Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Belajar dan Sadar sebagai Bodhisattva dalam Ajaran Baik

“Sesungguhnya, pada tahun 2017, saya sudah mengikuti pelatihan relawan. Namun, saya sempat menjauh beberapa waktu. Saat kami pergi ke salah satu kantor awal Tzu Chi di Minquan, saya mendapatkan 2 kartu Kata Renungan Jing Si. Kedua kata renungan itu terasa seperti pesan pengingat dari Master untuk saya,” kata Wu Yue-fang, relawan Tzu Chi.

“Salah satunya berbunyi, ‘Asalkan ada jalinan jodoh yang dalam, tidak perlu takut jalinan jodoh itu datang terlambat; asalkan menemukan jalan, tidak perlu takut jauhnya perjalanan yang harus ditempuh.’ Saya merasa pesan itu mengingatkan bahwa jalinan jodoh saya dengan Tzu Chi sangat mendalam sehingga saya terus melangkah hingga dilantik,” lanjut Wu Yue-fang.

Wu Yue-fang melanjutkan “Pesan kedua membuat saya ingin bertobat, yaitu mengubah ketamakan menjadi rasa puas dan mengubah kepuasan menjadi welas asih. Dalam 4 hingga 5 tahun terakhir, saya sebenarnya sudah pensiun. Namun, saya justru menjadi sangat tamak dan memiliki banyak keinginan. Saya ingin berkeliling dunia, pergi ke mana pun, gemar makan, dan bersenang-senang.”

“Jadi, saya merasa bahwa kedua kartu yang saya dapatkan itu benar-benar merupakan pengingat dari Master agar saya mengubah ketamakan menjadi rasa puas dan mengubah kepuasan menjadi welas asih,” pungkas Wu Yue-fang.

