Bantuan Tzu Chi Menguatkan Langkah Supriatna dan Keluarga
Langkah Supriatna (49) tak lagi dipandu oleh penglihatan kedua matanya sejak lebih dari dua dekade lalu. Namun, di balik kegelapan yang ia jalani, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, kehilangan, dan harapan yang terus Supriatna rawat bersama kedua anaknya.
Semua bermula pada tahun 2004, saat usianya 28 tahun. Di masa ketika kehidupan dan pekerjaannya sedang berjalan baik, Supriatna terserang demam tinggi. Ia sempat mengonsumsi obat warung hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Namun, kondisi justru makin memburuk.
“Waktu itu badan saya rasanya seperti terbakar. Kulit mulai melepuh, dan saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kenangnya.
Tim medis kemudian mendiagnosis Supriatna menderita Stevens-Johnson. Selama satu setengah bulan, ia mengalami kondisi kritis hingga tiga kali koma. Saat akhirnya pulih, dampak terberat justru terjadi pada penglihatannya.
“Dampaknya lari ke mata. Sejak itu saya tidak bisa melihat lagi,” ujarnya pelan.
Semua bermula pada tahun 2004, saat usianya 28 tahun. Di masa ketika kehidupan dan pekerjaannya sedang berjalan baik, Supriatna terserang demam tinggi. Ia sempat mengonsumsi obat warung hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Namun, kondisi justru makin memburuk.
“Waktu itu badan saya rasanya seperti terbakar. Kulit mulai melepuh, dan saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kenangnya.
Tim medis kemudian mendiagnosis Supriatna menderita Stevens-Johnson. Selama satu setengah bulan, ia mengalami kondisi kritis hingga tiga kali koma. Saat akhirnya pulih, dampak terberat justru terjadi pada penglihatannya.
“Dampaknya lari ke mata. Sejak itu saya tidak bisa melihat lagi,” ujarnya pelan.
Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk tujuh kali operasi mata. Namun, tak satu pun berhasil mengembalikan penglihatannya. Dalam kondisi tersebut, Supriatna dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ia harus menjalani hidup sebagai penyandang tunanetra, di saat anak-anaknya masih kecil dan membutuhkan biaya dan nafkah.
“Yang bikin saya semangat itu anak-anak saya. Saya harus tetap menafkahi mereka dengan cara apa pun,” ungkapnya.
Dari situlah Supriatna mulai bangkit. Ia belajar keterampilan pijat selama tiga tahun hingga memperoleh sertifikat, lalu menjalani profesi sebagai terapis pijat tunanetra. Selain itu, ia juga berjualan kerupuk kulit berkeliling untuk menambah penghasilan.
“Yang bikin saya semangat itu anak-anak saya. Saya harus tetap menafkahi mereka dengan cara apa pun,” ungkapnya.
Dari situlah Supriatna mulai bangkit. Ia belajar keterampilan pijat selama tiga tahun hingga memperoleh sertifikat, lalu menjalani profesi sebagai terapis pijat tunanetra. Selain itu, ia juga berjualan kerupuk kulit berkeliling untuk menambah penghasilan.
Kini, Supriatna tinggal di wilayah Desa Kota Batu, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, bersama kedua anaknya, Al Fathir (9) yang memiliki keterbatasan mental dan sulit bicara, dan Al Fahri (19) yang saat ini sudah bekerja di sebuah rumah makan. Setiap hari, ia berkeliling menjajakan kerupuk sejak pagi pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, lalu melanjutkan dengan menawarkan jasa pijat pada sore hingga malam hari.
“Saya keliling dari pagi sampai siang jualan. Kalau ada yang panggil pijat, saya pijat. Kalau tidak ada, ya tetap usaha jualan keliling,” tuturnya.
“Saya keliling dari pagi sampai siang jualan. Kalau ada yang panggil pijat, saya pijat. Kalau tidak ada, ya tetap usaha jualan keliling,” tuturnya.
