Cak Imin Apresiasi Tzu Chi School: Pendidikan Berkarakter dan Humanis Jadi Panutan
Ada yang berbeda di kawasan Tzu Chi Center siang itu, Selasa, 22 April 2025. Di tengah kesibukan aktivitas belajar-mengajar, Tzu Chi School kedatangan tamu istimewa: Muhaimin Iskandar, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia. Dengan langkah mantap dan senyum ramah, Muahaimin beserta rombongan menyusuri lorong-lorong sekolah, menyimak penjelasan, serta menyerap setiap detail, mulai dari kurikulum hingga nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan di sana.
“Ini luar biasa,” ungkapnya dengan mata berbinar. “Saya banyak belajar hari ini, mulai dari filosofi kehidupan, pengabdian, hingga bagaimana karakter dibentuk lewat pendidikan. Inilah yang dibutuhkan bangsa kita, pendidikan yang membentuk akhlak, karakter, dan mental, bukan sekadar kecerdasan dan keahlian,” ujar Menteri yang akrab disapa Cak Imin ini.
“Ini luar biasa,” ungkapnya dengan mata berbinar. “Saya banyak belajar hari ini, mulai dari filosofi kehidupan, pengabdian, hingga bagaimana karakter dibentuk lewat pendidikan. Inilah yang dibutuhkan bangsa kita, pendidikan yang membentuk akhlak, karakter, dan mental, bukan sekadar kecerdasan dan keahlian,” ujar Menteri yang akrab disapa Cak Imin ini.
Kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia dan rombongan bukan sekadar kehadiran semata. Di baliknya, ada harapan besar untuk memajukan pendidikan anak bangsa. Cak Imin menyadari bahwa Indonesia memiliki ribuan pesantren dan lembaga pendidikan yang terus tumbuh. Namun, pertumbuhan saja tidak cukup. Ia menginginkan kualitas yang menyentuh sisi intelektual dan spiritual, agar nantinya menghasilkan lulusan yang mampu memajukan bangsa.
“Kita harus terus belajar. Saya bertanggung jawab atas puluhan ribu pesantren di tanah air. Kita harus melihat dan meniru yang sudah berhasil,” katanya, menegaskan pentingnya menjadikan pengalaman sukses sebagai panutan.
“Kita harus terus belajar. Saya bertanggung jawab atas puluhan ribu pesantren di tanah air. Kita harus melihat dan meniru yang sudah berhasil,” katanya, menegaskan pentingnya menjadikan pengalaman sukses sebagai panutan.
Salah satu hal yang paling menginspirasi dari kunjungan ini, menurut Cak Imin, adalah bagaimana Tzu Chi School mampu menyeimbangkan kualitas bertaraf internasional dengan akar budaya lokal. Ia menyampaikan bahwa kita boleh memiliki kapasitas global, namun tidak boleh terputus dari akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaan, karena hal tersebut merupakan esensinya. “Bersaing secara global itu penting, tapi jangan kehilangan jati diri. Tujuan dari ilmu dan kapasitas itu ya untuk kemanusiaan,” tegasnya.
Ketika ditanya soal langkah selanjutnya, ia menyampaikan harapan sederhana namun mendalam: agar keberhasilan Tzu Chi School bisa menjadi sumber pertumbuhan bagi sekolah-sekolah lain. “Jadi, kemajuan di sini akan memiliki nilai lebih jika keunggulannya bisa ditularkan dan dinikmati oleh sekolah-sekolah lain yang masih tertinggal. Karena itu, saya berharap tempat ini terus mengembangkan pembinaan dan pengembangan, agar sekolah-sekolah lain di Indonesia juga bisa tumbuh, berkembang, dan semakin bermutu.”
Ketika ditanya soal langkah selanjutnya, ia menyampaikan harapan sederhana namun mendalam: agar keberhasilan Tzu Chi School bisa menjadi sumber pertumbuhan bagi sekolah-sekolah lain. “Jadi, kemajuan di sini akan memiliki nilai lebih jika keunggulannya bisa ditularkan dan dinikmati oleh sekolah-sekolah lain yang masih tertinggal. Karena itu, saya berharap tempat ini terus mengembangkan pembinaan dan pengembangan, agar sekolah-sekolah lain di Indonesia juga bisa tumbuh, berkembang, dan semakin bermutu.”
Andre, mewakili Eksternal Relation Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, menyampaikan bahwa kunjungan ini memperkuat semangat Yayasan Tzu Chi untuk menjadikan pendidikan humanis sebagai model yang bisa direplikasi secara luas.
“Kami senang sekali bisa menerima kunjungan ini. Semoga nilai-nilai pendidikan humanis yang kami terapkan bisa menjadi role model yang hidup—yang tidak hanya dilihat, tapi juga dirasakan dan dilanjutkan oleh lebih banyak pihak serta berbagai institusi pendidikan lainnya di Indonesia.”
“Kami senang sekali bisa menerima kunjungan ini. Semoga nilai-nilai pendidikan humanis yang kami terapkan bisa menjadi role model yang hidup—yang tidak hanya dilihat, tapi juga dirasakan dan dilanjutkan oleh lebih banyak pihak serta berbagai institusi pendidikan lainnya di Indonesia.”
Di tengah arus perubahan zaman, pendidikan yang menyentuh hati dan membentuk karakter adalah jati diri yang tak boleh hilang. Kunjungan ini menjadi jembatan penting antara pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, memperkuat kolaborasi dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan penuh welas asih.
Jurnalis : Metta Wulandari,
Fotografer : Metta Wulandari,
Editor : Anand Yahya.
Fotografer : Metta Wulandari,
Editor : Anand Yahya.