Di Balik Rumah Yang Dibangun Tzu Chi, Ada Harapan dan Kesempatan Bagi Keluarga untuk Bangkit
Setiap hari Evi Wijayanti (38) datang ke rumah barunya, perumahan Tzu Chi Aceh Tamiang. Ia datang bukan untuk sekadar melihat-lihat, melainkan untuk bersih-bersih setiap sudut ruangan yang sebentar lagi menjadi tempat tinggal keluarganya.
Ia menyapu lantai, membersihkan debu di kaca jendela rumah, dan membayangkan kehidupan baru bersama suami dan empat anaknya.
Rumah itu sudah berdiri kokoh, dengan dinding bercat putih kombinasi abu-abu. Dindingnya masih tampak bersih, lantai keramik pun telah terpasang disemua ruangan hingga lantai kamar mandi yang siap digunakan.
Pada tanggal 15 Juli 2026, Yayasan Tzu Chi menyerahkan 120 unit rumah, lengkap dengan perabot rumah tangga, kepada warga penyintas banjir asal Kecamatan Karang Baru termasuk Evi dan warga lainnya dari 500 unit rumah yang sedang dalam tahap pembangunan. Rumah-rumah tersebut merupakan bagian dari pembangunan perumahan bagi para korban banjir bandang yang kehilangan tempat tinggal khususnya warga Aceh Tamiang.
Bagi Evi, menerima kunci rumah bukanlah hal kecil. Sebab, beberapa waktu sebelumnya, ia dan keluarganya sudah tidak memiliki rumah untuk dihuni kembali. Banjir bandang datang membawa kehancuran masa depan keluarga Evi dan warga terdampak lainnya.
Ia menyapu lantai, membersihkan debu di kaca jendela rumah, dan membayangkan kehidupan baru bersama suami dan empat anaknya.
Rumah itu sudah berdiri kokoh, dengan dinding bercat putih kombinasi abu-abu. Dindingnya masih tampak bersih, lantai keramik pun telah terpasang disemua ruangan hingga lantai kamar mandi yang siap digunakan.
Pada tanggal 15 Juli 2026, Yayasan Tzu Chi menyerahkan 120 unit rumah, lengkap dengan perabot rumah tangga, kepada warga penyintas banjir asal Kecamatan Karang Baru termasuk Evi dan warga lainnya dari 500 unit rumah yang sedang dalam tahap pembangunan. Rumah-rumah tersebut merupakan bagian dari pembangunan perumahan bagi para korban banjir bandang yang kehilangan tempat tinggal khususnya warga Aceh Tamiang.
Bagi Evi, menerima kunci rumah bukanlah hal kecil. Sebab, beberapa waktu sebelumnya, ia dan keluarganya sudah tidak memiliki rumah untuk dihuni kembali. Banjir bandang datang membawa kehancuran masa depan keluarga Evi dan warga terdampak lainnya.
Rumah yang selama ini menjadi tempat Evi, Iwan, dan keempat anak mereka berlindung tidak mampu bertahan menghadapi derasnya arus. Banjir bandang menghantam dan menghanyutkan rumah mereka beserta harta bendanya.
Yang tersisa hanya pondasi rumah dan lantai rumah. Harta benda yang selama ini dikumpulkan perlahan ikut lenyap bersama derasnya air.
“Rumah sudah nggak bisa dibangun lagi. Habis harta kami semua,” kata Evi.
Yang tersisa hanya pondasi rumah dan lantai rumah. Harta benda yang selama ini dikumpulkan perlahan ikut lenyap bersama derasnya air.
“Rumah sudah nggak bisa dibangun lagi. Habis harta kami semua,” kata Evi.
Kehilangan tempat tinggal menjadi pukulan berat bagi keluarga Evi dan Iwan. Terlebih, Iwan hanya bekerja sebagai tukang becak kayuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilannya pun tidak menentu. Ketika penumpang ramai, Iwan bisa membawa pulang sekitar Rp100.000 dalam sehari. Namun ketika sepi, penghasilannya hanya sekitar Rp50.000.
