang. Asalkan semuanya mewarisi pemikiran dan kesungguhan hati saya, saya bisa merasa tenang.
Hendaklah kalian senantiasa bertekad dan berikrar untuk melindungi Dharma. Kaum monastik mungkin kurang leluasa untuk bersumbangsih di tengah masyarakat. Tugas utama kalian ialah mempertahankan silsilah Dharma hingga selamanya.
Para praktisi murni dan kaum monastik berpegang pada semangat adiduniawi yang sama. Meski praktisi murni tidak meninggalkan keduniawian seperti kaum monastik, tetapi praktik yang mereka jalankan sama seperti kaum monastik. Mereka juga melepaskan diri dari ikatan keluarga dan menjalani kehidupan sama seperti kaum monastik.
Dengan status umat perumah tangga, mereka bersumbangsih dengan hati kaum monastik. Dengan status umat perumah tangga, lebih mudah bagi mereka untuk bersumbangsih di tengah masyarakat. Para praktisi murni kita pun telah menjalani pelantikan. Saat mereka menjalani pelantikan, saya juga mengundang orang tua dan saudara mereka. Saya masih ingat ikrar yang mereka ucapkan saat saya melantik mereka. Hari itu, saya juga mengundang orang tua dan saudara mereka untuk hadir.
Saya memberi tahu keluarga mereka bahwa mereka telah melepas ikatan keluarga dan mendedikasikan diri demi keluarga yang lebih besar, yakni semua umat manusia di dunia ini. Bagaikan kaum monastik, mereka juga memikul misi Buddha. Dengan sepenuh hati dan tekad, mereka bersumbangsih bagi seluruh umat manusia. Jadi, praktisi murni juga harus menjalani pelantikan di bawah persetujuan anggota keluarga mereka, terutama orang tua.
Saya harap orang tua mereka dapat menyaksikan bagaimana mereka melepas ikatan keluarga kecil dan merangkul seluruh umat manusia sebagai keluarga besar. Tekad dan semangat untuk bersumbangsih di tengah masyarakat inilah yang membedakan mereka dari umat perumah tangga biasa. Saya sangat bersyukur. Ini sangat dibutuhkan.
Di masa mendatang, populasi dunia akan makin banyak sehingga makin membutuhkan semangat ajaran Buddha. Kita pun akan makin membutuhkan kaum monastik dan praktisi murni yang berpegang pada ajaran Buddha untuk membimbing orang-orang dan bersumbangsih. Inilah yang harus kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Saya bersyukur kepada Bodhisattva sekalian yang begitu bersungguh hati dan penuh cinta kasih.

Berikrar untuk senantiasa bersumbangsih bagai matahari dan bulan yang selalu bersinar
Menghimpun kekuatan untuk mempraktikkan kebajikan dan memurnikan lima kekeruhan
Tekun dan bersemangat mendalami Dharma tanpa terintangi oleh perbedaan zona waktu
Praktisi murni mempertahankan tekad dan bersumbangsih di tengah masyarakat

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 14 Agustus 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 16 Agustus 2026