Belajar Merekam Kebaikan, Mewarisi Semangat Cinta Kasih
Cinta kasih itu menular, dan dokumentasi menjadi salah satu cara sederhana untuk menyebarkannya. Melalui jepretan foto dan rekaman video, kisah-kisah kebaikan tidak hanya terekam, tetapi juga dihidupkan kembali. Ia menggerakkan hati, menumbuhkan empati, dan memberi inspirasi bagi banyak insan.
Sejak awal berdirinya Tzu Chi, Master Cheng Yen senantiasa menekankan pentingnya mendokumentasikan setiap momen dalam perjalanan cinta kasih. Dalam salah satu ceramahnya, beliau pernah menyampaikan, “Kita terus mendokumentasikan sejarah Tzu Chi. Meski saat itu kita menggunakan cara amatir, tetapi semua dokumentasi itu sangat berharga. Semuanya adalah sejarah yang pernah kita lalui. Kekuatan cinta kasih sungguh tak pernah pudar.”
Semangat inilah yang diwariskan dan terus dilanjutkan oleh para relawan hingga hari ini. Pada hari Minggu, 25 Mei 2025, relawan komunitas He Qi Angke dan Pluit mengadakan Workshop Dasar Zhen Shan Mei (ZSM) di Galeri DAAI, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Mengusung tema “Merekam Momen, Menyebarkan Cinta Kasih”, workshop ini tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan teknis dalam mengambil gambar dan menyunting video, tetapi juga menanamkan nilai dan semangat untuk merekam setiap momen kebaikan dan menyebarkannya, sebagai warisan batin bagi generasi mendatang.
Sejak awal berdirinya Tzu Chi, Master Cheng Yen senantiasa menekankan pentingnya mendokumentasikan setiap momen dalam perjalanan cinta kasih. Dalam salah satu ceramahnya, beliau pernah menyampaikan, “Kita terus mendokumentasikan sejarah Tzu Chi. Meski saat itu kita menggunakan cara amatir, tetapi semua dokumentasi itu sangat berharga. Semuanya adalah sejarah yang pernah kita lalui. Kekuatan cinta kasih sungguh tak pernah pudar.”
Semangat inilah yang diwariskan dan terus dilanjutkan oleh para relawan hingga hari ini. Pada hari Minggu, 25 Mei 2025, relawan komunitas He Qi Angke dan Pluit mengadakan Workshop Dasar Zhen Shan Mei (ZSM) di Galeri DAAI, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Mengusung tema “Merekam Momen, Menyebarkan Cinta Kasih”, workshop ini tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan teknis dalam mengambil gambar dan menyunting video, tetapi juga menanamkan nilai dan semangat untuk merekam setiap momen kebaikan dan menyebarkannya, sebagai warisan batin bagi generasi mendatang.
Sebanyak 55 peserta dari berbagai latar belakang hadir dalam suasana belajar yang hangat dan penuh semangat. Tidak hanya menyerap teori, para peserta juga diajak langsung untuk terlibat dalam praktik lapangan, berdiskusi, dan mencoba teknik-teknik baru yang sebelumnya mungkin terasa asing. Namun, lebih dari semua teknik tersebut, ada satu hal yang selalu ditekankan, yaitu kepekaan hati. Karena hanya dengan hati yang penuh welas asih, setiap rekaman dan gambar dapat menjadi media untuk menginspirasi dan menggerakkan cinta kasih dalam hati banyak orang.
Kisah Mereka, Semangat Kita
Salah satu wajah muda yang mencuri perhatian dalam workshop hari itu adalah Dragon Apriliawan (13), anak teratai Tzu Chi dari komunitas He Qi Angke dan Pluit. Tahun ini, ia dipercaya sebagai ketua kelompok jenjang SD untuk mewakili komunitasnya dalam lomba video humanis Teratai Digital Festival. Meski masih belia, semangat dan kepercayaan dirinya pantas diacungi jempol.
Dragon bukan nama asing dalam kegiatan Tzu Chi. Setahun sebelumnya, ia pernah mengikuti lomba pidato Mandarin dalam ajang Teratai Cup. Meskipun tidak memiliki latar belakang bahasa Mandarin, Dragon mampu tampil percaya diri di atas panggung. Dengan semangat belajar dan pendampingan intensif dari para relawan, ia mengimprovisasi pidatonya lengkap dengan gerakan ekspresif. Hasilnya, ia berhasil meraih Juara 2. Sebuah pencapaian yang membanggakan dan membuktikan bahwa semangat bisa melampaui keterbatasan.