Dengan penghasilan tersebut, Iwan harus memenuhi kebutuhan keluarga yang memiliki empat orang anak. Dalam kondisi seperti itu, membangun kembali rumah yang telah hanyut tentu bukan perkara mudah.
Untuk sementara, mereka mendirikan tenda seadanya di lantai rumah lama mereka yang telah hanyut. Di tempat sederhana itulah Evi bersama keluarganya bertahan menjalani hari-hari setelah bencana berbulan-bulan.
Tenda menjadi tempat berlindung, hanya itu yang mereka punya. Hari berganti hari. Panas dan hujan harus mereka lalui. Kebutuhan keluarga tetap berjalan, sementara sumber penghasilan tidak banyak berubah.
Di tengah kondisi tersebut, harapan untuk memiliki tempat tinggal yang layak kembali muncul ketika Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia membangun permukiman untuk para korban bencana banjir bandang.
Kini, rumah baru itu telah ada di hadapan Evi dan Iwan. Setiap hari ia datang ke rumah barunya membersihkan ruangan-ruangan yang perlahan mulai dipersiapkan untuk ditempati. Peralatan dapur bahkan sudah mulai dicicil dan dikumpulkan.
“Alat-alat masak, peralatan dapur sudah semua disini,” ungkap Evi. Ada semangat untuk memulai kehidupan baru. Meski belum dapat sepenuhnya tinggal di rumah barunya, Evi sudah merawat rumah tersebut agar selalu bersih. Ia ingin ketika air bersih sudah tersalurkan ke rumahnya dan akses jalan selesai, keluarganya dapat segera pindah.
Untuk sementara, mereka mendirikan tenda seadanya di lantai rumah lama mereka yang telah hanyut. Di tempat sederhana itulah Evi bersama keluarganya bertahan menjalani hari-hari setelah bencana berbulan-bulan.
Tenda menjadi tempat berlindung, hanya itu yang mereka punya. Hari berganti hari. Panas dan hujan harus mereka lalui. Kebutuhan keluarga tetap berjalan, sementara sumber penghasilan tidak banyak berubah.
Di tengah kondisi tersebut, harapan untuk memiliki tempat tinggal yang layak kembali muncul ketika Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia membangun permukiman untuk para korban bencana banjir bandang.
Kini, rumah baru itu telah ada di hadapan Evi dan Iwan. Setiap hari ia datang ke rumah barunya membersihkan ruangan-ruangan yang perlahan mulai dipersiapkan untuk ditempati. Peralatan dapur bahkan sudah mulai dicicil dan dikumpulkan.
“Alat-alat masak, peralatan dapur sudah semua disini,” ungkap Evi. Ada semangat untuk memulai kehidupan baru. Meski belum dapat sepenuhnya tinggal di rumah barunya, Evi sudah merawat rumah tersebut agar selalu bersih. Ia ingin ketika air bersih sudah tersalurkan ke rumahnya dan akses jalan selesai, keluarganya dapat segera pindah.
Bagi Evi, rumah tersebut adalah tempat untuk memulai langkah baru. Tempat dimana anak-anaknya dapat kembali hidup normal dengan lebih nyaman. Tempat keluarganya dapat memulai kembali kehidupan yang sempat porak-poranda diterjang banjir bandang.
Karena itu, ketika berbicara tentang bantuan yang diterimanya, Evi tidak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. “Terima kasih Yayasan Buddha Tzu Chi. Saya tertolong banget. Dapat tempat tinggal yang layak, nggak di tenda lagi. Dulu sebelum dapat ini, tinggalnya di tenda, ” ucapnya.
