Belajar Mengelola Sampah Bersama Tzu Chi
Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi atau biasa dikenal dengan depo pelestarian lingkungan di kawasan Pantai Indah Kapuk pada tanggal 26 Februari 2024 ramai dikunjungi para mahasiswa dari Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan Universiti Teknologi MARA Malaysia.
Meraka datang ke depo pendidikan untuk belajar memilah barang yang bisa di daur ulang terkait dengan kegiatan Outbound Mobility 2024: Malaysia-Indonesia Sustainable Exchange: Empowering SDG Action program, Community Development Center – Teach for Indonesia (BINUS University) antara kedua universitas tersebuit.
Di depo Pantai Indah Kapuk, para mahasiswa menerima penjelasan proses pemilahan barang daur ulang dan pemahanan tentang sampah apa saja yang bisa dan tidak bisa diterima di depo Tzu Chi untuk didaur ulang. “Ada kertas, kardus, kaleng, lalu kemasan-kemasan twinwall yang sekarang marak digunakan untuk membungkus makanan, itu juga bisa didaur ulang,” kata Valeska Vania Lee, seorang anggota Tzu Ching yang berkesempatan memberi penjelasan. “Sebaliknya, kami tidak menerima segala bentuk styrofoam ya teman-teman,” lanjutnya ramah.
Mendapat penjelasan dan pemahaman secara rinci dari relawan para mahasiswa langsung diajak untuk praktik memilah barang yang bisa di daur ulang. Ada 56 mahasiswa dan pembimbing terlihat ekspresif dan aktif dalam memilah barang, khususnya botol kemasan air minum, yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh relawan.
Pertama mereka melepaskan tutup botol, mengupas plastik yang menempel pada kemasan botol, lalu meremas botol dan memisahkan ketiganya. Semua tampak senang dan tidak terganggu sedikitpun. “Hari ini saya sangat excited dan ternyata setelah praktik, betul-betul fun,” ucap Lung Phin Lee, mahasiswa BINUS, senang, “dari sini, saya bisa memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan tambahan yang bermanfaat. Pemilahan sampah ini juga menambah wawasan untuk saya khususnya, sehingga saya punya pengetahuan untuk bisa mengelola sampah dengan benar.”
Menurut Lung, panggilan akrab Lung Phin Lee, Sebenarnya menambah wawasan dalam pengelolaan sampah itu sangat penting di era sekarang ini karena kondisi Bumi semakin panas dan perubahan iklim juga semakin extreme. “Terlihat dari banyaknya sampah dan banyaknya bencana yang terjadi. Makanya sebagai anak muda, sudah seharusnya kita paham karena kitalah yang nanti akan mengajarkan kepada generasi berikutnya untuk mencintai lingkungan,” tutur Lung.
Bukan hanya Lung, Muhammad Shahfiq Bin Shahrom mahasiswa dari Universiti Teknologi MARA Malaysia pun sepakat. Kegiatan semacam ini menurutnya perlu dibuat lebih sering sehingga anak muda semakin sadar akan pengelolaan sampah. “Karena di Malaysia juga ada wilayah yang banyak sampah, ya di pinggir jalan, sungai. Untuk itu, kalau sudah banyak edukasinya, semoga masyarakat semakin sadar untuk menjaga lingkungan bersama,” kata mahasiswa semester tiga ini.
Mengetahui para mahasiswanya enjoy sekaligus paham akan pelestarian lingkungan ini, Andyni Khosasih, S.E., B.A., M.Lit, Community Development Center Manajer – Teach For Indonesia merasa lega. Andyni berharap semua orang mau peduli, di mulai dari diri sendiri bahwa setiap hari, setiap orang itu memproduksi sampah tanpa disadari.
“Makanya saya berharap setelah mereka tahu betapa banyaknya sampah yang diproduksi itu, besoknya lagi mereka akan bisa menerapkan manajemen sampah, sehingga bisa bawa tumblr bukan lagi dengan mudah membeli minuman atau makanan kemasan sekali pakai, sehingga itu bisa mengurangi jumlah sampah kita,” papar Andyni Khosasih. “Setelah ini semoga mereka juga bisa share ke teman-teman mereka sehingga lebih banyak yang tahu pentingnya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan,” tambah Andyni.
Fotografer : Metta Wulandari,
Editor : Anand Yahya.