Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Bervegetaris demi Melindungi Kehidupan dan Menjauhi Karma Pembunuhan

Burger vegetaris sangat lezat.”

Sangat lezat. Kita bisa lebih banyak makan sayur dan mengurangi konsumsi daging sehingga dapat menyelamatkan kehidupan,” kata Gerald Tan, siswa SJKC Pei Yang.

Kami ingin para siswa dapat mengenal manfaat sayuran bagi tubuh sejak dini. Selain itu, kami juga memberi tahu mereka bahwa mengonsumsi sayuran dapat menghemat energi, mengurangi emisi karbon, dan melestarikan lingkungan. Jadi, ini merupakan kegiatan yang sangat baik,” kata Lee Li Pin, SJKC Pei Yang.

Setiap minggu, saya bisa makan lebih banyak sayuran,” kata Ng Yu Tong, SJKC Chi Sin.

Kita harus makan makanan yang beraneka warna. Dengan begitu, kita dapat menyelamatkan setiap kehidupan. Saya memilih untuk menyelamatkan kehidupan.” kata Katness Eng, SJKC Chi Sin.

Kami adalah pahlawan vegetaris cilik.”

Untuk mengembangkan welas asih, kita harus membina cinta kasih agung tanpa syarat. Tanpa syarat berarti tidak membeda-bedakan ras dan ekosistem kehidupan. Semua yang memiliki kehidupan, tanpa memandang besar atau kecil, dipandang sebagai satu kesatuan.
Ketika Buddha meninggalkan keduniawian dan mencapai pencerahan, Beliau memandang semua makhluk seperti anak-Nya yang tunggal. Dapat terlihat bahwa Buddha adalah bapa yang penuh cinta kasih dan welas asih, seperti halnya setiap orang yang memiliki keluarga dan anak.
Ketika orang tua melihat anaknya, mereka pasti berharap, “Semoga anak saya berhasil dalam kehidupan. Saya ingin membimbing anak saya agar dapat mencapai segala sesuatu.” Semua itu merupakan harapan orang tua bagi anak mereka. Buddha juga memandang semua makhluk di Bumi seperti anak-Nya sendiri. Beliau juga berharap semua anak dapat seperti saudara kandung satu sama lain. Namun, ini tidaklah mudah.
Bodhisattva sekalian, setiap keluarga memiliki lingkungan yang berbeda. Setiap orang juga memiliki pekerjaan yang berbeda. Jadi, hal yang dilakukan pun berbeda-beda. Tzu Chi sangat berharap setiap orang memiliki arah yang sama. Namun, menyatukan arah dan menghimpunnya menjadi satu kesatuan bukanlah hal yang mudah. Tekad dan ikrar Buddha ialah demi semua makhluk, yaitu bagaimana membuat semua makhluk memiliki cinta kasih yang sama. Jadi, cinta kasih ini disebut cinta kasih agung.
Hendaknya setiap orang merangkul semua makhluk di dalam hati masing-masing. Ini sungguh tidak mudah. Bahkan, hanya berbicara tentang pola makan vegetaris saja sudah sangat sulit, termasuk bagi saya sendiri. Apakah saya meminta semua orang untuk bervegetaris? Saya berkata bahwa saya tidak berani. Jika saya mewajibkan semuanya untuk bervegetaris, tentu akan ada yang kesulitan untuk menjalankannya.
Ketika mereka kembali ke rumah dan bertemu keluarga, bagaimana mereka bisa berkata, “Mulai hari ini, kita semua harus bervegetaris”? Apakah bisa seperti itu? Sungguh tidak mudah. Jadi, saya tidak berani mengatakan sesuatu yang membuat orang lain kesulitan untuk melakukannya. Saya tidak pernah mengatakan, “Kalian adalah insan Tzu Chi sehingga harus bervegetaris. Anggota keluarga kalian juga harus bervegetaris.”
Hal ini terdengar sederhana dan seharusnya dikatakan. Namun, saya tidak berani mengatakannya. Mengapa saya tidak berani mengatakan sesuatu yang sesederhana itu? Karena tidak semua orang mampu melakukannya. Setiap kali datang menemui saya, dalam hati mungkin mereka berpikir, “Master meminta saya untuk bervegetaris, tetapi saya belum mampu melakukannya.” Di dalam hati mereka selalu ada sedikit rasa bersalah. Jadi, saya tidak berani dan tidak sampai hati untuk mengatakannya.
Saya tidak sampai hati jika ada seorang murid yang tidak mendengarkan perkataan saya. Jadi, yang ingin saya katakan ialah hal-hal yang dapat dilakukan oleh semua orang. “Mengapa Anda tidak dapat melakukannya?” Kalau ada sesuatu yang saya sampaikan dan seharusnya dilakukan, saya berharap semua orang dapat melakukannya. Jika tidak dapat dilakukan, dalam hati saya pasti bertanya, “Mengapa Anda tidak mendengarkan saya? Mengapa Anda tidak melakukannya?” Dengan begitu, hati kita tidak akan menyatu dan tidak akan terasa dekat satu sama lain.
Ketika Buddha datang ke dunia, Beliau juga mempertimbangkan hal ini. Beliau mengasihi semua makhluk dan berharap semua orang tidak mengonsumsi daging makhluk hidup. Namun, Buddha sendiri … Ada orang berkata kepada saya, “Master, jika Buddha mengasihi semua makhluk dan meminta semua orang bervegetaris, bukankah dahulu Beliau menerima makanan dari rumah-rumah umat yang keluarganya tidak bervegetaris?”
Saya hanya berkata, “Saya tidak berani mengatakannya.” Ketika kalian menanyakan hal ini kepada saya, saya memang tidak berani menjawabnya. Namun, jika saya tidak berani mengatakannya, bukankah berarti membiarkan orang-orang terus membunuh makhluk hidup? Jadi, saya pun merasakan dilema.
Bagaimana kita dapat membuka jalan di dunia ini agar hati kita tidak ada rasa bersalah dan tidak terus merasakan dilema? Memang, hal itu tidak mudah. Namun, hari ini saya ingin berkata bahwa hendaknya kalian bisa berkata, “Master mengatakan demikian. Ketika pulang nanti, apakah kita bisa berusaha mengurangi konsumsi daging?” Itu juga merupakan satu pahala.
Coba pikirkan, belakangan ini, baik secara sengaja maupun tidak, saya juga menyinggung hal ini. Jika memang merasa sudah waktunya, saya pasti membicarakannya. Namun, jika saya mengatakannya secara terus terang, sementara mereka tidak mampu mempraktikkannya, saya juga merasa bersalah karena membuat hati mereka terbebani. Jadi, saya tidak berani mengatakannya secara terus terang. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)
Jika semuanya sudah memahami, hendaknya kita menapaki Jalan Bodhisatwa. Jika kita mengasihi semua makhluk dan tidak sampai hati mengonsumsi daging makhluk hidup, orang-orang tidak akan membunuhnya. Ini juga merupakan sebuah pahala. Jika Anda mengonsumsi daging hewan, orang-orang tidak punya pilihan selain membunuhnya. Pasti akan ada alasan untuk itu. Pada akhirnya, karma ditanggung setengah oleh orang yang membunuh dan setengah lagi oleh orang yang makan. Mereka pasti berkata, “Jika Anda tidak makan, saya tidak akan membunuhnya. Jadi, Anda harus menanggung setengahnya.”
Jadi, menyebarkan Dharma itu juga sulit. Namun, hari ini saya menyampaikannya dengan sangat terus terang. Saya telah melihat para pengusaha ternama dari Malaysia. Mereka semua sudah menjalani pola makan vegetaris. Hendaknya kalian mewakili saya untuk mempromosikan pola makan vegetaris. Jika kalian bisa melakukannya, semua orang juga pasti bisa. Satu kalimat yang kalian sampaikan akan jauh lebih kuat daripada seratus kalimat yang saya sampaikan.

