Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-150: Harapan Dommy dan Perjalanan Melawan Hernia
Sudah setahun lamanya Dommy Dovisa (40) hidup dengan rasa sakit akibat hernia. Tubuhnya yang dulu terbiasa bekerja keras kini tak lagi sekuat dulu. Ia sering kali harus menahan nyeri, hingga akhirnya memutuskan berhenti dari pekerjaan berat yang selama ini dilakoni. Dari memasang jaringan PLN, bekerja di PLTD Siantan, hingga menjadi sopir, semua pernah ia jalani. Kini, dengan kondisi yang semakin melemah, Dommy banting setir menjadi penjual kue pancung di Kota Ketapang. “Sudah nggak kuat lagi kerja berat. Jadi ya, saya coba usaha kecil-kecilan. Mudah-mudahan rezeki ada di sini (Ketapang,” ucap Dommy pelan.
Di usianya yang ke-40, Dommy memikul tanggung jawab besar. Ia adalah ayah dari empat orang anak: Riana Pratiwi (16), Rizky Aditya (12), anak ketiga berusia 11 tahun, serta si bungsu yang baru 9 tahun. Mereka tinggal bersama ibu dan neneknya. Dommy hanya bisa pulang beberapa bulan sekali, sekadar melepas rindu. “Kalau pulang, rasanya campur aduk. Senang bisa ketemu anak-anak, tapi juga sedih karena nggak bisa selalu ada di samping mereka,” katanya. Dommya sudah berpisah sejak setahun yang lalu.
Keterbatasan biaya membuat Dommy tak mampu menjalani operasi hernianya. Asuransi kesehatan pun belum ia urus karena tak tahu bagaimana caranya. Namun, keberuntungan datang dari seorang teman yang memberitahunya tentang adanya bakti sosial kesehatan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama POLDA Kalimantan Barat dan Tzu Chi International Medical Association (TIMA). “Awalnya saya ragu, masa iya operasi bisa gratis? Tapi saya coba daftar lewat teman, alhamdulillah diterima, saya ditelepon untuk datang mengikuti screening,” kenangnya.
Di usianya yang ke-40, Dommy memikul tanggung jawab besar. Ia adalah ayah dari empat orang anak: Riana Pratiwi (16), Rizky Aditya (12), anak ketiga berusia 11 tahun, serta si bungsu yang baru 9 tahun. Mereka tinggal bersama ibu dan neneknya. Dommy hanya bisa pulang beberapa bulan sekali, sekadar melepas rindu. “Kalau pulang, rasanya campur aduk. Senang bisa ketemu anak-anak, tapi juga sedih karena nggak bisa selalu ada di samping mereka,” katanya. Dommya sudah berpisah sejak setahun yang lalu.
Keterbatasan biaya membuat Dommy tak mampu menjalani operasi hernianya. Asuransi kesehatan pun belum ia urus karena tak tahu bagaimana caranya. Namun, keberuntungan datang dari seorang teman yang memberitahunya tentang adanya bakti sosial kesehatan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama POLDA Kalimantan Barat dan Tzu Chi International Medical Association (TIMA). “Awalnya saya ragu, masa iya operasi bisa gratis? Tapi saya coba daftar lewat teman, alhamdulillah diterima, saya ditelepon untuk datang mengikuti screening,” kenangnya.
Hari screening pun tiba pada hari Jumat, 22 Agustus 2025, Dommy harus menjalani pemeriksaan awal, lalu menunggu jadwal operasi pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025, di Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo, Pontianak. Rasa cemas menghantuinya, namun semangat dari anak-anak membuatnya kuat. “Anak-anak yang bikin saya berani. Kalau nggak ingat mereka, mungkin saya sudah menyerah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ketika hari operasi tiba, rasa takut kembali menghantam. Dadanya sesak, langkahnya terasa berat. Namun, begitu ia masuk rumah sakit, sambutan hangat para relawan Tzu Chi membuatnya luluh. “Baru naik beberapa anak tangga saja, sudah ada relawan yang menyambut, menggenggam tangan saya, dan bilang, ‘Bapak tenang saja, kami dampingi.’ Waktu itu saya nggak bisa nahan, air mata langsung jatuh. Rasanya seperti punya keluarga baru,” kenangnya.
Setiap langkah Dommy menuju ruang operasi seakan dijaga. Dari pintu depan, lorong rumah sakit, hingga ke ruang tunggu, selalu ada relawan Tzu Chi yang menemaninya. Mereka tidak hanya membantu secara fisik, tapi juga memberi semangat dengan senyuman tulus dan kata-kata lembut. “Saya benar-benar merasa tidak sendiri. Mereka memperlakukan saya seperti keluarga. Itu yang bikin hati saya kuat,” ucapnya haru.
Bahkan di ruang operasi, para dokter pun berusaha mencairkan suasana dengan bercanda. Dommy yang tadinya tegang sampai gemetar, akhirnya bisa tersenyum tipis. “Saya kaget, di saat saya paling takut, dokter-dokternya malah ngajak bercanda, bahkan nyanyi-nyanyi. Saya bilang dalam hati, ya Allah ini pertolongan-Mu lewat mereka,” kenangnya haru.