Namun, perjuangan itu tidak selalu mudah. Ia belum memiliki pelanggan tetap, sehingga penghasilan yang didapat masih sangat terbatas.
“Kadang ada yang panggil, kadang tidak. Tapi saya tetap jalan, siapa tahu ada yang membutuhkan jasa pijat,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, bantuan biaya hidup dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menjadi penopang penting bagi keberlangsungan hidupnya. “Alhamdulillah, bantuan dari Tzu Chi sangat membantu. Bisa untuk makan dan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya penuh syukur.
“Kadang ada yang panggil, kadang tidak. Tapi saya tetap jalan, siapa tahu ada yang membutuhkan jasa pijat,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, bantuan biaya hidup dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menjadi penopang penting bagi keberlangsungan hidupnya. “Alhamdulillah, bantuan dari Tzu Chi sangat membantu. Bisa untuk makan dan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya penuh syukur.
Perjuangan Supriatna juga menjadi sumber inspirasi bagi relawan Tzu Chi yang mengunjunginya. Randyka Chiesa, salah satu relawan Tzu Chi Bogor dari komunitas Siliwangi, mengaku banyak belajar dari keteguhan hati Supriatna.
“Dari keterbatasan yang beliau hadapi, saya melihat beliau tidak pernah menyerah. Justru terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya,” ujar Randyka.
Ia menambahkan bahwa pengalaman ini menjadi pengingat bagi dirinya untuk lebih bersyukur. “Kita yang masih bisa melihat dan beraktivitas normal seharusnya lebih banyak bersyukur. Dari Pak Supriatna, saya belajar untuk terus membantu sesama dan tidak mudah menyerah,” ucap Randyka.
Randyka pun menyampaikan harapannya bagi keluarga Supriatna. “Saya berharap Pak Supriatna selalu diberi kesehatan, begitu juga anak-anaknya. Semoga ke depan anak-anaknya bisa tumbuh dengan baik dan membanggakan beliau,” tuturnya.
“Dari keterbatasan yang beliau hadapi, saya melihat beliau tidak pernah menyerah. Justru terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya,” ujar Randyka.
Ia menambahkan bahwa pengalaman ini menjadi pengingat bagi dirinya untuk lebih bersyukur. “Kita yang masih bisa melihat dan beraktivitas normal seharusnya lebih banyak bersyukur. Dari Pak Supriatna, saya belajar untuk terus membantu sesama dan tidak mudah menyerah,” ucap Randyka.
Randyka pun menyampaikan harapannya bagi keluarga Supriatna. “Saya berharap Pak Supriatna selalu diberi kesehatan, begitu juga anak-anaknya. Semoga ke depan anak-anaknya bisa tumbuh dengan baik dan membanggakan beliau,” tuturnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Supriatna tidak pernah kehilangan harapan. Di tengah segala ujian yang dihadapi, ia terus melangkah, perlahan namun pasti.
“Saya hanya ingin anak saya bisa hidup lebih baik dari saya. Itu saja harapan saya,” ucap Supriatna pelan.
Kisah Supriatna menjadi cermin keteguhan hati bahwa dalam kondisi paling gelap sekalipun, manusia masih mampu menyalakan cahaya. Dan melalui kepedulian yang terus mengalir, harapan itu tetap terjaga, menyinari langkah-langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik.
Jurnalis : Anand Yahya,
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Metta Wulandari.
“Saya hanya ingin anak saya bisa hidup lebih baik dari saya. Itu saja harapan saya,” ucap Supriatna pelan.
Kisah Supriatna menjadi cermin keteguhan hati bahwa dalam kondisi paling gelap sekalipun, manusia masih mampu menyalakan cahaya. Dan melalui kepedulian yang terus mengalir, harapan itu tetap terjaga, menyinari langkah-langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik.
Jurnalis : Anand Yahya,
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Metta Wulandari.