Dragon bukan nama asing dalam kegiatan Tzu Chi. Setahun sebelumnya, ia pernah mengikuti lomba pidato Mandarin dalam ajang Teratai Cup. Meskipun tidak memiliki latar belakang bahasa Mandarin, Dragon mampu tampil percaya diri di atas panggung. Dengan semangat belajar dan pendampingan intensif dari para relawan, ia mengimprovisasi pidatonya lengkap dengan gerakan ekspresif. Hasilnya, ia berhasil meraih Juara 2. Sebuah pencapaian yang membanggakan dan membuktikan bahwa semangat bisa melampaui keterbatasan.
Di balik pencapaiannya, tersimpan kisah sederhana namun penuh makna. Dragon tinggal bersama ibunya di sebuah kos sederhana dekat sekolahnya, SD Hati Kudus. Sang ibu, yang sehari-hari berjualan untuk mencukupi kebutuhan, menjadi sumber kekuatan dan inspirasi dalam hidupnya. Meski hidup dalam keterbatasan, Dragon tidak pernah kekurangan semangat untuk belajar dan berkembang. Kini, Dragon melangkah ke medan belajar baru, videografi.
Mengikuti workshop ZSM menjadi pengalaman berharga sekaligus kesempatan menyenangkan baginya untuk belajar keterampilan yang jarang ia temui di sekolah. Baginya, proses belajar terasa seru karena langsung terlibat dalam praktik. Ia merasakan langsung bahwa membuat video bukan hanya soal teknis, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan cara yang menarik dan bermakna sehingga dapat menjadi sarana menyebarkan pesan moral. “Menyampaikan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang lain yang membutuhkan dengan hati yang tulus dan ikhlas,” katanya mantap.
Mengikuti workshop ZSM menjadi pengalaman berharga sekaligus kesempatan menyenangkan baginya untuk belajar keterampilan yang jarang ia temui di sekolah. Baginya, proses belajar terasa seru karena langsung terlibat dalam praktik. Ia merasakan langsung bahwa membuat video bukan hanya soal teknis, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan cara yang menarik dan bermakna sehingga dapat menjadi sarana menyebarkan pesan moral. “Menyampaikan bahwa kita harus berbuat baik kepada orang lain yang membutuhkan dengan hati yang tulus dan ikhlas,” katanya mantap.
Pengalaman mengikuti workshop ini semakin membakar semangatnya untuk terus belajar dan berkarya. Ketika ditanya apakah ia ingin ikut lagi jika ada workshop berikutnya, Dragon menjawab dengan yakin, “Iya, karena workshop kali ini bisa memberi pelajaran buat saya.”
Semangat belajar Dragon, baik saat tampil dalam lomba pidato maupun kini dalam dunia videografi, mencerminkan nilai utama yang ingin ditanamkan Tzu Chi kepada generasi muda, bahwa dengan bimbingan, ketekunan, dan cinta kasih, setiap anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya terampil, tetapi juga penuh welas asih.
Melalui tangan-tangan muda seperti Dragon, cinta kasih bisa direkam, diedit, dan disebarkan ke seluruh penjuru, menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut menyebarkan kebaikan.
Semangat belajar Dragon, baik saat tampil dalam lomba pidato maupun kini dalam dunia videografi, mencerminkan nilai utama yang ingin ditanamkan Tzu Chi kepada generasi muda, bahwa dengan bimbingan, ketekunan, dan cinta kasih, setiap anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya terampil, tetapi juga penuh welas asih.
Melalui tangan-tangan muda seperti Dragon, cinta kasih bisa direkam, diedit, dan disebarkan ke seluruh penjuru, menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut menyebarkan kebaikan.
Merekam Memori, Menyalakan Sukacita
Semangat Dragon hanyalah salah satu dari banyak cerita yang tumbuh dalam workshop hari itu. Peserta lain, Micheline, juga merasakan hal serupa meski datang dari latar belakang yang berbeda.
Sebagai relawan muda yang baru bergabung di Tzu Chi, Micheline melihat workshop ini sebagai momentum penting untuk menyegarkan kembali keterampilan yang sebelumnya sempat ia pelajari. “Lebih ke mau remind lagi cara pengambilan gambar dan video serta belajar ngedit juga, biar lebih baik dari sebelumnya,” ungkapnya.
