Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Bersatu Hati Menjalankan Ikrar untuk Membina Insan Berbakat

“Saya melihat banyak anak yang sejak lahir sudah ditelantarkan oleh ibunya. Saat masuk, saya melihat bahwa mereka menggunakan satu meja belajar bersama-sama dan mereka duduk di lantai. Kelak, saya juga ingin menjadi orang baik dengan menyumbangkan barang-barang kebutuhan. Apa pun yang disumbangkan, selama dapat membantu mereka, semuanya sangat baik,” kata Dai Shan-yuan, siswi SD Tzu Chi Terafiliasi Universitas Tzu Chi.

“Saya melihat banyak anak yang tidak memiliki rumah. Saya berharap mereka bisa memiliki rumah yang benar-benar menjadi tempat mereka pulang. Semoga mereka selalu hidup damai dan tenteram,” kata Chen Xin-yu, siswa SD Tzu Chi Terafiliasi Universitas Tzu Chi.

“Setiap tahun, kami mengadakan kegiatan pertukaran budaya humanis internasional seperti ini. Tujuan kami sebenarnya ialah membawa anak-anak menjadikan dunia sebagai ruang belajar mereka agar dapat memiliki wawasan yang berbeda. Melalui interaksi seperti ini, kami berharap mereka dapat melihat penderitaan dan menyadari berkah sehingga kelak menjadi orang yang senantiasa bersedia membantu sesame,” kata Xiao Xing-qing, Kepala Urusan Kesiswaan SD Tzu Chi Terafiliasi Universitas Tzu Chi.

Pendidikan kita sekarang berawal dari satu niat baik. Niat baik ini muncul karena melihat penderitaan di dunia. Mengapa ada orang yang hidup dalam kemiskinan? Karena mereka tidak memahami bagaimana memanfaatkan sumber daya. Akibatnya, mereka selalu tidak memiliki kesempatan untuk berkembang.
Ketika kita berbicara tentang pendidikan, pendidikan adalah harapan. Sepanjang hidup, saya menganggap pendidikan sebagai harapan. Dengan pendidikan, barulah ada harapan. Memiliki lingkungan yang megah saja tidak cukup untuk menjalankan pendidikan. Sesungguhnya, pendidikan bergantung pada tekad dan ikrar. Selain itu, yang terpenting ialah kesungguhan dalam memikirkan bagaimana kita harus mendidik.
Banyak orang yang datang mengatakan bahwa lingkungan sekolah kita sangat indah. Orang-orang dari luar negeri maupun dari tempat yang jauh, setelah berkunjung ke Sekolah Tzu Chi, selalu mengatakan bahwa mereka sangat mengagumi lingkungan pendidikan kita yang sangat indah. Saya pun selalu mengucapkan terima kasih. Pertama, saya berterima kasih atas dukungan insan Tzu Chi di seluruh dunia; kedua, saya berterima kasih kepada semua badan misi yang menjaga tekad dan mempraktikkan ajaran.
Misi pendidikan kita juga demikian, menjaga tekad dan mempraktikkan ajaran. Para guru telah berikrar untuk menjadi guru dan mengabdikan diri dalam pendidikan. Mereka sangat bersungguh-sungguh. Dengan sungguh-sungguh, kita berusaha untuk mewariskan kekuatan cinta kasih kepada para siswa. Inilah yang disebut dengan mewariskan ajaran. Arti mewariskan yang sesungguhnya ialah mewariskan pendidikan dan ajaran.
Berbicara tentang agama, agama memiliki tujuannya sendiri. Pendidikan pun harus memiliki tujuan. Mengenai mewariskan ajaran, baik ajaran Buddha, Kristen Katolik, Kristen Protestan, maupun Taoisme, kita semua harus saling menghargai dan saling mendukung. Inilah tanggung jawab setiap pemeluk agama.
Saya selalu merasa bahwa saya memiliki tanggung jawab. Sejak Tzu Chi belum ada hingga sekarang, saya selalu bersyukur. Ketika berhadapan dengan siapa pun, saya selalu bersyukur. Bersyukur berarti harus memberikan kontribusi. Saya sangat bersyukur atas sebersit niat yang saya bangkitkan. Belakangan ini, saya sering memikirkan niat tersebut.
Berkat sebersit niat pada masa itulah, kita memiliki misi amal. Saya melihat insan Tzu Chi di begitu banyak negara membawa semangat misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis ke setiap negara. Ada yang secara khusus pergi ke berbagai tempat untuk membantu pendidikan anak-anak. Banyak orang berangkat demi pendidikan anak-anak.
“Saya memilih lagu ini karena 15 tahun yang lalu, perahu Dharma yang menjalankan ikrar ini mulai berlayar di Amerika Serikat. Awalnya, jumlah orangnya tidak banyak. Namun, dari sebuah perahu kecil menjadi perahu besar, kami terus menjalankan ikrar tanpa henti. Jadi, saya merasa bahwa saat ini, kita sangat membutuhkan kegigihan dan keberanian,” kata Lee Jing Yi, relawan Tzu Chi.

“Suami saya berpartisipasi dalam bagian perahu Dharma dan isyarat tangan. Saya dan anak-anak berpartisipasi dalam pementasan genderang. Kami membagi tugas dan berdiskusi dengan anak-anak untuk menyusun jadwal kegiatan yang paling sesuai. Dengan begitu, seluruh anggota keluarga kami dapat berpartisipasi Bersama,” kata Nancy Yu, relawan Tzu Chi.

“Saya dan istri saya merupakan anggota Tzu Ching di Universitas Katolik Fu Jen. Orang tua saya juga merupakan insan Tzu Chi. Secara alami, kami akan membawa anak-anak untuk ikut berpartisipasi, seperti dahulu yang dilakukan oleh orang tua saya, terutama ibu saya. Saya merasa bahwa ini merupakan bentuk pewarisan yang sangat baik,” kata Joey Huang, relawan Tzu Chi.

“Tumbuh dalam keluarga Tzu Chi membuat saya lebih mudah dan alami untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ini. Saya juga dapat menyebarkan semangat Tzu Chi dan menyampaikan ajaran Master,” kata Kyle Huang, putra sulung dari Joey Huang.

Orang tua sering menceritakan kepada anak-anak bahwa Tzu Chi di Taiwan bermula dari tidak ada hingga menjadi seperti sekarang. Semua orang selalu berusaha dan berbagi dengan cinta kasih. Hendaknya kita menggunakan cinta kasih untuk menyayangi sesama manusia dan segala sesuatu. Barang-barang yang ada diciptakan untuk digunakan. Hendaknya kita memanfaatkannya dengan baik. Antarmanusia juga harus saling memperlakukan dengan baik dan menjaga keharmonisan.
Dunia ini merupakan jalan menuju kebuddhaan. Di dunia ini, kita dapat menciptakan surga, juga dapat menciptakan neraka. Semuanya bergantung pada manusia. Tentu saja, untuk semua yang hadir di sini, Buddha berkata bahwa semua orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan. Hakikat kebuddhaan adalah kebijaksanaan dan kemampuan untuk menciptakan berkah. Inilah yang disebut berkah dan kebijaksanaan.Misi kita adalah mendidik dan membangkitkan cinta kasih serta kebijaksanaan anak-anak. Kebijaksanaan yang disertai cinta kasih merupakan tujuan pendidikan kita. Saya sangat bersyukur karena sistem medis kita telah berkembang dengan baik. Namun, kita tidak boleh sombong. Jika sombong, kita akan tertinggal dari perkembangan masyarakat saat ini.
Masyarakat saat ini berkembang sangat cepat. Kemajuan dapat terjadi dengan cepat, tetapi kemunduran juga bisa terjadi dengan cepat. Kita harus menjaga kesatuan dan keharmonisan. Secara alami, semuanya akan selalu berada dalam keseimbangan, seperti sebuah neraca. Jika satu sisi lebih berat dan sisi lainnya lebih ringan, sisi yang ringan memang tampak terangkat dan sisi yang berat akan turun.
Namun, justru sisi yang turun itulah yang sesungguhnya memiliki bobot dan nilai. Karena mampu mendekatkan diri dengan orang lain, semua orang dapat berkumpul dan bersatu. Sisi yang terangkat itu kosong, tidak memiliki isi, dan tidak dapat berpijak di bumi. Jadi, kita semua harus menyesuaikan diri agar dapat beradaptasi dengan lingkungan. Inilah yang disebut dengan kesatuan.
Di lingkungan pun kita harus saling menginspirasi untuk berbuat baik. Dalam ajaran Buddha, untuk membimbing semua makhluk, kita perlu saling menginspirasi. Kualitas, pemikiran, dan pandangan para guru harus saling menyatu.
Hendaknya kita bersama-sama mendedikasikan diri untuk pendidikan dan misi Tzu Chi. Semuanya telah membangun ikrar untuk mendidik anak-anak agar kelak menjadi harapan masyarakat. Pendidikan bertujuan untuk membina insan berbakat bagi masyarakat. Inilah tujuan kita.

Melihat penderitaan, menyadari berkah, dan mengairi dengan cinta kasih
Bersatu hati menjalankan ikrar untuk menumbuhkan tunas muda
Menyikapi dengan kebajikan dan membangkitkan kebijaksanaan
Mewariskan semangat guru dan membina insan berbakat

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 03 November 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, dan Shinta
Ditayangkan Tanggal 05 November 2026