Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi Ke-155: Memberi Harapan dan Kesembuhan Bagi Warga Pelosok Riau
Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia menggelar Bakti Sosial Kesehatan ke-155 di kota Pekanbaru, Riau. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Kodam XIX Tuanku Tambusai dan Rumah Sakit Awal Bros ini berlangsung di Rumah Sakit Awal Bros Hang Tuah, dengan jadwal screening pasien pada tanggal 1 Agustus 2026 dan pelaksanaan baksos pada tanggal 8-9 Agustus 2026. Untuk menyukseskan kegiatan ini, para relawan Tzu Chi Pekanbaru bersatu hati menjaring pasien dari kota hingga ke pelosok daerah dengan cara menyebarkan flyer dan sosialisasi ke kantor kelurahan, Car Free Day, hingga ke pasar tradisional dan turun ke desa-desa.
Para calon pasien berdatangan dari seluruh pelosok daerah Riau dan harus menempuh perjalan yang jauh pada saat screening. Kedatangan mereka diterima dan dilayani dengan baik oleh relawan dan tim medis. Para calon pasien ini kemudian melakukan pendaftaran ulang dan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, dari cek tensi, cek mata, labor, rontgen dan EKG sesuai petunjuk dokter. Dari 261 pasien yang datang mengikuti screening, terdapat 201 pasien yang lolos pemeriksaan untuk mengikuti kegiatan baksos kesehatan.
Para calon pasien berdatangan dari seluruh pelosok daerah Riau dan harus menempuh perjalan yang jauh pada saat screening. Kedatangan mereka diterima dan dilayani dengan baik oleh relawan dan tim medis. Para calon pasien ini kemudian melakukan pendaftaran ulang dan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, dari cek tensi, cek mata, labor, rontgen dan EKG sesuai petunjuk dokter. Dari 261 pasien yang datang mengikuti screening, terdapat 201 pasien yang lolos pemeriksaan untuk mengikuti kegiatan baksos kesehatan.
Membawa Perubahan Lewat Baksos Kesehatan
Pasien yang telah lolos screening kemudian datang kembali pada saat pelaksanaan baksos kesehatan pada tanggal 8-9 Agustus 2026 di Rumah Sakit Awal Bros Hang Tuah. Para pasien pun merasa lega karena penyakit yang diderita akan segera tertangani. Seperti yang dirasakan Suprapto yang mengalami pterygium selama 10 tahun.
Sehari-hari pterygium yang diderita Suprapto sangat terganggu penglihatannya. “Kalau berkendara itu sangat-sangat khawatir. Malam hari itu kita lihat cahaya putih itu pecah, jarak pandang pendek lebih gelap, sedangkan kita cerah aja susah lihat, walaupun siang cerah tetap susah apalagi malam,” ceritanya.
Setelah Tim Medis TIMA Indonesia mengoperasi pterygium di mata Suprapto, ia pun merasa senang karena kondisi matanya kini telah berangsur-angsur membaik. “Alhamdulillah, kondisi mata saya sudah lebih terang lagi untuk melihat, terima kasih,” kata Suprapto bersukacita.
Pasien lainnya yang tak kalah senang adalah Wisarni. Ia telah lama menunda operasi katarak dikarenakan adanya perasaan takut. “Sebelum operasi sangat buram. Saya orangnya cepat takut, tapi setelah datang kesini, orang-orangnya sangat baik dan ramah, membuat perasaannya lebih tenang,” kata Wisarni. Setelah menjalani operasi, ia pun sangat bersukacita. “Mata yang sudah dioperasi sudah terang, jadi sedikit pusing karena belum seimbang dan butuh penyesuaian. Terima kasih atas perhatiannya,” ucapnya.
Setelah Tim Medis TIMA Indonesia mengoperasi pterygium di mata Suprapto, ia pun merasa senang karena kondisi matanya kini telah berangsur-angsur membaik. “Alhamdulillah, kondisi mata saya sudah lebih terang lagi untuk melihat, terima kasih,” kata Suprapto bersukacita.
Pasien lainnya yang tak kalah senang adalah Wisarni. Ia telah lama menunda operasi katarak dikarenakan adanya perasaan takut. “Sebelum operasi sangat buram. Saya orangnya cepat takut, tapi setelah datang kesini, orang-orangnya sangat baik dan ramah, membuat perasaannya lebih tenang,” kata Wisarni. Setelah menjalani operasi, ia pun sangat bersukacita. “Mata yang sudah dioperasi sudah terang, jadi sedikit pusing karena belum seimbang dan butuh penyesuaian. Terima kasih atas perhatiannya,” ucapnya.
Selain pasien mata, pasien-pasien yang menjalani operasi mayor seperti bibir sumbing, hernia, dan benjolan harus menjalani rawat inap karena akan mendapat pemeriksaan dan kontrol dari dokter sehari setelah operasi. Sedangkan pasien Katarak kembali datang untuk menjalani pemeriksaan dan pembersihan mata. Setelah dibuka perbannya terlihat wajah-wajah bahagia dari pasien katarak dan keluarga karena penglihatannya sudah terang. Begitu juga dengan pasien bibir sumbing dan keluarga yang kini sudah bisa tersenyum bahagia.
