Kisah Dari Relawan

Berpikir dan Memasak di Luar Kebiasaan

Pada tahun 2011, Tzu Chi mengadakan pertunjukkan musikal yang diadaptasi dari Compassionate Samadhi Water Repentance (Ritual Pertobatan Air Penuh Kasih), sebuah teks sutra Buddhis dalam Bahasa Mandarin. Relawan yang ambil bagian dalam pertunjukkan tersebut harus menjalani pola makan vegetarian minimal selama 108 hari untuk memurnikan tubuh dan hati mereka. Diet vegetarian tersebut untuk membantu memastikan bahwa mereka bisa menampilkan adaptasi tersebut dengan hati yang tulus dan murni. Sejak saat itu, saya telah membantu mempromosikan pola makan vegetarian sebagai relawan Tzu Chi. Sebagai contoh, di tahun itu, saya menyediakan makan siang untuk semua karyawan di perusahaan saya selama 108 hari.
Di awal tahun lalu, ayah saya harus dirawat di rumah sakit karena sakit parah. Dia harus dirawat di Ruang Gawat Darurat selama lebih dari satu bulan. Setelah dia sembuh dan keluar dari rumah sakit, dia ingin mengadakan jamuan makan vegetarian untuk 20.000 orang. Karena dirawat di rumah sakit cukup lama, dia tidak tahu bahwa pertemuan publik sudah dilarang karena pandemi Covid-19. Saya menjelaskan situasi keadaan kepada ayah saya dan mengatakan bahwa para petugas medis dan pekerja garis depan lainnya telah bekerja keras sejak pandemi pecah untuk membantu memerangi pandemi tersebut. Saya menyarankan daripada mengadakan jamuan makan untuk 20.000 orang, lebih baik kami menyediakan 20.000 paket makanan vegetarian untuk para petugas medis, polisi, pemadam kebakaran, dan pekerja garis  depan lainnya untuk berterima-kasih atas kerja keras mereka. Ayah saya langsung setuju.
Itulah awal mula saya mulai berkerja sama dengan relawan lain untuk meluncurkan layanan makanan vegetarian. Saya meminta bantuan ahli gizi untuk merancang menu bagi proyek ini untuk memastikan bahwa menu makanan kami sehat, dan saya berhasil menemukan 11 restoran yang ingin bekerja sama dengan kami untuk menyiapkan makanan. Alhasil, saya menjalin hubungan baik dengan banyak koki karena proyek ini. Semua relawan Tzu Chi di seluruh Taiwan telah menyelenggarakan layanan makanan yang serupa untuk para pekerja garis depan sejak pandemi Covid-19 dimulai. 

Ou Yu Jing, seorang relawan Tzu Chi di Kaoshiung, membantu meluncurkan Tantangan 21 Hari Bervegetarian di Taiwan.

Namun, ketika saya melihat kembali proyek tersebut, saya mulai bertanya-tanya apakah upaya kami mempromosikan pola makan vegetarian efektif. Apakah orang-orang benar-benar beralih ke pola makan vegetarian hanya karena mereka makan beberapa kotak makanan vegetarian yang kami kirimkan ? Itulah kenapa minat saya terusik ketika saya mengetahui bahwa pada bulan Juni tahun ini, tantangan Healthier Me 21-Day Challenge diluncurkan oleh relawan kami di Malaysia.
Saya selalu ingin mencoba hal baru. Saya pernah mengambil cuti selama seminggu dari pekerjaan saya untuk berpartisipasi di sebuah camp yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan seseorang melalui diet yang direncanakan. Relawan Tzu Chi Malaysia yang memulai tantangan Healthier Me 21-Day Challenge juga membantu orang lain untuk menjadi lebih sehat melalui diet terencana. Tetapi berbeda dengan camp yang saya ikuti, peserta tantangan Healthier Me 21-Day Challenge bisa tetap melakukan rutinitas harian mereka seperti biasa sambil menjaga pola makan mereka. Seorang relawan mengatakan kepada saya bahwa tantangan Healtheir Me 21-Day Challenge tersebut seperti versi upgrade dari tantangan yang kami luncurkan. Saya setuju dan memutuskan bahwa mengorganisir tantangan seperti itu tidak akan sulit. Jadi, saya mulai bekerja.

Ou Yu Jing dan relawan Tzu Chi Cai Ya Chun (kanan) sering mengunjungi restoran yang berpartisipasi dalam program diet untuk membicarakan menu program.