Evi hanyalah satu dari 500 keluarga yang merasakan manfaat pembangunan kompleks perumahan bagi korban bencana banjir bandang. Sebanyak 500 unit rumah terus berjalan pembangunannya oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, untuk membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang. Rumah itu terdiri dari 2 kamar tidur, ruang tamu, dapur, toilet, teras rumah, serta halaman depan dan belakang rumah.
Di balik 500 unit rumah ini, terdapat ratusan keluarga dengan cerita kehilangan masing-masing. Ada rumah yang rusak, ada harta benda yang hilang, dan ada keluarga yang harus bertahan sementara di tempat pengungsian atau tenda seadanya.
Iwan melihat langsung rumahnya dihantam banjir hingga hanya menyisakan pondasi dan lantai. Ia pernah menjalani hari-hari bersama keluarga di dalam tenda. Kini, untuk pertama kalinya setelah bencana, ia kembali memiliki rumah yang dapat disebut sebagai tempat pulang.
Ia membayangkan keempat anaknya beraktivitas di dalam rumah. Membayangkan dapur yang kelak digunakan untuk memasak. Membayangkan keluarganya tidak lagi harus berlindung di balik terpal ketika hujan turun.
Karena itu, ketika berbicara tentang bantuan yang diterimanya, Evi tidak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. “Terima kasih Yayasan Buddha Tzu Chi. Saya tertolong banget. Dapat tempat tinggal yang layak, nggak di tenda lagi. Dulu sebelum dapat ini, tinggalnya di tenda, ” ucapnya.
Evi hanyalah satu dari 500 keluarga yang merasakan manfaat pembangunan kompleks perumahan bagi korban bencana banjir bandang. Sebanyak 500 unit rumah terus berjalan pembangunannya oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, untuk membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang. Rumah itu terdiri dari 2 kamar tidur, ruang tamu, dapur, toilet, teras rumah, serta halaman depan dan belakang rumah.
Di balik 500 unit rumah ini, terdapat ratusan keluarga dengan cerita kehilangan masing-masing. Ada rumah yang rusak, ada harta benda yang hilang, dan ada keluarga yang harus bertahan sementara di tempat pengungsian atau tenda seadanya.
Iwan melihat langsung rumahnya dihantam banjir hingga hanya menyisakan pondasi dan lantai. Ia pernah menjalani hari-hari bersama keluarga di dalam tenda. Kini, untuk pertama kalinya setelah bencana, ia kembali memiliki rumah yang dapat disebut sebagai tempat pulang.
Ia membayangkan keempat anaknya beraktivitas di dalam rumah. Membayangkan dapur yang kelak digunakan untuk memasak. Membayangkan keluarganya tidak lagi harus berlindung di balik terpal ketika hujan turun.
Banjir bandang mungkin telah menghanyutkan rumah dan harta benda keluarga Evi. Tetapi banjir bandang tidak menghanyutkan harapannya.
Kini, sebuah rumah baru telah berdiri. Dan di dalamnya, Evi sedang menyiapkan satu hal yang jauh lebih penting daripada perabotan: kehidupan baru bagi keluarganya. Rumah itu mungkin belum sepenuhnya bisa dihuni hari ini. Namun setiap kali Evi datang membersihkannya, ia tahu bahwa perjalanan panjang keluarganya untuk bangkit dari bencana telah menemukan tempat untuk berlindung dan lebih semangat lagi untuk membina rumah tangga mereka.
Jurnalis : Anand Yahya,
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Fikhri Fathoni.
Kini, sebuah rumah baru telah berdiri. Dan di dalamnya, Evi sedang menyiapkan satu hal yang jauh lebih penting daripada perabotan: kehidupan baru bagi keluarganya. Rumah itu mungkin belum sepenuhnya bisa dihuni hari ini. Namun setiap kali Evi datang membersihkannya, ia tahu bahwa perjalanan panjang keluarganya untuk bangkit dari bencana telah menemukan tempat untuk berlindung dan lebih semangat lagi untuk membina rumah tangga mereka.
Jurnalis : Anand Yahya,
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Fikhri Fathoni.