Kisah Dari Relawan

Bagaimana Orang Lain akan Mengingat Saya ? – Sebuah Kisah dari Relawan Tzu Chi Singapura

Chua Hwee Peng telah mengikuti sesi “Dharma Incense Permeation (Xin Fa Xiang)” sejak 2018, karena dia menikmati mendengarkan ajaran dharma bersama orang lain.

Kisah hidup Chua Hwee Peng berubah drastis ketika dia didiagnosis mengidap tumor langka. Baik ketika sedang dirawat di rumah sakit ataupun di rumah, dia selalu bangun pagi-pagi untuk mengikuti sesi "Xin Fa Xiang". Rutinitas ini selalu memberi dia ketenangan dan rasa normal dalam hidupnya bahkan di masa-masa penuh gejolak.

Dia sebelumnya bekerja sebagai tenaga pendidik. Setelah mendengarkan Wisdom at Dawn yang dibawakan oleh Master Cheng Yen dan berdoa di pagi hari, dia akan bergegas ke sekolah untuk mulai mengajar. Di akhir minggu, dia akan sarapan pagi bersama relawan lain sambil mendengarkan Xin Fa Xiang. Mendengarkan bagaimana setiap orang menafsirkan ajaran Master Cheng Yen telah memperluas wawasannya.
Meskipun dia seorang penganut Agama Buddha, Chua Hwee Peng mengunjungi vihara hanya sesekali dan tidak punya kebiasaan melantunkan atau membaca sutra. Namun, keadaan berubah pada suatu hari, yaitu hari dimana keponakannya yang masih berusia 17 tahun, meninggal dunia tiba-tiba dalam tidurnya, tanpa ada suatu kondisi yang mendasari. Kepergian keponakannya sangat berdampak pada keluarga Chua. Pada pemakamannya, Chua Hwee Peng berpikir, “Jika waktuku tiba, bagaimana orang lain akan mengingatku?” Dia kemudian mulai mencari arti kehidupan namun tidak tahu harus memulainya dari mana.
Dirumah seorang temannya, dia melihat sebuah kalender yang dirancang dengan Kata-Kata Mutiara Jing Si dan merasa bahwa kata-kata mutiara itu sangat menginpirasi. Itu seperti cinta pada pandangan pertama, dan sejak saat itu, dia memutuskan untuk menjadi relawan Tzu Chi di Jing Si Books & Cafe.

Belajar dengan rendah hati dimanapun dia pergi
Setelah bergabung dengan Tzu Chi, Chua Hwee Peng aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan untuk belajar lebih banyak dan berinteraksi dengan berbagai relawan. Menyebut dirinya sebagai “anak yang penuh rasa ingin tahu”, dia adalah seorang pelajar yang rendah hati. Dia merasa bahwa dia bisa belajar dimanapun dan merasakan ajaran Buddha dalam kehidupan nyata.
Misalnya, selama acara Tzu Chi Festive Charity Fair,  semua relawan harus menjalani kursus keamanan penanganan makanan meskipun mereka bukan pedagangan makanan dalam kehidupan sehari-hari, yang  membuatnya mengerti bahwa para relawan benar-benar berkomitmen. Yang sangat menyentuh hatinya adalah bagaimana setiap relawan bersikeras tidak mau menggunakan peralatan makan sekali pakai. Untuk itu, harus ada seseorang yang bertugas untuk mencuci peralatan makan setelah dipakai, dan semua relawan terlibat dalam kegiatan mencuci peralatan makan, tanpa memandang usia, dan benar-benar serius mengerjakannya. Dia menceritakan bagaimana dia masih bisa mengingat adegan itu dengan jelas dan terinspirasi dengan semangat mereka dalam mempraktekkan ajaran Tzu Chi.
Dalam kegiatan kunjungan ke rumah penerima bantuan, dia merasakan bagaimana para relawan benar-benar berusaha membantu para penerima bantuan Tzu Chi dan berempati serta sangat ramah kepada mereka. Bukan hanya itu, para relawan juga sangat berhati-hati menggunakan dana donasi. Ini mengajarinya untuk selalu bersyukur atas apa yang dia miliki.
Pada kesempatan lain, dia menyaksikan dua relawan yang sedang berdebat tentang cara memotong sayuran yang baik ketika dia sedang membantu di dapur. Dia tergoda untuk mengemukakan pendapatnya sendiri, tetapi sebelum sempat melakukannya, seorang relawan lain yang juga sedang memotong sayuran berkata dengan lembut, “Kita ada disini untuk memperbaiki diri sendiri, bukan untuk memperbaiki orang lain secara paksa”. Kejadian ini benar-benar meyakinkan dirinya bahwa dia bergabung di tempat yang tepat!

