Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Kehangatan Hati yang Menyatukan
Musibah banjir yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menimbulkan banyak kerusakan infrastruktur. Hujan yang berlangsung tiada henti sejak tanggal 20 November 2025 dengan puncak curah hujan tertinggi pada tanggal 27 November 2025, menyebabkan banyak rumah warga di Tebing Tinggi terendam banjir dan melumpuhkan semua kegiatan masyarakat. Debit air yang tinggi membuat sebagian rumah penduduk terendam banjir mencapai 1 meter lebih.
Namun bencana banjir yang juga menimpa sebagian besar rumah relawan Tzu Chi Tebing Tinggi tidak menyurutkan semangat cinta kasih mereka. Perasaan tidak tega menyalakan semangat relawan Tzu Chi Tebing Tinggi untuk menyediakan masakan hangat bagi para korban bencana. Seperti salah satu relawan, Wardi, yang rela menerjang banjir dengan berjalan kaki dari rumahnya yang juga terendam banjir setinggi 1 meter lebih ke Kantor Tzu Chi untuk membantu persiapan pembagian nasi hangat dan air mineral.
“Bencana Banjir kali ini yang terbesar di Kota Tebing Tinggi dan ini berdampak besar dalam penghidupan warga yang mana rumah dan harta bendanya terendam banjir termasuk rumah saya sendiri. Disini lah timbul perasaan empati dan tidak tega melihat warga yang rumahnya lebih parah daripada saya. Dan saya bersyukur relawan Tebing Tinggi langsung bergerak untuk memasak dan membagikan langsung ke rumah– rumah warga tanpa memikirkan rumah mereka yang juga terendam banjir. Inilah bentuk cinta kasih yang membawa kehangatan untuk para korban banjir.”
Namun bencana banjir yang juga menimpa sebagian besar rumah relawan Tzu Chi Tebing Tinggi tidak menyurutkan semangat cinta kasih mereka. Perasaan tidak tega menyalakan semangat relawan Tzu Chi Tebing Tinggi untuk menyediakan masakan hangat bagi para korban bencana. Seperti salah satu relawan, Wardi, yang rela menerjang banjir dengan berjalan kaki dari rumahnya yang juga terendam banjir setinggi 1 meter lebih ke Kantor Tzu Chi untuk membantu persiapan pembagian nasi hangat dan air mineral.
“Bencana Banjir kali ini yang terbesar di Kota Tebing Tinggi dan ini berdampak besar dalam penghidupan warga yang mana rumah dan harta bendanya terendam banjir termasuk rumah saya sendiri. Disini lah timbul perasaan empati dan tidak tega melihat warga yang rumahnya lebih parah daripada saya. Dan saya bersyukur relawan Tebing Tinggi langsung bergerak untuk memasak dan membagikan langsung ke rumah– rumah warga tanpa memikirkan rumah mereka yang juga terendam banjir. Inilah bentuk cinta kasih yang membawa kehangatan untuk para korban banjir.”
Tim Tanggap Darurat Tzu Chi Medan juga bergerak cepat untuk menyalurkan bantuan ke Tebing Tinggi berupa alat–alat kebersihan yaitu sikat gagang panjang, serokan air, ember, handuk, beras, sarung, roti dan air mineral mengingat air yang tidak surut selama dua hari.
Pada tanggal 29 November 2025, para relawan Tebing Tinggi menerima 350 alat–alat kebersihan, sarung, roti dan 700 botol air mineral untuk dibagikan kepada warga yang berdampak. Ini merupakan pembagian tahap kedua setelah sebelumnya pada tanggal 28 November telah dibagikan nasi hangat, Mie Daai, dan air mineral sebanyak 200 paket. Dalam penyaluran bantuan tahap dua ini relawan Tzu Chi Tebing Tinggi dibantu oleh relawan dari Siantar dan Tanjung Balai yang ikut terjun ke lokasi banjir.
Dengan prinsip “Jangan biarkan mereka yang kedinginan dan kelaparan menunggu terlalu lama,” 700 paket alat Kebersihan didistribusikan kepada warga Kelurahan Bandar Utama dan Kelurahan Mandailing. Paket A terdiri dari serokan air, sikat gagang panjang, ember, roti dan air mineral sedangkan paket B terdiri dari beras, sarung, handuk, roti dan air mineral.
Pada tanggal 29 November 2025, para relawan Tebing Tinggi menerima 350 alat–alat kebersihan, sarung, roti dan 700 botol air mineral untuk dibagikan kepada warga yang berdampak. Ini merupakan pembagian tahap kedua setelah sebelumnya pada tanggal 28 November telah dibagikan nasi hangat, Mie Daai, dan air mineral sebanyak 200 paket. Dalam penyaluran bantuan tahap dua ini relawan Tzu Chi Tebing Tinggi dibantu oleh relawan dari Siantar dan Tanjung Balai yang ikut terjun ke lokasi banjir.
Dengan prinsip “Jangan biarkan mereka yang kedinginan dan kelaparan menunggu terlalu lama,” 700 paket alat Kebersihan didistribusikan kepada warga Kelurahan Bandar Utama dan Kelurahan Mandailing. Paket A terdiri dari serokan air, sikat gagang panjang, ember, roti dan air mineral sedangkan paket B terdiri dari beras, sarung, handuk, roti dan air mineral.