Sebagai relawan muda yang baru bergabung di Tzu Chi, Micheline melihat workshop ini sebagai momentum penting untuk menyegarkan kembali keterampilan yang sebelumnya sempat ia pelajari. “Lebih ke mau remind lagi cara pengambilan gambar dan video serta belajar ngedit juga, biar lebih baik dari sebelumnya,” ungkapnya.
Yang membuatnya semakin antusias adalah pendekatan praktis dalam workshop. “Seru karena ada praktiknya,” tuturnya. Langsung terjun memegang kamera, mencoba sudut pengambilan gambar, hingga menjajal proses editing, membuat suasana belajar terasa hidup dan tidak membosankan.
Micheline pun mengakui, tantangan terbesar justru bukan datang dari materi, melainkan dari dirinya sendiri. “Kalau tantangan pasti ada, tapi lebih ke diri sendiri sih, kayak ngatur waktu dan belajar lebih peka,” ujarnya jujur. Meski begitu, ia tetap merasa banyak hal baru yang bisa dipelajari dari workshop ini. “Inisiatif dan lebih peka sama lingkungan sekitar. Tapi kalau dari segi materinya sendiri, itu sangat membantu.”
Baginya, workshop ini bukan sekadar menambah keterampilan teknis, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang makna dokumentasi dalam kegiatan kemanusiaan. Ia menyebut bahwa dokumentasi bisa menjadi jembatan untuk menyebarkan sukacita dan inspirasi bagi lebih banyak orang. “Dokumentasi penting untuk merekam memori yang baik. Nah, dari memori ini biasanya bisa menciptakan sukacita buat yang lihat, agar ke depannya orang juga punya motivasi untuk menciptakan hal baik,” jelasnya.
Sebagai penutup, Micheline menyampaikan harapannya ke depan sebagai relawan. Ia ingin terus belajar, berkembang, dan memperdalam makna dari setiap langkah kecil yang ia ambil. “Mungkin ZSM ini bisa jadi sarana saya untuk belajar lebih banyak, berbuat baik kepada orang lain,” katanya sambil tersenyum, mengisyaratkan bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang membantu, tapi juga tentang menemukan makna dan jati diri.
Micheline pun mengakui, tantangan terbesar justru bukan datang dari materi, melainkan dari dirinya sendiri. “Kalau tantangan pasti ada, tapi lebih ke diri sendiri sih, kayak ngatur waktu dan belajar lebih peka,” ujarnya jujur. Meski begitu, ia tetap merasa banyak hal baru yang bisa dipelajari dari workshop ini. “Inisiatif dan lebih peka sama lingkungan sekitar. Tapi kalau dari segi materinya sendiri, itu sangat membantu.”
Baginya, workshop ini bukan sekadar menambah keterampilan teknis, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang makna dokumentasi dalam kegiatan kemanusiaan. Ia menyebut bahwa dokumentasi bisa menjadi jembatan untuk menyebarkan sukacita dan inspirasi bagi lebih banyak orang. “Dokumentasi penting untuk merekam memori yang baik. Nah, dari memori ini biasanya bisa menciptakan sukacita buat yang lihat, agar ke depannya orang juga punya motivasi untuk menciptakan hal baik,” jelasnya.
Sebagai penutup, Micheline menyampaikan harapannya ke depan sebagai relawan. Ia ingin terus belajar, berkembang, dan memperdalam makna dari setiap langkah kecil yang ia ambil. “Mungkin ZSM ini bisa jadi sarana saya untuk belajar lebih banyak, berbuat baik kepada orang lain,” katanya sambil tersenyum, mengisyaratkan bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang membantu, tapi juga tentang menemukan makna dan jati diri.
Misi Budaya Humanis dalam Diri Setiap Relawan
Seluruh semangat dan ketulusan yang dirasakan oleh para peserta workshop bukan hadir begitu saja. Ada sosok-sosok yang membimbing di balik layar, salah satunya Aris Widjaja, yang menjadi pemateri utama dalam sesi workshop ini. Membawakan materi tentang teknik foto menggunakan smartphone, Aris mengajak para peserta untuk menggali lebih dalam esensi dokumentasi dalam misi kemanusiaan Tzu Chi.
“Seperti tema workshop kita kali ini,” ujar Aris membuka wawancara, “hendaknya setiap relawan, apa pun badan misinya, tidak hanya bersumbangsih dan mempraktikkan Dharma, tapi juga mampu mendokumentasikan dan menyebarkan setiap jejak cinta kasih. Semakin banyak insan yang terinspirasi, akan memotivasi relawan lainnya untuk terus melakukan kebaikan.”