Sebagai pemimpin tim relawan di misi pelestarian lingkungan Tzu Chi, Chua Hwee Peng berbagi pengetahuan tentang hubungan antara perubahan iklim dengan bervegetaris kepada muda-mudi yang mengunjungi Pusat Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.

Chua Hwee Peng juga menceritakan bagaimana pengalaman yang dia terima dalam setiap kegiatan Tzu Chi memungkinkannya belajar sangat banyak, memberinya rasa senang ketika dia menerapkannya dalam aspek lain di kehidupannya. Dia mulai memiliki kepercayaan yang lebih besar pada Tzu Chi dan lebih berani mengejar apa yang dia rasa benar.

Mempelajari esensi Jing Si dengan mendengarkan ceramah Dharma saat subuh
Awalnya, Chua Hwee Peng tidak tahu apa yang dimaksud dengan Pengajaran Dharma dan Dharma saat Subuh dan ingin tahu tentangnya. Di setiap subuh, dia akan menyetir dan menjemput relawan yang tinggal didekatnya untuk menghadiri sesi pengajaran Xin Fa Xiang di Aula Jing Si atau di Jing Si Books & Cafe.
Karena Master Cheng Yen mengajar dengan dialek Minnan, semua sutra dan analogi diberi terjemahan kedalam Bahasa Inggris agar pendengar dapat memahami apa yang diajarkan. Chua Hwee Peng bercerita bahwa dia tidak sepenuhnya mengerti dialek Minnan, jadi dia harus mencatat dengan cepat setelah terjemahan muncul di layar. Namun, ada kata-kata yang tidak dia pahami dan tidak cukup cepat mencatat terjemahannya.
Kebanyakan anak muda di Singapura, seperti Chua Hwee Peng, berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, dengan Bahasa Mandarin adalah bahasa kedua. Biasanya, orang-orang jarang menggunakan dialek tertentu, dan bahkan jika ada digunakan, hanya pada kata-kata yang dipakai sehari-hari. Walaupun mengalami kendala bahasa, Chua Hwee Peng menolak untuk menyerah dan menyakinkan dirinya sendiri bahwa sudah cukup memuaskan jika bisa mengerti satu kalimat saja yang diajarkan setiap hari.
Chua Hwee Peng mulai membuat catatan di setiap sesi, terkadang dilengkapi dengan gambar untuk meningkatkan pemahamannya. Bukan hanya itu, dia menggunakan pena yang berbeda warna untuk mencatat analogi dan wawasan ajaran Master. Ketika ada ajaran sehari-hari yang pas dan cocok dengan masalah yang dia hadapi, dia akan langsung menerapkannya.
Motivasinya untuk terus mengikuti sesi ajaran Xin Fa Xiang berawal dari pengalamnya menjadi relawan di Aula Jing Si Taiwan pada tahun 2019. Di setiap subuh, pengajaran akan diberikan oleh Master Cheng Yen yang mengajarkan Kata-Kata Mutiara Jing Si. Tatapan mata Chua Hwee Peng mengikuti Master Cheng Yen ketika beliau memasuki aula dengan langkah kaki yang ringan. Dibawah cahaya redup sebelum fajar, Master Cheng Yen kelihatan lebih menyenangkan. Interaksi jarak dekat ini benar-benar menyentuh Chua Hwee Peng, dan dia menangis ketika merasakan bagaimana pertanyaannya yang sudah lama terjawab.
Dia juga menyaksikan bagaimana para penghuni aula sangat mandiri dan menjalani hidup yang sederhana dan rutin. Mereka hidup dengan prinsip “Sehari Tidak Bekerja, Sehari Tidak Makan”, dan mereka menghargai setiap saat. Pengalaman ini memungkinkannya untuk lebih memahami ajaran Jing Si.

