Cinta Kasih yang Terus Berkembang di Cikadu
Cinta kasih yang murni tak lekang oleh waktu. Ia terus tumbuh dan berkembang, menjadi dorongan untuk menolong sesama. Pada tahun 2007, jalinan kasih itu dimulai saat Tzu Chi Bandung menjalin kerja sama dengan sebuah sekolah dasar di Desa Cikadu. Saat itu, sekolah tersebut sedang mengalami kerusakan, dan Tzu Chi pun merenovasinya. Kini, sekolah itu telah berdiri kokoh dengan nama Sekolah Dasar Negeri Cinta Kasih Cikadu, mengantar para muridnya menapaki jalan menuju cita-cita.
Jalinan jodoh tersebut tak berhenti sampai di situ. Pada Minggu, 26 Juni 2025, Tzu Chi Bandung kembali hadir dengan mengadakan bakti sosial kesehatan. Dalam kegiatan ini, warga sekitar dan pihak sekolah mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan umum, gigi, dan mata secara gratis. Kegiatan ini disambut baik oleh Agus Teteng Kurnia, Kepala Sekolah SDN Cinta Kasih Cikadu.
Jalinan jodoh tersebut tak berhenti sampai di situ. Pada Minggu, 26 Juni 2025, Tzu Chi Bandung kembali hadir dengan mengadakan bakti sosial kesehatan. Dalam kegiatan ini, warga sekitar dan pihak sekolah mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan umum, gigi, dan mata secara gratis. Kegiatan ini disambut baik oleh Agus Teteng Kurnia, Kepala Sekolah SDN Cinta Kasih Cikadu.
Agus Teteng menyampaikan bahwa kegiatan pengobatan gratis yang diselenggarakan hari itu sangat membantu warga Cikadu, khususnya para orang tua dan siswa yang bersekolah di SDN Cinta Kasih Cikadu. Ia mengungkapkan rasa terima kasih dan kebahagiaannya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Alhamdulillah, ada beberapa warga yang sedang sakit, bahkan ada yang kondisinya cukup parah dan sudah keluar-masuk berobat. Tapi kini sudah ditangani, bahkan kemarin sempat didatangi langsung oleh Tzu Chi,” ucap Agus Teteng.
Meski baru menjabat 11 bulan menjadi kepala sekolah, namun Agus Teteng menjadi salah satu saksi bagaimana jaliinan jodoh Tzu Chi dengan Sekolah di masa itu. “Saya tahu pembangunan sekolah ini dulu yang hancur dan anak-anak sulit bersekolah, Tzu Chi datang membawa harapan dan membangun sekolah ini meski 2008 saya baru masuk menjadi guru olahraga, tapi saya tahu bagamana pada masa itu,” tambahnya.
Meski baru menjabat 11 bulan menjadi kepala sekolah, namun Agus Teteng menjadi salah satu saksi bagaimana jaliinan jodoh Tzu Chi dengan Sekolah di masa itu. “Saya tahu pembangunan sekolah ini dulu yang hancur dan anak-anak sulit bersekolah, Tzu Chi datang membawa harapan dan membangun sekolah ini meski 2008 saya baru masuk menjadi guru olahraga, tapi saya tahu bagamana pada masa itu,” tambahnya.
Sebanyak 539 warga menerima pelayanan kesehatan ini. Salah satunya adalah Ida Widyaningsih, warga Kampung Nanggewer, Desa Cikadu, yang turut memeriksakan kesehatannya. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya pelayanan kesehatan ini, apalagi fasilitas kesehatan di wilayahnya cukup jauh dan memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk bisa berobat.
“Alhamdulillah, saya senang sekali bisa berobat di sini. Tempatnya dekat dari rumah saya, dan pelayanannya pun bagus, para dokternya ramah-ramah. Soalnya pengobatan itu penting sekali untuk usia seperti saya, harus rutin cek kesehatan, begitu juga warga-warga di sini. Kegiatan ini sangat memudahkan kami sebagai masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas pengobatan,” ujar Ida Widyaningsih.
Bakti sosial kesehatan ini tidak lepas dari peran tim medis Tzu Chi, atau yang dikenal dengan TIMA (Tzu Chi International Medical Association), yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik dan mengabdikan ilmu mereka untuk menebar cinta kasih. Meski memberikan pelayanan kesehatan adalah bagian dari keseharian mereka, namun saat terlibat dalam kegiatan misi amal seperti ini, selalu ada cerita dan pengalaman yang berbeda dan berkesan.