“Seperti tema workshop kita kali ini,” ujar Aris membuka wawancara, “hendaknya setiap relawan, apa pun badan misinya, tidak hanya bersumbangsih dan mempraktikkan Dharma, tapi juga mampu mendokumentasikan dan menyebarkan setiap jejak cinta kasih. Semakin banyak insan yang terinspirasi, akan memotivasi relawan lainnya untuk terus melakukan kebaikan.”
Workshop disusun dengan pendekatan praktis agar mudah dicerna oleh peserta dari berbagai latar belakang. “Disukai atau tidak, kita semua sudah terbiasa dengan kamera ponsel. Maka, workshop ini lebih menekankan pada bagaimana mengoptimalkan fitur yang ada berdasarkan kebiasaan umum,” jelas Aris.
Bagi Aris, dokumentasi bukanlah tugas eksklusif tim Zhen Shan Mei. Ia menekankan bahwa setiap badan misi memiliki tanggung jawab yang sama untuk mencatat dan menyebarkan nilai-nilai luhur. “Seperti yang Master lakukan sejak awal berdirinya Tzu Chi, dengan segala keterbatasan, beliau tetap konsisten mencatat dan merekam,” tambahnya.
Respons peserta selama workshop juga menjadi catatan tersendiri baginya. “Respon mereka luar biasa. Aktif bertanya, bereksperimen langsung dari HP masing-masing, bahkan saat praktik menghadapi tantangan teknis seperti backlight, mereka tetap berusaha mencari posisi terbaik. Itu sangat membekas,” ungkap Aris dengan penuh semangat.
Namun, ia juga menyadari tantangan yang dihadapi, terutama oleh para relawan pemula. “Tantangan terbesarnya adalah keberanian untuk mencoba dan kesiapan memikul tanggung jawab. Banyak yang ragu karena merasa bukan profesional. Padahal, dokumentasi bukan soal keahlian teknis semata, tapi keberanian dan ketulusan untuk menyampaikan pesan kebaikan.”
Bagi Aris, dokumentasi bukanlah tugas eksklusif tim Zhen Shan Mei. Ia menekankan bahwa setiap badan misi memiliki tanggung jawab yang sama untuk mencatat dan menyebarkan nilai-nilai luhur. “Seperti yang Master lakukan sejak awal berdirinya Tzu Chi, dengan segala keterbatasan, beliau tetap konsisten mencatat dan merekam,” tambahnya.
Respons peserta selama workshop juga menjadi catatan tersendiri baginya. “Respon mereka luar biasa. Aktif bertanya, bereksperimen langsung dari HP masing-masing, bahkan saat praktik menghadapi tantangan teknis seperti backlight, mereka tetap berusaha mencari posisi terbaik. Itu sangat membekas,” ungkap Aris dengan penuh semangat.
Namun, ia juga menyadari tantangan yang dihadapi, terutama oleh para relawan pemula. “Tantangan terbesarnya adalah keberanian untuk mencoba dan kesiapan memikul tanggung jawab. Banyak yang ragu karena merasa bukan profesional. Padahal, dokumentasi bukan soal keahlian teknis semata, tapi keberanian dan ketulusan untuk menyampaikan pesan kebaikan.”
Dalam pandangan Aris, dokumentasi dalam semangat Zhen Shan Mei harus selalu mencerminkan nilai kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Inilah cara paling humanis untuk mewariskan nilai-nilai luhur dan menumbuhkan keteladanan. “Misi budaya humanis ada dalam setiap badan misi, mulai dari amal, kesehatan hingga pendidikan. Dengan memahami esensinya, setiap relawan dapat memupuk semangat untuk mencatat dan merekam, agar kebaikan hari ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,” pungkasnya.
Dari Kepekaan Hati, Tumbuh Semangat Mengabadikan
Semangat mendokumentasikan momen cinta kasih tak hanya dirasakan oleh peserta dan pemateri, tapi juga datang dari sosok yang membimbing mereka sejak awal, Anie Widjaja, Koordinator He Qi Angke. Dalam pandangannya, dokumentasi bukan semata urusan teknis atau sekadar memotret kegiatan. Lebih dari itu, ini adalah ekspresi dari kepekaan hati dan dorongan untuk berbagi.
“Setiap kali melihat sesuatu yang indah, unik, atau menyentuh, saya pasti ingin mengabadikannya. Demikian pula saat berkegiatan, saya ingin merekam pengalaman itu agar bisa diingat dan dibagikan kepada keluarga serta teman-teman,” ujarnya.