Memperaktekkan Dharma dengan merenungkan mentalitas “Anak Miskin”
Selama pandemi Coivd-19 di tahun 2020, Sesi ajaran Xin Fa Xiang diadakan secara online dan mulai diadakan dari jam 05.00 – 08.00 AM setiap hari. Meskipun demikian, program pengajaran selama 2 jam ini masih sangat bermanfaat bagi para pesertanya.
Dalam salah satu sesi yang baru-baru ini berlangsung, kisah “Perumpamaan Anak Miskin” dari bab Ke-4 Sutra Teratai diajarkan kepada para pemirsa. Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana seorang anak miskin tersesat dan tidak tahu jalan pulang, namun tidak menyadari bahwa dia memiliki kekayaan dalam ajaran Dharma.
Setelah refleksikan diri, Chua Hwee Peng menyadari bahwa bagaimana setiap orang pasti memiliki mentalitas anak miskin. Dia berpendapat bahwa sebagai manusia, kita takut berbuat kesalahan berulang kali dan karenanya, membatasi diri kita sendiri, mengakibatkan kita tidak berani mencoba hal-hal baru. Dari perumpamaan tersebut, dia belajar untuk lebih teliti dalam mengambil keputusan.
Saat mendengarkan ajaran dharma, ini bukan tentang seberapa banyak yang bisa diingat, tetapi sudah seberapa banyak seseorang mempraktekkan ajaran dharma tersebut. Dibawah pengaruh ajaran dharma, Chua Hwee Peng melihat perubahan terjadi pada dirinya sendiri.
Pada tahun 2019, ayahnya didiagnosa terkena penyakit Parkinson. Karena terjatuh, ayahnya berada dalam kondisi kritis dan harus dirawat di rumah sakit, dan perlu tindakan tracheostomy. Anggota keluarganya cemas dan kuatir dengan kondisi ayahnya. Walaupun dia juga merasakan hal yang sama, dia lebih bersyukur karena nyawa ayahnya bisa diselamatkan dan sangat bersyukur atas perawatan yang telah diberikan oleh tim medis. Dengan ini, dia merasa lebih nyaman dan tidak terlalu kuatir. Dia bercerita bagaimana, tanpa hari-harinya di Tzu Chi, dia akan merasa tidak berdaya dalam menghadapi situasi tersebut dalam hidupnya. Setelah menerapkan ajaran dharma dalam hidupnya, dia bisa secara alami membagikannya dengan teman-temannya dalam percakapan dengan mereka.
Selama masa dirinya menjadi Kepala Kurikulum Pengajaran di sekolah tempat dia mengajar, Chua Hwee Peng selalu meminta mengajar di “kelas yang paling menantang”. Ketika menghadapi murid yang putus asa, dia akan mendorong mereka untuk bertindak dengan menjelaskan bagaimana mereka memiliki pilihan untuk memperbaiki kehidupan mereka yang kelihatan mengerikan dan mencegah mereka untuk melakukan sesuatu yang buruk. Setelah mengikuti sesi Xin Fa Xiang, dia terinspirasi oleh bagaimana Buddha menggunakan analogi dari Sutra Teratai dan memanfaatkannya dalam pengajarannya. Dia akan melakukan sedikit modifikasi pada saat mengajar untuk mencocokkannya dengan kepribadian siswa dan akan memberikan lebih banyak bimbingan bila diperlukan.