Berlokasi di kantor Kelurahan Bandar Utama dan Mandailing, para relawan Tzu Chi Tebing Tinggi yang sebelumnya telah berkoordinasi dengan lurah dan kepala lingkungan dari dua kelurahan tersebut bersama-sama membagikan 700 paket bantuan dengan perincian 350 untuk warga Kelurahan Bandar Utama dan 350 untuk warga dari Kelurahan Mandailing.
Dalam proses pembagian paket bantuan, para relawan Tzu Chi juga menyempatkan diri mendatangi beberapa rumah warga korban banjir yang terdampak cukup parah. Seorang kakek bernama Muhammad Noh, 73 tahun, warga Kelurahan Bandar Utama, Lingkungan 3, telah tinggal di rumahnya sejak beliau kecil. Bersama dengan istrinya yang telah lumpuh, ia bertahan di rumahnya di lantai dua selama tiga hari karena air hujan telah mencapai ketinggian sekitar dua meter. Kendala terbesar yang dialaminya adalah sulit mendapatkan makanan sehingga warga sekitar harus berenang atau menggunakan ban untuk membantu memberikan makanan pada ia dan istrinya.
“Kami terpaksa bertahan di sini karena istri saya juga tidak bisa berjalan. Rumah kami habis dan benda–benda juga terendam semua. Kami hanya mengharapkan uluran tangan dari tetangga yang mereka berusaha memberi makanan kepada kami dengan kondisi yang terbatas.”
Berbagai cerita membuat relawan semakin tidak tega. Kesusahan dalam mencari makanan membuat warga harus menahan lapar saat puncak banjir terjadi. Disamping itu mereka harus menahan kedinginan. Ada juga warga yang karena terendam air banjir terus menerus menyebabkan jemari kaki hampir membusuk. Beberapa bahkan bertahan hanya dengan roti. Tidak adanya penerangan karena padamnya listrik dan juga air minum yang bersih juga menjadi sebuah rintangan.
Dalam proses pembagian paket bantuan, para relawan Tzu Chi juga menyempatkan diri mendatangi beberapa rumah warga korban banjir yang terdampak cukup parah. Seorang kakek bernama Muhammad Noh, 73 tahun, warga Kelurahan Bandar Utama, Lingkungan 3, telah tinggal di rumahnya sejak beliau kecil. Bersama dengan istrinya yang telah lumpuh, ia bertahan di rumahnya di lantai dua selama tiga hari karena air hujan telah mencapai ketinggian sekitar dua meter. Kendala terbesar yang dialaminya adalah sulit mendapatkan makanan sehingga warga sekitar harus berenang atau menggunakan ban untuk membantu memberikan makanan pada ia dan istrinya.
“Kami terpaksa bertahan di sini karena istri saya juga tidak bisa berjalan. Rumah kami habis dan benda–benda juga terendam semua. Kami hanya mengharapkan uluran tangan dari tetangga yang mereka berusaha memberi makanan kepada kami dengan kondisi yang terbatas.”
Berbagai cerita membuat relawan semakin tidak tega. Kesusahan dalam mencari makanan membuat warga harus menahan lapar saat puncak banjir terjadi. Disamping itu mereka harus menahan kedinginan. Ada juga warga yang karena terendam air banjir terus menerus menyebabkan jemari kaki hampir membusuk. Beberapa bahkan bertahan hanya dengan roti. Tidak adanya penerangan karena padamnya listrik dan juga air minum yang bersih juga menjadi sebuah rintangan.
Lurah Mandailing, Ramadhansyah, bersyukur atas keberadaan relawan Tzu Chi yang turun ke lapangan untuk memberikan bantuan kepada para korban. Menurutnya permasalahan utama adalah ketersediaan dan distribusi makanan yang tidak mencukupi. Walaupun demikian, ia tetap bersyukur dengan adanya bantuan dari beberapa pihak, termasuk Yayasan Buddha Tzu Chi yang dirasakan sangat membantu warga yang terdampak.
Dengan wajah tersenyum dan penuh syukur, warga menerima bantuan dan bersemangat untuk membersihkan rumah mereka. Melihat senyum yang terbit di wajah – wajah mereka, relawan juga merasakan sukacita dan semakin bersyukur karena di tengah relawan yang juga terdampak bencana banjir masih mempunyai kesempatan untuk membantu yang lain. Perasaan empati semakin tumbuh dari diri relawan mendengar banyak cerita yang dialami para korban banjir ini. Inilah estafet cinta kasih.
Jurnalis : Angela (Tzu Chi Tebing Tinggi),
Fotografer : Lidyawati, Erik Wardi (Tzu Chi Tebing Tinggi),
Editor : Khusnul Khotimah.
Dengan wajah tersenyum dan penuh syukur, warga menerima bantuan dan bersemangat untuk membersihkan rumah mereka. Melihat senyum yang terbit di wajah – wajah mereka, relawan juga merasakan sukacita dan semakin bersyukur karena di tengah relawan yang juga terdampak bencana banjir masih mempunyai kesempatan untuk membantu yang lain. Perasaan empati semakin tumbuh dari diri relawan mendengar banyak cerita yang dialami para korban banjir ini. Inilah estafet cinta kasih.
Jurnalis : Angela (Tzu Chi Tebing Tinggi),
Fotografer : Lidyawati, Erik Wardi (Tzu Chi Tebing Tinggi),
Editor : Khusnul Khotimah.