Batin yang Puas Membawa Kebahagiaan
“Kebahagiaan akan muncul ketika batin merasa puas dan bersyukur” adalah tema Gathering Gan En Hu (Penerima Bantuan Tzu Chi) komunitas He Qi Utara2 yang diadakan pada 4 September 2022, gedung DAAI, Pantai Indah Kapuk.
Pukul 08.00 Wib raut wajah 41 orang relawan penuh dengan sukacita menyambut 38 penerima bantuan khusus Tzu Chi (Gan En Hu) yang bergembira dapat kembali berkumpul dan pulang ke rumah batin.
Acara gathering di pandu oleh Sintawaty yang mengajak para Gan En Hu untuk melakukan ice breaking senam tangan. Menurut Sintawaty hal ini dilakukan untuk mencairkan suasana, serta melatih gerak motorik, memperkuat jari tangan, dan melancarkan peredaran darah.
Para Gan En Hu sangat antusias mengikuti setiap gerakan-gerakan yang di arahkan oleh Sintawaty dan senam ini dapat di lakukan sendiri di rumah.
Sementara itu Sintawaty mengajak kepada para Gan En Hu untuk memanfaatkan waktu dengan perbuatan yang baik. “Hidup ini penuh dengan ketidakkekalan. Bencana alam, kematian merupakan contoh ketidakkekalan sehingga kita harus memanfaatkan waktu kita dengan sebaik mungkin”, ujar Sintawaty.
Sintawaty juga mengajak para Gan En Hu untuk mulai ikut bersumbangsih. Hal ini sejalan dengan pesan Master Cheng Yen, “Dengan menggunakan tetesan kekuatan cinta kasih, kita dapat mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan agar setiap manusia bisa merasakan sukacita.
“Berbuat baik dan berbakti tidaklah bisa ditunda, tetapi janganlah menunggu sampai kita merasa hidup berlebih, baru membantu orang lain.” ucap Sintawaty. Relawan Tzu Chi yang hadir terus menyemangati para Gan En Hu dalam bersumbangsih, pada kesempatan ini Gan En Hu yang telah memiliki celengan bambu dapat langsung melakukan penuangan celengan bamboo mereka masing-masing.
Lain halnya dengan Soetjianto, salah seorang penerima bantuan khusus Tzu Chi untuk Lyly (istri). Soetjianto memiliki lima orang anak. Namun, seorang pun yang tinggal bersamanya, hanya seorang cucu dan cicit. Namun, Soetjianto tidak berkecil hati.
“Bagaikan seekor burung apabila telah dewasa akan meninggalkan sarangnya. Selama anaknya hidup dengan benar, tidak menyusahkan keluarga, ia tidak masalah anaknya tidak tinggal bersama dengannya”, ucap Soetjianto.
Pada tahun 2014, Lyly menjalani operasi di RS PELNI. Namun, 6 bulan kemudian Lyly kembali terjatuh dan sampai saat ini susah berjalan. Keadaan Lyly yang sudah tidak bisa berjalan tidak membuat Soetjianto meninggalkan sang istri.
“Bagaimanapun keadaannya, dia adalah keluarga saya. Jangan sudah begitu (sakit) lalu kita lepas tangan, itu bukan tanggung jawab seorang lelaki.”, tegas Soetjianto.
Soetjianto mengatakan manusia adalah makhluk sosial, Kita harus bergotong royong dan saling menolong. Cinta kasih, kepedulian yang diberikan oleh relawan Tzu Chi setiap bulan menambah kekuatan sehingga kita tidak merasa hidup sendirian.
Fotografer : Henny Yohannes, Mei Mei(He Qi Utara 2),
Editor : Anand Yahya.