“Setiap kali melihat sesuatu yang indah, unik, atau menyentuh, saya pasti ingin mengabadikannya. Demikian pula saat berkegiatan, saya ingin merekam pengalaman itu agar bisa diingat dan dibagikan kepada keluarga serta teman-teman,” ujarnya.
Tak hanya aktif di lapangan, Anie juga pernah beberapa kali menulis artikel tentang kegiatan Tzu Chi. Baginya, baik tulisan maupun visual, keduanya adalah medium penting untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Karena itulah, ia percaya bahwa konsep Ren Ren Zhen Shan Mei, setiap orang bisa menjadi penyampai kebaikan lewat dokumentasi, bukanlah beban, melainkan hal yang bisa muncul secara natural dari hati yang tulus.
“Master selalu mengingatkan kita untuk tulus. Tulus berarti memberi lebih banyak perhatian dan sensitif terhadap kebutuhan serta kondisi sekitar. Jika kita memperhatikan dengan tulus, kita akan mendapatkan cerita dan foto yang bagus,” jelasnya.
Namun, membangun semangat ini di kalangan relawan, terutama yang masih baru, tentu bukan tanpa tantangan. Dari pengamatannya, hambatan yang umum ditemui antara lain rasa kurang tanggung jawab terhadap dokumentasi, kesulitan mengambil gambar yang baik, hingga fokus yang terlalu tertuju pada aktivitas tanpa menyadari momen berharga yang sedang berlangsung.
“Master selalu mengingatkan kita untuk tulus. Tulus berarti memberi lebih banyak perhatian dan sensitif terhadap kebutuhan serta kondisi sekitar. Jika kita memperhatikan dengan tulus, kita akan mendapatkan cerita dan foto yang bagus,” jelasnya.
Namun, membangun semangat ini di kalangan relawan, terutama yang masih baru, tentu bukan tanpa tantangan. Dari pengamatannya, hambatan yang umum ditemui antara lain rasa kurang tanggung jawab terhadap dokumentasi, kesulitan mengambil gambar yang baik, hingga fokus yang terlalu tertuju pada aktivitas tanpa menyadari momen berharga yang sedang berlangsung.
Untuk menjawab tantangan itu, Anie bersama timnya aktif mengadakan pelatihan atau workshop. Ia juga menerapkan sistem penunjukan PIC dokumentasi di setiap kegiatan dan mengajak para relawan untuk lebih sadar akan nilai dokumentasi sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menyebarkan cinta kasih.
Satu catatan penting yang ia sampaikan dari pelaksanaan workshop ini adalah harapannya agar sesi video dibuat lebih panjang. Menurutnya, durasi yang lebih luas akan memberi ruang bagi peserta untuk menyerap materi secara lebih mendalam dan mencoba langsung lewat praktik.
Saat ditanya apa pesannya bagi para relawan muda yang ingin mulai mendokumentasikan kegiatan Tzu Chi, Anie menjawab lugas, “Just do it. Ada banyak relawan senior yang siap mendampingi.” Sebuah dorongan sederhana, namun kuat. Bahwa dalam perjalanan menyebarkan cinta kasih, setiap langkah kecil tetap berarti, asal dimulai dengan niat tulus dan keberanian mencoba.
Jurnalis : Vincent Salimputra (He Qi Pluit),
Fotografer : Indra Gunawan (He Qi Angke), Henny Yohannes, Vincent Salimputra (He Qi Pluit),
Editor : Metta Wulandari.
Satu catatan penting yang ia sampaikan dari pelaksanaan workshop ini adalah harapannya agar sesi video dibuat lebih panjang. Menurutnya, durasi yang lebih luas akan memberi ruang bagi peserta untuk menyerap materi secara lebih mendalam dan mencoba langsung lewat praktik.
Saat ditanya apa pesannya bagi para relawan muda yang ingin mulai mendokumentasikan kegiatan Tzu Chi, Anie menjawab lugas, “Just do it. Ada banyak relawan senior yang siap mendampingi.” Sebuah dorongan sederhana, namun kuat. Bahwa dalam perjalanan menyebarkan cinta kasih, setiap langkah kecil tetap berarti, asal dimulai dengan niat tulus dan keberanian mencoba.
Jurnalis : Vincent Salimputra (He Qi Pluit),
Fotografer : Indra Gunawan (He Qi Angke), Henny Yohannes, Vincent Salimputra (He Qi Pluit),
Editor : Metta Wulandari.