Bantuan Bencana Banjir Sumatera: Harapan Juhariah di Tengah Tenda Pengungsian Aceh Utara
Di sebuah tenda pengungsian yang masih becek oleh lumpur, Ibu Juhariah (72) berjalan dengan tongkatnya tertatih-tatih dengan langkah yang kian terbatas. Pendengarannya tak lagi sempurna, begitu pula kekuatan kakinya. Sejak banjir bandang melanda Aceh Utara, ia harus meninggalkan rumah dan bertahan hidup di pengungsian. Dari dua belas anak yang ia miliki, tak satu pun kini mempunyai rumah yang layak. Semuanya rusak, hanyut terbawa arus.
Dengan suara lirih namun penuh harap, Ibu Juhariah mengungkapkan keinginannya, “Lon keuneuk na rumoh laen yang layak,” katanya pelan. Juhariah, mendambakan rumah yang memiliki kamar mandi agar ia bisa berwudhu untuk beribadah agar lebih leluasa. Di usia senjanya, berjalan jauh menuju MCK umum di posko pengungsian bukanlah perkara mudah, ia harus berjalan menahan nyeri di kedua lututnya.
Dengan suara lirih namun penuh harap, Ibu Juhariah mengungkapkan keinginannya, “Lon keuneuk na rumoh laen yang layak,” katanya pelan. Juhariah, mendambakan rumah yang memiliki kamar mandi agar ia bisa berwudhu untuk beribadah agar lebih leluasa. Di usia senjanya, berjalan jauh menuju MCK umum di posko pengungsian bukanlah perkara mudah, ia harus berjalan menahan nyeri di kedua lututnya.
Tak jauh dari sana, senyum polos seorang remaja bernama Putri (13) mencuri perhatian. Putri beberapa kali ingin mendekat ke lokasi pembagian bantuan, namun dicegah warga karena kondisi mentalnya. Putri mengalami keterbelakangan mental akibat kejang hebat yang dideritanya saat masih balita. Ia datang bersama ibunya, Ibu Rafasha (50), yang setia mendampingi.
“Putri mau minta air mineral saja, Bu,” ucap Ibu Rafasha dengan suara pelan.
Tanpa ragu, Akhiem Shi Jie, salah satu relawan Tzu Chi, memberikan beberapa botol air mineral dan biskuit. Putri menerimanya dengan wajah berseri, memeluk erat botol air yang ia genggam. Senyum sederhana itu menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, perhatian kecil dapat berarti sangat besar. Meski bagian belakang rumah Rafasha roboh akibat banjir bandang, keluarga Ibu Rafasha masih dapat bertahan tinggal di rumahnya. Keadaan Ibu Juhariah dan Putri salah menjadi salah satu peristiwa dari ratusan penyintas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh Utara.
Pada tanggal 18 Januari 2025, 21 orang relawan Tzu Chi dari Banda Aceh, Bireun, dan Lhokseumawe berangkat menempuh perjalanan panjang menuju Desa Langkahan dan Desa Bukit Linteung Aceh Utara yang membutuhkan waktu tempuh mencapai sembilan hingga sepuluh jam akibat kondisi jalan yang rusak dan sulit dilalui.
“Putri mau minta air mineral saja, Bu,” ucap Ibu Rafasha dengan suara pelan.
Tanpa ragu, Akhiem Shi Jie, salah satu relawan Tzu Chi, memberikan beberapa botol air mineral dan biskuit. Putri menerimanya dengan wajah berseri, memeluk erat botol air yang ia genggam. Senyum sederhana itu menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, perhatian kecil dapat berarti sangat besar. Meski bagian belakang rumah Rafasha roboh akibat banjir bandang, keluarga Ibu Rafasha masih dapat bertahan tinggal di rumahnya. Keadaan Ibu Juhariah dan Putri salah menjadi salah satu peristiwa dari ratusan penyintas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh Utara.
Pada tanggal 18 Januari 2025, 21 orang relawan Tzu Chi dari Banda Aceh, Bireun, dan Lhokseumawe berangkat menempuh perjalanan panjang menuju Desa Langkahan dan Desa Bukit Linteung Aceh Utara yang membutuhkan waktu tempuh mencapai sembilan hingga sepuluh jam akibat kondisi jalan yang rusak dan sulit dilalui.