“Alhamdulillah, saya senang sekali bisa berobat di sini. Tempatnya dekat dari rumah saya, dan pelayanannya pun bagus, para dokternya ramah-ramah. Soalnya pengobatan itu penting sekali untuk usia seperti saya, harus rutin cek kesehatan, begitu juga warga-warga di sini. Kegiatan ini sangat memudahkan kami sebagai masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas pengobatan,” ujar Ida Widyaningsih.
Bakti sosial kesehatan ini tidak lepas dari peran tim medis Tzu Chi, atau yang dikenal dengan TIMA (Tzu Chi International Medical Association), yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik dan mengabdikan ilmu mereka untuk menebar cinta kasih. Meski memberikan pelayanan kesehatan adalah bagian dari keseharian mereka, namun saat terlibat dalam kegiatan misi amal seperti ini, selalu ada cerita dan pengalaman yang berbeda dan berkesan.
Seperti yang dirasakan oleh dr. Henny Rochani S. Notosuyidno, seorang dokter spesialis patologi klinik yang telah bergabung di Tzu Chi sejak tahun 2013, membagikan pengalamannya selama mengikuti kegiatan bakti sosial. Ia mengatakan bahwa memeriksa pasien adalah hal yang biasa dilakukannya setiap hari. Namun, menurutnya, kegiatan bakti sosial memiliki nuansa yang berbeda.
“Memeriksa pasien itu sudah hal yang biasa, nggak aneh, karena tiap hari juga begitu. Tapi kalau bakti sosial seperti ini rasanya beda, bisa ketemu warga yang datang bukan hanya dengan keluhan kesehatan, tapi kadang juga curhat soal hal-hal lain,” cerita dr. Henny.
Ia mengaku selalu merasa bahagia setiap kali terlibat dalam kegiatan seperti ini. Baginya, bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain dan berbuat baik dengan ilmu yang dimilikinya sebagai seorang dokter adalah pengalaman yang sangat berharga.
“Memeriksa pasien itu sudah hal yang biasa, nggak aneh, karena tiap hari juga begitu. Tapi kalau bakti sosial seperti ini rasanya beda, bisa ketemu warga yang datang bukan hanya dengan keluhan kesehatan, tapi kadang juga curhat soal hal-hal lain,” cerita dr. Henny.
Ia mengaku selalu merasa bahagia setiap kali terlibat dalam kegiatan seperti ini. Baginya, bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain dan berbuat baik dengan ilmu yang dimilikinya sebagai seorang dokter adalah pengalaman yang sangat berharga.
Menurut dr. Henny, kegiatan bakti sosial yang rutin dilakukan oleh TIMA selalu memberikan kebahagiaan tersendiri baginya karena ia bisa berbagi ilmu dan merasa berguna bagi sesama.
“TIMA selalu mengadakan bakti sosial, dan itu membuat saya berbahagia karena bisa berbagi ilmu. Saya merasa diperlukan oleh orang lain, karena yang terbaik bagi manusia adalah menjadi berguna bagi sesama. Itu yang paling utama. Maka dari itu, saya selalu berusaha ikut dalam setiap bakti sosial. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya juga sangat baik. Mereka sudah menyadari pentingnya arti kesehatan, dan saya sangat bahagia melihat hal itu,” ungkapnya.
Misi kesehatan Tzu Chi tidak hanya berfokus pada penyembuhan fisik, tetapi lebih dari itu. Dengan prinsip menyehatkan tubuh, menenangkan batin, dan memulihkan kehidupan, relawan Tzu Chi bekerja dengan hati, menanamkan benih cinta kasih dalam setiap tindakan.
Jurnalis : Rizki Hermadinata (Tzu Chi Bandung),
Fotografer : Muhammad Dayar (Tzu Chi Bandung),
Editor : Metta Wulandari.
“TIMA selalu mengadakan bakti sosial, dan itu membuat saya berbahagia karena bisa berbagi ilmu. Saya merasa diperlukan oleh orang lain, karena yang terbaik bagi manusia adalah menjadi berguna bagi sesama. Itu yang paling utama. Maka dari itu, saya selalu berusaha ikut dalam setiap bakti sosial. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya juga sangat baik. Mereka sudah menyadari pentingnya arti kesehatan, dan saya sangat bahagia melihat hal itu,” ungkapnya.
Misi kesehatan Tzu Chi tidak hanya berfokus pada penyembuhan fisik, tetapi lebih dari itu. Dengan prinsip menyehatkan tubuh, menenangkan batin, dan memulihkan kehidupan, relawan Tzu Chi bekerja dengan hati, menanamkan benih cinta kasih dalam setiap tindakan.
Jurnalis : Rizki Hermadinata (Tzu Chi Bandung),
Fotografer : Muhammad Dayar (Tzu Chi Bandung),
Editor : Metta Wulandari.