Audiensi Kolaborasi untuk Perlindungan Pekerja Migran dan Masa Depan Anak Bangsa
Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, pekerja migran Indonesia memegang peran penting sebagai pahlawan devisa sekaligus penopang kesejahteraan keluarga. Namun di balik kontribusi besar tersebut, masih terdapat tantangan yang perlu dihadapi seperti keberlanjutan masa depan keluarga yang ditinggalkan, terutama anak-anak.
Peduli dengan dinamika tersebut, Pada hari Kamis, 16 April 2026, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menerima kunjungan audiensi dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia / Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Audiensi tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri P2MI, Christina Ariyani, Direktur Jenderal Pemberdayaan, Dr. Muh. Fachri, S.STP., M.Si., Direktur Kepulangan dan Rehabilitasi, Seriulina Br. Tarigan, S.E., dan Sekretaris Umum Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin.
Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam menyatukan visi kemanusiaan bahwa perlindungan pekerja migran bukan hanya soal aspek hukum dan ketenagakerjaan, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, keluarga, dan masa depan generasi penerus bangsa.
Peduli dengan dinamika tersebut, Pada hari Kamis, 16 April 2026, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menerima kunjungan audiensi dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia / Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Audiensi tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri P2MI, Christina Ariyani, Direktur Jenderal Pemberdayaan, Dr. Muh. Fachri, S.STP., M.Si., Direktur Kepulangan dan Rehabilitasi, Seriulina Br. Tarigan, S.E., dan Sekretaris Umum Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin.
Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam menyatukan visi kemanusiaan bahwa perlindungan pekerja migran bukan hanya soal aspek hukum dan ketenagakerjaan, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, keluarga, dan masa depan generasi penerus bangsa.
Salah satu fokus utama yang menjadi perhatian bersama adalah kesejahteraan anak-anak pekerja migran. Tidak sedikit anak yang tumbuh tanpa kehadiran orang tua secara langsung, sehingga membutuhkan dukungan emosional, pendidikan, dan lingkungan yang kondusif agar tetap dapat berkembang secara optimal. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dinilai memiliki pengalaman panjang dalam kegiatan sosial kemanusiaan, dan mampu menghadirkan kolaborasi yang bermanfaat untuk masyarakat.
Wakil Menteri P2MI, Christina Ariyani menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memperkuat perlindungan pekerja migran, pemerintah membutuhkan dukungan dari organisasi sosial dan pihak lainnya.
Wakil Menteri P2MI, Christina Ariyani menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memperkuat perlindungan pekerja migran, pemerintah membutuhkan dukungan dari organisasi sosial dan pihak lainnya.
“Jadi kita ingin melihat potensi-potensi kolaborasi. Kami juga banyak bekerja sama dengan kementerian lain. Dimana yang sesuai dengan misi Bapak Menteri, dan yang kira-kira bisa kita kolaborasikan,” jelas Christina Ariyani.
Dalam kesempatan ini, Direktur Jenderal Pemberdayaan, Dr. Muh. Fachri juga memaparkan beberapa persoalan dan realitas yang dihadapi oleh pekerja migran dan keluarganya. Dalam berbagai persoalan yang terjadi, digagaskan model kolaborasi yaitu: untuk kebijakan dan koordinasi dari K2PMI, untuk shelter dan perlindungan anak dari KPPPA, dan bantuan kemanusiaan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Menurut Dr. Muh. Fachri, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, memiliki banyak pengalaman dalam menyalurkan bantuan kemanusaiaan. Salah satunya adalah pembangunan hunian tetap untuk penyintas bencana di Palu, Sulawesi Tengah pada tahun 2018 lalu.
“Kami mengenal Yayasan Buddha Tzu Chi ini adalah yayasan yang banyak bergerak di isu-isu kemanusiaan. Saya orang Palu, di Palu itu yang paling besar memberikan banyak bantuan kemanusiaan adalah Yayasan Buddha Tzu Chi. Maka dari itu menarik untuk kita diskusikan di isu Pekerja Migran Indonesia (PMI), banyak sekali isu-isu kemanusiaan. Jadi isu PMI ini bukan lagi isu ketenagakerjaan, tapi lebih kepada isu kemanusiaan,” ungkap Dr. Muh. Fachri.
Menurut Dr. Muh. Fachri, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, memiliki banyak pengalaman dalam menyalurkan bantuan kemanusaiaan. Salah satunya adalah pembangunan hunian tetap untuk penyintas bencana di Palu, Sulawesi Tengah pada tahun 2018 lalu.
“Kami mengenal Yayasan Buddha Tzu Chi ini adalah yayasan yang banyak bergerak di isu-isu kemanusiaan. Saya orang Palu, di Palu itu yang paling besar memberikan banyak bantuan kemanusiaan adalah Yayasan Buddha Tzu Chi. Maka dari itu menarik untuk kita diskusikan di isu Pekerja Migran Indonesia (PMI), banyak sekali isu-isu kemanusiaan. Jadi isu PMI ini bukan lagi isu ketenagakerjaan, tapi lebih kepada isu kemanusiaan,” ungkap Dr. Muh. Fachri.
Dengan pembahasan yang cukup berkonsentrasi mengenai anak-anak dan keluarga pekerja migran, hal tersebut sejalan dan cukup dekat dengan program yang dijalankan Yayasan Buddha Tzu Chi yaitu beasiswa pendidikan anak.
Setelah audiensi dilakukan, Sekretaris Umum Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin menyatakan akan menindak lanjuti rencana kolaborasi ini. “Nanti kita tindak lanjuti dengan Pak Fachri dan teman-teman. Mungkin definisi sitemnya dipikirkan beserta fungsinya dan apa yang bisa kita kolaborasikan.” jelas Hong Tjhin.
Jurnalis : Fikhri Fathoni,
Fotografer : Fikhri Fathoni,
Editor : Anand Yahya.
Setelah audiensi dilakukan, Sekretaris Umum Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin menyatakan akan menindak lanjuti rencana kolaborasi ini. “Nanti kita tindak lanjuti dengan Pak Fachri dan teman-teman. Mungkin definisi sitemnya dipikirkan beserta fungsinya dan apa yang bisa kita kolaborasikan.” jelas Hong Tjhin.
Jurnalis : Fikhri Fathoni,
Fotografer : Fikhri Fathoni,
Editor : Anand Yahya.