Liber Lian Gea, ibu dari pasien bibir sumbing Clara Charness Alfiq merasa sangat terharu karena anaknya bisa dioperasi bibir sumbingnya dalam kegiatan baksos kesehatan yang diadakan Tzu Chi. “Hasilnya sangat baik bagus, dan perawatannya juga baik. Harapan saya kedepannya, Clara bisa membaik, dan Clara bisa seperti anak-anak lainnya, sebagaimana mestinya, bermain tanpa minder atau buly-an lagi. Puji tuhan atas pelayanan para relawan dan para medis Tzu Chi,” kata Liber Lian Gea.
Liber Lian Gea, ibu dari pasien bibir sumbing Clara Charness Alfiq merasa sangat terharu karena anaknya bisa dioperasi bibir sumbingnya dalam kegiatan baksos kesehatan yang diadakan Tzu Chi. “Hasilnya sangat baik bagus, dan perawatannya juga baik. Harapan saya kedepannya, Clara bisa membaik, dan Clara bisa seperti anak-anak lainnya, sebagaimana mestinya, bermain tanpa minder atau buly-an lagi. Puji tuhan atas pelayanan para relawan dan para medis Tzu Chi,” kata Liber Lian Gea.
Kebahagiaan juga dirasakan Lidia Siagian, ibunda dari Ghabrian Nenggolan pasien bibir sumbing. Saat menunggu anaknya dioperasi, ia merasa resah dan cemas. “Bagaimana anak saya operasi? Semoga dilancarkan, tidak hanya operasi bibir sumbing saja, tapi semua operasi yang dilaksanakan berjalan dengan lancar,” harapnya.
Setelah operasi, Ghabrian Nenggolan harus menjalani rawat inap dan menunggu pemeriksaan dari dokter keesokan harinya. Setelah dibuka perbannya, nampak wajah penuh bahagia menghiasi keluarga Ghabrian Nenggolan. “Saya mengucapkan terima kasih banyak, karena berkat bantuan baksos kesehatan ini, semua harapan saya untuk kesembuhan anak saya tercapai,” ucap Lidia Siagian.
Setelah operasi, Ghabrian Nenggolan harus menjalani rawat inap dan menunggu pemeriksaan dari dokter keesokan harinya. Setelah dibuka perbannya, nampak wajah penuh bahagia menghiasi keluarga Ghabrian Nenggolan. “Saya mengucapkan terima kasih banyak, karena berkat bantuan baksos kesehatan ini, semua harapan saya untuk kesembuhan anak saya tercapai,” ucap Lidia Siagian.
Kegiatan baksos kesehatan ini juga melibatkan 226 relawan dan 131 tim Medis yang dengan penuh semangat mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan dan memberi pelayanan yang terbaik bagi pasien.
“Yang kami harapkan adalah kesembuhan tentunya. Mereka datang ke sini jauh-jauh, mencari kesembuhan. Terutama bagi pasien-pasien penderita katarak, yang mana mereka mungkin saat ini kurang bisa melihat dengan baik, setelah diobati, setelah dioperasi, mereka dapat melihat kembali indahnya dunia ini. Untuk pasien-pasien hernia, yang mana tadinya bergerak saja sulit atau benjolan, yang susah, yang menghambat pergerakan mereka, di mana mereka mendapatkan kesembuhan di sini, kita juga sangat sangat senang gitu melihat mereka happy,” ungkap Ketua harian TIMA Indonesia, drg. Fransiscus Xaverius Ganny.
Dalam Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-155 di Pekanbaru, Tim Medis TIMA Indonesia berhasil menangani 191 pasien dengan berbagai kondisi, mulai dari katarak, hernia, benjolan hingga bibir sumbing. Mereka juga berasal dari berbagai daerah dan pelosok Riau. Dari jumlah ini sebanyak 128 pasien menjalani operasi katarak, 47 pasien menjalani operasi benjolan, 10 pasien menjalani operasi hernia dan 6 pasien menjalani operasi bibir sumbing.
Jurnalis : Valentina Angela (Tzu Chi Pekanbaru),
Fotografer : Tomy Tok, Kho Ki Ho, Valentina Angela, Fendi (Tzu Chi Pekanbaru),
Editor : Arimami Suryo A.
“Yang kami harapkan adalah kesembuhan tentunya. Mereka datang ke sini jauh-jauh, mencari kesembuhan. Terutama bagi pasien-pasien penderita katarak, yang mana mereka mungkin saat ini kurang bisa melihat dengan baik, setelah diobati, setelah dioperasi, mereka dapat melihat kembali indahnya dunia ini. Untuk pasien-pasien hernia, yang mana tadinya bergerak saja sulit atau benjolan, yang susah, yang menghambat pergerakan mereka, di mana mereka mendapatkan kesembuhan di sini, kita juga sangat sangat senang gitu melihat mereka happy,” ungkap Ketua harian TIMA Indonesia, drg. Fransiscus Xaverius Ganny.
Dalam Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-155 di Pekanbaru, Tim Medis TIMA Indonesia berhasil menangani 191 pasien dengan berbagai kondisi, mulai dari katarak, hernia, benjolan hingga bibir sumbing. Mereka juga berasal dari berbagai daerah dan pelosok Riau. Dari jumlah ini sebanyak 128 pasien menjalani operasi katarak, 47 pasien menjalani operasi benjolan, 10 pasien menjalani operasi hernia dan 6 pasien menjalani operasi bibir sumbing.
Jurnalis : Valentina Angela (Tzu Chi Pekanbaru),
Fotografer : Tomy Tok, Kho Ki Ho, Valentina Angela, Fendi (Tzu Chi Pekanbaru),
Editor : Arimami Suryo A.