Bersyukur dalam kesulitan walaupun tersiksa oleh penyakit yang diderita
Pada tahun 2021, Chua Hwee Peng menghadapi salah satu tantangan terbesar dalam hidupnya. Dia sedang berobat untuk mengatasi penglihatannya yang memburuk, ketika dia didiagnosa menderita tumor langka. Ketika dia tahu bahwa dia harus menjalani operasi besar dengan kemungkinan kehilangan nyawanya, dia merasa takut dan tidak yakin. Namun dia tetap memegang secercah harapan – untuk tetap bisa mandiri pasca menjalani operasi. Sebelum dia menjalani operasi tersebut, dia membuat surat wasiat dan tetap menenagkan dirinya. Dia meyakinkan dirinya harus tetap tenang dalam menghadapi situasi tersebut demi anggota keluarganya.
Setelah operasi selama 10 jam, Chua Hwee Peng terbangun dengan perasaan bersyukur. Dia bersyukur bisa tersadar kembali dan sangat berterima kasih dia bertemu dengan tim medis yang hebat. Yang lebih penting adalah dia bersyukur atas kebersamaan dengan keluarganya dan perhatian dari orang-orang yang dia kenal di Tzu Chi.
Pasca operasi, Chua Hwee Peng menghadapi tantangan dalam menjalani tugas sehari-hari. Dia menemukan kegembiraan dalam melakukan hal-hal kecil, seperti bisa buang air kecil sendiri. Dia melihat kesedihan dan penderitaan pasien lain selama sebulan masa perawatannya di rumah sakit. Setelah cukup dekat dengan kematian, dia lebih menghargai hidupnya dan ingin berbuat sesuatu untuk pasien lain. Dia menyanyikan lagu-lagu Tzu Chi yang riang setiap hari, berharap bisa menghibur pasien lain. Dia juga menyalin Sutra of Merit and Virtue of Past Vows of Medicine Master Vaidurya Light Tathagata dan kemudian melipat kertas menjadi burung bangau untuk kemudian diberikan kepada pasien lain untuk menyampaikan harapan baiknya.
Setelah menjalani tes penanda tumor, Chua Hwee Peng harus menjalani Eletrotheraphy. Dia menghibur dirinya sendiri agar jangan terlalu kuatir tentang masa depan dan bahkan setuju untuk mengambil peran sebagai Koordinator pada acara Pemberkatan Akhir Tahun.

Chua Hwee Peng mengikuti sesi pengajaran Xin Fa Xiang dengan anjingnya duduk di pangkuannya.

Dibawah pengaruh ajaran Xin Fa Xiang, dia mengumpulkan keberanian untuk menjalani pengobatan dan memiliki tekad untuk menjadi lebih kuat lagi, sehingga bisa melayani orang lain. Dia juga bercerita bagaimana dia belajar untuk selalu berupaya untuk berpikir dari sisi pandang yang lain. Setelah bergabung dengan Tzu Chi, dia belajar untuk lebih berempati dan memperbaiki ketidak-sempurnaannya yang paling mendasar. Dengan menjadi lebih sensitif dan tenang, dia menjadi tidak terlalu terbebani oleh emosi negatif.
Selama masa pemulihannya, dia bersikeras untuk menjalani pola makan vegetarian, yang membuat ibunya menjadi kuatir. Untuk menenangkan hati ibunya, dia meminta bantuan seorang dokter Tzu Chi dr. Chan Chiew Yong untuk berbagi resep vegetarian kepada ibunya.
Master Cheng Yen berkata, “Sesuatu itu hidup jika masih bernafas”. Chua Hwee Peng ingin benar-benar hidup disetiap saat dan menghargainya.  Keinginan terbesarnya saat ini adalah kemabli ke Aula Jing Si di Hualien, tempat dimana dia terhubung dengan batinnya sehingga Master Cheng Yen secara pribadi bisa menyatakan dirinya adalah seorang relawan Tzu Chi dan berlindung sebagai murid untuk mempraktekkan ajaran Buddha.
Dia berharap agar dirinya selalu diingat sebagai relawan Tzu Chi oleh orang-orang. Tzu Chi telah menjadi jalan hidupnya, dan Chua Hwee Peng berbagi bahwa melalui sesi ajaran Xin Fa Xiang di setiap subuh pagi, dia belajar lebih banyak ajaran dharma dan mencari arti yang lebih besar dari hidupnya.

Sumber : www.tzuchi.org.sg
Jurnalis : Lim Chwee Lian,
Fotografer : Chua Hwee Peng, Tan Cheng Hwa,
Diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris oleh : Teo Jia Xin,
Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.