Sesungguhnya, ketika bergabung di Tzu Chi, kita sedang belajar menjadi pribadi yang baik. Jika kualitas sebagai manusia tercapai, kualitas sebagai Buddha pun akan tercapai. Ketika kepribadian manusia berhasil dibentuk dengan baik, itulah arah menuju kebuddhaan. Proses di tengahnya disebut sebagai Jalan Bodhisattva. Meneladan Buddha berarti berharap dapat mencapai kebuddhaan. Untuk meneladan Buddha dan mencapai kebuddhaan, kita harus menapaki Jalan Bodhisattva.
Sekarang, kalian harus mulai belajar seperti seorang anak kecil yang belum sepenuhnya memahami kebenaran dunia. Jadi, kita harus memiliki hati yang murni seperti anak kecil untuk terjun ke tengah masyarakat dan mempelajari Jalan Bodhisattva. Hal terpenting dalam belajar ialah menapaki Jalan Bodhisattva, yaitu bersumbangsih tanpa pamrih. Inilah yang sering saya katakan. Selain bersumbangsih tanpa pamrih, apa lagi yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita katakan? (Bersyukur.) Kita harus bersyukur dengan tulus. Hendaknya kita bersumbangsih tanpa pamrih dan bersyukur.
Saya sering mengatakan bahwa sepanjang hidup ini, hal yang paling membuat saya bahagia ialah bersyukur pada diri sendiri. Sejak dahulu hingga sekarang, hidup saya selalu berpegang pada kata “bersyukur“. Sebelum menempuh jalan spiritual, saya juga selalu hidup dengan hati yang bersyukur. Dengan hati seperti ini, noda dan kegelapan batin tidak akan mudah mengotori hati kita. Inilah yang disebut dengan kesederhanaan. Hati yang penuh syukur, murni, dan sederhana tidak mengenal rasa dendam dan keluh kesah. Hati itu hanya tahu bersyukur.
Sebutir benih adalah sebab awal dari segala sesuatu. Pohon besar pun berasal dari sebutir benih. Sayuran dan rerumputan juga tumbuh dari benih yang kecil. Pohon juga berasal dari sebutir benih. Pohon besar dapat hidup ribuan tahun dan mampu menjaga tanah serta air. Jadi, sama seperti menanam sebutir benih, ketika kita membangun tekad dan ikrar, hendaknya bertekad untuk menjadi pohon besar. Benih itu harus ditanam dengan sungguh-sungguh di ladang hati kita. Jadi, hendaknya kita membangun tekad dan ikrar untuk memiliki benih ini.
Saya selalu mengingatkan kalian untuk selalu bersyukur. Setiap orang harus senantiasa memiliki hati yang penuh rasa syukur. Setiap orang tidak boleh tidak memiliki rasa syukur. Setiap orang harus memilikinya. Terlebih lagi, insan Tzu Chi harus menapaki jalan rasa syukur ini. Tanpa makhluk yang menderita, tidak akan ada sebutan “Bodhisattva“. Jadi, karena ada orang yang hidup dalam kemiskinan, barulah ada orang baik yang membantu mereka.
Orang yang membantu sesama itulah orang baik. Jika tidak ada orang yang kesulitan, meski seseorang memiliki uang dan niat baik, ia tetap tidak memiliki kesempatan untuk menabur benih kebajikan. Jadi, Bodhisatwa sekalian, jika kalian sungguh-sungguh bertekad, jagalah hati yang penuh rasa syukur dan sukacita. Selain itu, kalian juga harus terus membimbing orang lain. Bodhisattva harus bisa membimbing orang lain. Para donatur juga harus dijaga dengan baik.
Terhadap siapa pun yang membutuhkan bantuan, berikanlah hati yang tulus. Ajaklah orang lain bersama-sama melakukan kebajikan. Perilaku kita sendiri sangatlah penting. Orang yang membantu orang lain, jangan memiliki perasaan “saya sedang membantu orang”. Bersumbangsih itu harus dengan hati yang bersyukur. “Dahulu saya membantu Anda. Apakah Anda masih ingat?” Kita tidak boleh seperti itu. Yang harus dikatakan ialah, “Kita memiliki jalinan jodoh untuk bertemu kembali.” Bukan berkata, “Apakah Anda masih ingat bahwa saya yang membantu Anda?” Kita harus saling bertumbuh.
Ketika seseorang membutuhkan bantuan, kita harus menolongnya agar terbebas dari kesulitan. Hendaknya kita peduli dan mendampinginya hingga ia dapat berjalan bersama kita dan mampu membantu orang lain. Inilah tujuan kita membantu sesama, bukan supaya mereka berterima kasih kepada kita. Tujuan kita ialah agar mereka juga dapat menjadi orang yang bisa membantu sesama. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baik. Inilah yang disebut membimbing hati manusia.
Jadi, hendaknya kita terus berusaha lebih giat. Dengan banyaknya orang, kekuatan pun menjadi besar. Demi mereka yang kesulitan, kita harus bersama-sama bersungguh hati. Inilah yang disebut dengan Bodhisattva. Selama hati setiap orang memiliki tekad yang kuat dan bersedia untuk bertindak, kekuatan itu akan muncul dan mampu membantu banyak orang. Terlebih lagi, masyarakat memang membutuhkan kita.
Dalam hidup ini, selain bersyukur atas jalinan jodoh baik, saya juga menggenggam jalinan jodoh baik ini untuk bersumbangsih bagi dunia. Saya bersyukur atas dunia ini dan adanya jalinan jodoh dengan semua orang sehingga kita bisa bersama-sama mewujudkan begitu banyak kebajikan. Jadi, apa yang saya sampaikan ini hendaknya benar-benar kalian resapi. Yang terpenting ialah melatih diri di tengah dunia.
Dalam kehidupan ini, selalu ada perbandingan antara baik dan buruk serta benar dan salah. Melatih diri harus berlandaskan ajaran yang baik. Apa itu kejahatan? Terkadang, kebiasaan dan tabiat buruk dalam diri kita membuat kita melakukan kesalahan hanya karena niat yang keliru. Sedikit saja penyimpangan akan membawa kita tersesat sangat jauh. Hanya karena satu pikiran menyimpang, didukung oleh berbagai sebab dan kondisi, kita bisa berjalan di arah yang salah. Jadi, dalam melatih diri, kita harus sangat berhati-hati. Jadi, hendaknya kalian bersungguh-sungguh dalam belajar dan bertindak.
Tadi ada dua kata penting, yaitu “belajar” dan “sadar“. Untuk belajar, kita harus mempelajari jalan di tengah ini, yaitu Jalan Bodhisatwa. Jika menyimpang, kita akan jatuh ke dalam lima atau enam alam kehidupan dan terus berputar mengikuti sebab dan kondisi tanpa mampu mengendalikan diri. Jadi, dalam melatih diri, hendaknya kita kembali pada hakikat sejati.

Menyempurnakan kualitas diri menuju Jalan Buddha
Bersumbangsih tanpa pamrih dengan ketulusan
Bersyukur dan berjalan dalam kebajikan untuk kembali pada hakikat sejati
Terus melatih diri sebagai Bodhisattva untuk belajar dan sadar

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 23 Mei 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 25 Mei 2026

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

MPO88ASIA

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

JUN88