Berdasarkan banyak penelitian, pola makan vegetaris dapat menurunkan angka kejadian kanker. Penurunan paling besar terlihat pada kanker lambung, kanker kandung kemih, kanker darah, dan limfoma. Selain itu, pola makan vegetaris juga dapat menurunkan risiko diabetes,” kata Liao Yu-huang, Dokter Departemen Metabolisme dan Endokrin Rumah Sakit Tzu Chi Taipei.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang mengutamakan makanan nabati yang sehat dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan risiko penyakit ginjal. Terlebih lagi, kebutuhan nutrisi tubuh tetap dapat terpenuhi sehingga tidak menyebabkan kekurangan gizi. Konsep piring makan 211 berarti setengah bagian terdiri atas sayuran atau buah-buahan, seperempat bagian terdiri atas protein, dan seperempat bagian lainnya terdiri atas biji-bijian. Dengan begitu, asupan nutrisi akan menjadi seimbang,” kata Wang Yi-chun, Dokter Departemen Nefrologi Rumah Sakit Tzu Chi Taipei.

Melalui pola makan vegetaris, kita dapat mengurangi karma pembunuhan serta menciptakan masyarakat yang harmonis dan sehat,” kata Guru De Yu, Bhiksuni Griya Jing Si.

Bervegetaris demi melindungi kehidupan dan menjauhi karma pembunuhan
Mengembangkan welas asih dan memupuk akar kebajikan
Menyebarluaskan manfaat Dharma dan melenyapkan rintangan batin
Menyehatkan tubuh dengan pola makan yang bersih

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 26 Agustus 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 28 Agustus 2026