Sejak pertengahan bulan November 2025, relawan Tzu Chi Banda Aceh secara berkala menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Aceh. Perjalanan ke Aceh Utara kali ini kembali membawa harapan bagi mereka korban banjir bandang yang telah hampir dua bulan bertahan di tenda darurat dan hunian sementara.
Di Desa Langkahan dan Desa Bukit Linteung, relawan menyalurkan 1.000 karung beras (@ 5 kilogram), 100 dus mi instan, 70 dus air mineral, 30 dus minyak goreng, 19 gulung terpal, satu bal sarung, 750 helai handuk, 44 dus kuaci, 35 dus biskuit, 16 dus popok bayi, serta 16 dus pembalut. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban hidup para penyintas.
Desa Bukit Linteung menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Tenda-tenda pengungsian masih dikelilingi lumpur, sanitasi terbatas, dan akses air bersih belum sepenuhnya pulih. Penyakit kulit mulai dialami anak-anak hingga lansia.
Melihat kondisi tersebut, relawan Tzu Chi turut membawa obat-obatan dan salep kulit untuk gatal-gatal untuk membantu warga yang mengalami gatal-gatal. Bantuan ini mungkin belum sepenuhnya menjawab kebutuhan, namun diharapkan dapat menjadi penguat di tengah keterbatasan.
Di Desa Langkahan dan Desa Bukit Linteung, relawan menyalurkan 1.000 karung beras (@ 5 kilogram), 100 dus mi instan, 70 dus air mineral, 30 dus minyak goreng, 19 gulung terpal, satu bal sarung, 750 helai handuk, 44 dus kuaci, 35 dus biskuit, 16 dus popok bayi, serta 16 dus pembalut. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban hidup para penyintas.
Desa Bukit Linteung menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Tenda-tenda pengungsian masih dikelilingi lumpur, sanitasi terbatas, dan akses air bersih belum sepenuhnya pulih. Penyakit kulit mulai dialami anak-anak hingga lansia.
Melihat kondisi tersebut, relawan Tzu Chi turut membawa obat-obatan dan salep kulit untuk gatal-gatal untuk membantu warga yang mengalami gatal-gatal. Bantuan ini mungkin belum sepenuhnya menjawab kebutuhan, namun diharapkan dapat menjadi penguat di tengah keterbatasan.
Berdasarkan data posko pengungsian di lokasi, terdapat lima dusun yang bergabung di posko pengungsi Desa Bukit Linteung, dengan total 597 kepala keluarga atau 1.877 jiwa. Sebanyak 449 rumah terendam banjir, 217 unit rumah rusak berat, dan 197 unit rumah rusak ringan.
Di balik lumpur, tenda pengungsian, dan perjalanan panjang yang melelahkan, relawan Tzu Chi Aceh terus melangkah memberikan bantuan. Para relawan Tzu Chi percaya bahwa kepedulian, kehadiran, dan cinta kasih adalah bagian dari pemulihan pascabencana. Harapan pun terus disematkan relawan, agar para penyintas seperti Ibu Juhariah dan Putri suatu hari dapat kembali hidup layak, menata ulang kehidupan penuh semangat.
Jurnalis : Huicin S., Ronaldo (Tzu Chi Aceh),
Fotografer : Ismanova (Tzu Chi Aceh),
Editor : Anand Yahya.
Di balik lumpur, tenda pengungsian, dan perjalanan panjang yang melelahkan, relawan Tzu Chi Aceh terus melangkah memberikan bantuan. Para relawan Tzu Chi percaya bahwa kepedulian, kehadiran, dan cinta kasih adalah bagian dari pemulihan pascabencana. Harapan pun terus disematkan relawan, agar para penyintas seperti Ibu Juhariah dan Putri suatu hari dapat kembali hidup layak, menata ulang kehidupan penuh semangat.
Jurnalis : Huicin S., Ronaldo (Tzu Chi Aceh),
Fotografer : Ismanova (Tzu Chi Aceh),
Editor : Anand Yahya.