Ketika hari operasi tiba, rasa takut kembali menghantam. Dadanya sesak, langkahnya terasa berat. Namun, begitu ia masuk rumah sakit, sambutan hangat para relawan Tzu Chi membuatnya luluh. “Baru naik beberapa anak tangga saja, sudah ada relawan yang menyambut, menggenggam tangan saya, dan bilang, ‘Bapak tenang saja, kami dampingi.’ Waktu itu saya nggak bisa nahan, air mata langsung jatuh. Rasanya seperti punya keluarga baru,” kenangnya.
Setiap langkah Dommy menuju ruang operasi seakan dijaga. Dari pintu depan, lorong rumah sakit, hingga ke ruang tunggu, selalu ada relawan Tzu Chi yang menemaninya. Mereka tidak hanya membantu secara fisik, tapi juga memberi semangat dengan senyuman tulus dan kata-kata lembut. “Saya benar-benar merasa tidak sendiri. Mereka memperlakukan saya seperti keluarga. Itu yang bikin hati saya kuat,” ucapnya haru.
Bahkan di ruang operasi, para dokter pun berusaha mencairkan suasana dengan bercanda. Dommy yang tadinya tegang sampai gemetar, akhirnya bisa tersenyum tipis. “Saya kaget, di saat saya paling takut, dokter-dokternya malah ngajak bercanda, bahkan nyanyi-nyanyi. Saya bilang dalam hati, ya Allah ini pertolongan-Mu lewat mereka,” kenangnya haru.
Operasi berjalan lancar, yang membuat Dommy semakin bersyukur adalah semua kebutuhan medis, termasuk obat-obatan hingga kontrol pascaoperasi, disediakan tanpa biaya sepeser pun. “Saya sempat takut harus beli obat sendiri, tapi ternyata semua sudah dipikirkan. Obatnya pun dibekalkan sampai bisa dipakai di rumah,” ujarnya lega.
Kini, Dommy bisa bernapas lebih tenang. Beban yang selama ini menghimpit hatinya perlahan terangkat. Ia bisa kembali menata hidup, meski sederhana, sambil terus berusaha untuk anak-anaknya.
“Awalnya saya ragu, bener nggak sih operasi ini gratis? Tapi ternyata semuanya benar. Saya nggak keluar uang sepeser pun. Alhamdulillah, terima kasih untuk semua relawan Tzu Chi, perawat dan dokternya, tadi dokter yang operasi saya datang melihat saya” kata Dommy dengan suara bergetar, sebelum akhirnya tersenyum penuh harapan.
Bagi Dommy, operasi hernia ini bukan sekadar penyembuhan penyakit. Lebih dari itu, ia merasa mendapatkan harapan baru, sebuah kesempatan untuk tetap melangkah mencari nafkah, dan tetap menjadi ayah yang berjuang demi masa depan anak-anaknya.
Kini, Dommy bisa bernapas lebih tenang. Beban yang selama ini menghimpit hatinya perlahan terangkat. Ia bisa kembali menata hidup, meski sederhana, sambil terus berusaha untuk anak-anaknya.
“Awalnya saya ragu, bener nggak sih operasi ini gratis? Tapi ternyata semuanya benar. Saya nggak keluar uang sepeser pun. Alhamdulillah, terima kasih untuk semua relawan Tzu Chi, perawat dan dokternya, tadi dokter yang operasi saya datang melihat saya” kata Dommy dengan suara bergetar, sebelum akhirnya tersenyum penuh harapan.
Bagi Dommy, operasi hernia ini bukan sekadar penyembuhan penyakit. Lebih dari itu, ia merasa mendapatkan harapan baru, sebuah kesempatan untuk tetap melangkah mencari nafkah, dan tetap menjadi ayah yang berjuang demi masa depan anak-anaknya.
Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama TIMA Indonesia menggelar baksos kesehatan ke-150 di Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak. Pasien yang dapat di operasi setelah menjalani proses screening dan bisa dilakukan tindakan operasi dengan rincian: 94 pasien katarak, 22 pasien pytrigium, 24 pasien hernia, dan 9 pasien bibir sumbing.
Angka ini menjadi bukti bahwa harapan masyarakat untuk sehat begitu besar, dan kasih sayang para relawan Tzu Chi dan hadir menjawab kebutuhan itu. Kegiatan penuh cinta kasih ini dihadiri perwakilan dari Polda Kal Bar, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat dan Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo, hal ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dapat menyatukan banyak pihak demi melayani kesehatan masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan.
Jurnalis : Anand Yahya,
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Fikhri Fathoni.
Angka ini menjadi bukti bahwa harapan masyarakat untuk sehat begitu besar, dan kasih sayang para relawan Tzu Chi dan hadir menjawab kebutuhan itu. Kegiatan penuh cinta kasih ini dihadiri perwakilan dari Polda Kal Bar, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat dan Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo, hal ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dapat menyatukan banyak pihak demi melayani kesehatan masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan.
Jurnalis : Anand Yahya,
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Fikhri Fathoni.