Berbuat Baik Tanpa Pamrih Melalui Donor Darah
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kompleks Grand Jati Junction, Medan, ini menjadi wujud nyata cinta kasih yang diwujudkan melalui tindakan sederhana, yaitu mendonorkan darah untuk membantu sesama.
Informasi mengenai kegiatan donor darah telah disebarluaskan melalui media sosial dan spanduk yang dipasang beberapa waktu sebelum pelaksanaan kegiatan. Melalui aksi sederhana ini, setiap pendonor turut memberikan kesempatan hidup kepada orang lain tanpa mengenal siapa penerimanya, tanpa mengharapkan balasan, bahkan tanpa mengetahui kisah di balik darah yang didonorkan.
Pada kegiatan ini berhasil terkumpul 78 kantong darah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 kantong darah berasal dari pendonor pemula yang baru pertama kali mendonorkan darahnya.
Salah satunya adalah Farel Alqiano Siregar (20), anak asuh Tzu Chi yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Negeri Medan. Donor darah kali ini menjadi pengalaman pertamanya mendonorkan darah.
“Saya pernah melihat di media sosial ada orang yang sudah donor darah sampai 100 kali. Saya merasa itu sangat keren. Waktu itu saya ingin bisa seperti mereka, tetapi belum tahu bagaimana caranya. Kebetulan ada kegiatan ini dan saya didampingi relawan, jadi saya sangat antusias. Saya senang bisa menjadi donor darah untuk pertama kalinya. Semoga semakin banyak orang yang mendonorkan darah dan saya juga bisa rutin donor untuk membantu sesama,” ujar Farel.
Sejak lama Asmaini memiliki keinginan untuk menjadi pendonor, tetapi kesibukan mengurus keluarga membuat niat tersebut belum pernah terwujud. Kesempatan itu akhirnya datang ketika relawan Tzu Chi melakukan kunjungan kasih rutin ke rumahnya pada hari Sabtu, 13 Juni 2026, sekaligus mengundang keluarganya untuk mengikuti kegiatan donor darah.
Tanpa ragu, Asmaini datang bersama suami dan anaknya. Bahkan sang suami, Indra, turut mendonorkan darah sebagai bentuk dukungan terhadap aksi kemanusiaan tersebut.
“Saya sangat senang bisa ikut mendonorkan darah. Ini adalah donor darah pertama saya. Sudah lama sekali saya ingin donor darah, tetapi selalu ada halangan. Saya bersyukur hari ini akhirnya bisa ikut membantu sesama melalui darah yang saya donorkan,” ungkap Asmaini.
Bagi para peserta, donor darah bukan sekadar kegiatan kesehatan, melainkan wujud nyata kepedulian yang lahir dari hati yang tulus. Kegiatan ini mengajarkan bahwa membantu sesama tidak selalu harus dilakukan melalui hal-hal besar. Tindakan sederhana pun dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan orang lain.
Koordinator kegiatan, Mega Sari, mengaku bersyukur melihat antusiasme para peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, relawan, anak asuh, hingga penerima bantuan Tzu Chi.
“Terlihat peserta donor darah sangat antusias. Ada yang datang dari masyarakat umum, relawan, anak asuh, dan penerima bantuan Tzu Chi. Saya berharap semakin banyak orang peduli terhadap donor darah. Dengan mendonorkan darah, kita dapat membantu mereka yang membutuhkan sekaligus memperoleh manfaat kesehatan,” ujar Mega.
Setelah proses donor darah selesai, para peserta menikmati makanan bergizi yang telah disediakan panitia. Menariknya, area konsumsi menerapkan konsep pelestarian lingkungan. Peserta diajak mengambil makanan secukupnya, tidak menyisakan makanan, serta menjaga kebersihan dengan meletakkan peralatan makan pada tempat yang telah disediakan.
Seperti yang sering diingatkan oleh Master Cheng Yen, “Jangan meremehkan kebaikan kecil, karena dari tetesan-tetesan kecil itulah akan terkumpul lautan kebajikan.”
Master Cheng Yen juga mengajarkan bahwa kebajikan tidak diukur dari besar atau kecilnya pemberian, melainkan dari ketulusan hati saat memberi. Ketika seseorang rela menyisihkan waktu, menjaga kesehatannya, lalu mendonorkan darah untuk orang yang bahkan tidak dikenalnya, sesungguhnya ia sedang mempraktikkan cinta kasih tanpa syarat.
Kebaikan seperti inilah yang mampu menumbuhkan kehangatan di tengah masyarakat dan menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan.
Jurnalis : Yanti Yunita (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Gunawan Halim, Lim Hung Jeng, Yanti Yunita (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.