Lebih sulit dari yang dibayangkan

Beberapa hari kemudian, saya mengundang orang-orang dari 6 restoran untuk bertemu secara online dengan saya dan dengan para relawan Tzu Chi di Malaysia untuk belajar lebih lanjut tentang tantangan makan sehat tersebut. Sangat mengejutkan saya, beberapa koki menolak untuk bergabung ketika mereka mengetahui tentang batasan-batasan yang harus mereka ikuti selama mempersiapkan makanan. Batasan-batasan tersebut termasuk : tidak boleh menggoreng, menggoreng dengan cara deep-frying, atau stir-frying, dan hanya boleh memakai sedikit sekali minyak goreng, garam, dan gula. Selain itu, makanan olahan juga dilarang. Salah seorang koki segera berkata,” Tidak mungkin restoran saya bisa memasak dengan cara seperti ini.” Keesokkan harinya, koki yang satu lagi berkata,” Apa yang anda usulkan terdengar sepeti menu Kaiseki Ryori (sebuah menu masakan Jepang). Itu terlalu sulit bagi kami.”
Pada akhirnya, hanya 3 restoran yang setuju untuk mengikuti tantangan.
Saya sangat berterima-kasih kepada restoran-restoran tersebut. Saya juga tergerak ketika para koki yang berpartisipasi berbagi tips satu sama lain untuk menyiapkan hidangan yang memenuhi kritieria kami dan rasanya tetap enak. Sebagai contoh, Hu Cai-bin, seorang koki masakan Jepang, pernah bertanya di grup percakapan kami,” Bagaimana anda memasak nasi merah agare rasanya lebih enak?” Dileepkumar Vasantrao, koki masakan ala India, langsung menanggapinya dengan menelpon langsung dan berbagi beberapa trik dengannya. Setelah itu, Hu berkata bahwa nasi merahnya menjadi lebih enak.
Contoh serupa lainnya juga meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Waktu itu, Hu berkata,” Oh, tidak! Masakan Jepang menekankan pemakaian banyak gula, sedangkan makanan kami tidak boleh memakai gula buatan. Kami harus memakai bahan-bahan alami sebagai gantinya. Apa yang harus saya lakukan?” Vasantrao segera memberitahu bahwa,” Ibu saya mengajari saya jika anda memasak bawang merah lebih lama, akan keluar rasa manisnya. Anda tidak perlu menambahkan setetes airpun.” Beberapa hari kemudian, Vasantrao membuat sebuah video menunjukkan bagaimana dia merebus bawang merah untuk mengeluarkan gula alami didalamnya.
Saat pertama kami bergabung dengan kami, Chef Hu sering menemui tantangan saat mencoba menyiapkan jenis makanan yang kami inginkan. Karena persyaratan program, Chef Hu tidak boleh menggunakan banyak saus dan bumbu yang biasa dia gunakan sebagai koki masakan Jepang. Dia merasa sangat dibatasi. Suatu kali saya bertanya kepadanya apakah dia bisa membuat sushi untuk program kami. Dia tampak sedikit bingung dan menjelaskan bahwa diperlukan cuka untuk menyiapkan nasi untuk sushi, tetapi karena sebagian besar cuka yang dijual memiliki kandungan gula buatan yang tinggi, sehingga tidak dapat digunakan dalam program kami. Ketika koki lain mengetahui kesulitan yang dialami oleh Chef Hu, salah satu dari mereka memberitahu dia bahwa,” Anda bisa menggunakan lemon sebagai ganti cuka.” Saya merasa sangat beruntung dan bersyukur bisa bekerja sama dengan sekelompok koki yang sangat ingin berbagi apa yang mereka tahu dengan orang lain, yang tidak gentar oleh tantangan, dan yang mau mencoba dan mempelajari hal-hal yang baru.

Lebih dari sekedar manfaat untuk kesehatan
Ketika peserta program datang untuk mengambil makanan mereka, saya bertanya kepada mereka,” Apa pendapat anda tentang makanannya?” atau “Apakah tubuh anda mengalami perubahan?” Beberapa mengatakan kepada saya bahwa ada terlalu banyak nasi di kotak makanan mereka dan mereka tidak bisa menghabiskannya. Saya memberitahu mereka bahwa saya juga punya nafsu makan yang sedikit dan seperti mereka, saya juga tidak bisa menghabiskan semua nasinya. Kemudian saya berbagi solusi saya kepada mereka : bahwa saya akan memakan separuh nasi merahnya, dan menyimpan sisanya di freezer. Kemudian, keesokkan harinya, saya akan memasak sisa nasi merahnya dengan kacang mete atau kurma cina. Itu cara yang lezat untuk menghabiskan sisa makanan.
Terlepas dari komentar terlalu banyak nasi di dalam kotak makanan, setiap peserta memberi tanggapan yang positif. Salah satunya bahkan berkata kepada saya, hanya 2 atau 3 hari setelah bergabung dalam program, bahwa dia menjadi lebih ringan dan lebih gesit, dan juga buang air besar menjadi lebih mudah. Seorang peserta lain dulu harus meminum obat tidur untuk membantunya tidur, tetapi setelah memakan menu makanan kami dia berkata bahwa sekarang dia tidur sangat nyenyak, tanpa harus menggunakan obat tidur.
Seorang pemilik restoran juga mengikuti program kami karena ingin mencoba makanan yang disiapkan oleh restoran yang berpartisipasi. Sangat mengejutkan baginya, dia kehilangan berat badan sebanyak 8 kilogram setelah iktu dalam 2 putaran tantangan. Wajahnya menjadi lebih ramping, dan sosoknya berubah lebih baik. Saya menggodanya tentang hal itu dengan berkata,” Kamu jadi kelihatan lebih tampan!”
Saya percaya bahwa program makan vegetarian yang kami promosikan mungkin membuktikan cara yang lebih baik dan efektif untuk membuat lebih banyak orang menjadi vegetarian. Sekali seseorang mencoba diet tersebut dan mengalami peningkatan kesehatan mereka dan banyak keuntungan yang menyertainya, mereka akan lebih mau menjalani pola makan vegetarian untuk jangka panjang. Ketika semua sudah diucapkan dan dilaksanakan, siapa yang tidak ingin menjadi lebih sehat ?

Sumber : www.tzuchi.org.sg,
Dinarasikan oleh : Ou Yu-jing,
Diwawancarai dan ditulis oleh : Liao Zhe-min,
Foto oleh : Huang Xiao-zhe,
Editor : Wu Hsiao-ting,
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh : Wu Hsiao-ting,
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin